Mengembangkan Literasi di Sebuah Kelas di Pelosok Indonesia Bagian Barat

1

Buku adalah sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan dan membaca buku sama dengan membuka jendela dunia. Beberapa minggu yang lalu, saya membaca sebuah quote dari Robert Downs dalam bukunya yang berjudul in My Life, dua kekuatan yang berhasil mempengaruhi pendidikan manusia: seni dan sains. Keduanya bertemu dalam buku.

Berhubungan dengan buku, saya baru mengenal banyak judul buku dan jenis-jenis buku saat saya kuliah di Yogyakarta. Dari kecil sampai SMA, saya tinggal di Gunungsitoli, Pulau Nias, Sumatra Utara. Karena tinggal di sebuah pulau kecil yang sangat jauh dari ibu kota dan di tempat saya tinggal dari dulu sampai sekarang tidak ada sama sekali yang namanya toko buku, seperti Toko Buku Togamas atau Toko Buku Andi Offset buku yang saya bisa baca sangat dikit, meskipun saya mempunyai hobi membaca.

Saya masih ingat dulu, bahan bacaan anak yang saya selalu tunggu setiap bulan adalah buku cerita rakyat bergambar yang ada di dalam kotak susu dancow. Selebihnya untuk bisa membaca buku-buku, saya meminjam kepada teman, walaupun sekarang saya baru sadar buku-buku bacaan yang saya pinnjam dulunya  lebih pantas dibaca oleh orang dewasa.

Setelah tamat SMA, saya kuliah jurusan sastra Inggris di sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Yogyakarta. Di kota pendidikan inilah saya banyak membaca buku. Pada tahun ketiga saya kuliah, saya menjadi volunteer di sebuah perpustakaan anak, Bledug Mrapi, Nandan. Di tempat ini saya banyak belajar dari teman-teman mahasiswa dari UGM, UIN, UII yang juga sama-sama volunteer di perpustakaan ini.

Dari hasil diskusi dengan mereka, saya mempunyai mimpi suatu hari kelak, ketika pulang kampung saya ingin membuat sebuah perpustakaan mini dan mendorong anak-anak nias untuk membaca. Impian saya ini sempat saya ceritakan kepada pemilik perpustakaan Bledug Mrapi, ia sangat mendukung niat baik ini. Beberapa kali ia sempat menyumbangkan buku ke Pulau Nias melalui saya. Untuk lebih lengkap cerita saya tentang mengirim buku-buku di, bisa klik link ini https://www.kompasiana.com/iwan02/melahirkan-generasi-anak-pulau-nias-yang-tak-buta-ilmu-pengetahuan_5743a1ba707e6120048b4583

Singkat cerita, setelah 6 tahun berada di Yogyakarta, saya memutuskan untuk pulang kampung. Beberapa bulan di Gunungsitoli, tepatnya bulan 7 tahun 2017, saya keterima menjadi guru bahasa asing di kelas 10 Usaha Perjalanan Wisata (UPW), SMK Negeri 1 Dharma Caraka Gunungsitoli Selatan yang beralamat di jalan arah pelud Binaka KM.09, Onamolo I Lot, Kecamatan Gunungsitoli Selatan.

Setelah 3 minggu saya mengajar di sekolah ini. Saya memberikan tugas kerja kelompok kepada para siswa kelas 10 UPW. Satu minggu kemudian dari waktu yang telah ditentukan untuk mereka presentasi akhirnya tiba. Saya sangat terkejut hanya 1 dari 3 kelompok yang mengerjakan. 2 kelompok yang belum mengerjakan memberikan alasan kepada saya, pak kami binggung menulis paper dan susah mencari bahan.

Oleh karenanya, saya mengajak mereka ke perpustakaan sekolah, tetapi beberapa siswa mengatakan kepada saya, “Pak perpustakaan tidak pernah dibuka”.  Untuk memastikan informasi dari siswa ini, sayapun menanyakan kepada beberapa teman guru. Dari teman-teman guru, saya mendapatkan informasi bahwa benar yang dikatakan oleh beberapa siswa perpustakaan sangat jarang dibuka. Selain itu juga, pegawai yang mengurus perpustakaan bukan pegawai perpustakaan atau pustakawan yang dipekerjakan oleh sekolah, tetapi guru agama yang merangkap sebagai yang mengurus perpustakaan.

Dari pengalaman diatas dan didorong oleh impian saya ketika masih di Yogyakarta. Saya mencoba berdiskusi dengan Ka. Prodi jurusan Usaha Perjalanan Wisata (UPW), dia pun sangat setuju karena salah satu kurikulum K-13 adalah mengembangkan literasi. Lalu, saya menyuruh para siswa kelas 10 UPW untuk membuat rak buk. Beberapa minggu, saya tunggu rak buku tidak selesai. Sayapun inisiatif sendiri untuk membuat demi mereka.

Setelah rak buku ada, permasalahan yang saya hadapi seterusnya adalah buku-buku yang diisi dalam perpustakaan mini tersebut. Kemudian saya mengusulkan kepada salah seorang untuk untuk masing-masing kami guru yang mengajar di UPW menyumbang buku dan anak-anak juga menyumbang buku-buku. 1 minggu kemudian buku akhirnya terkumpul, tetapi buku-buku yang terkumpul tidak membuat para siswa tertarik untuk membacanya

Dari semua judul buku-buku yang ada di perpustakaan mini kelas 10 UPW kebanyakan merupakan buku-buku lama.  Tetapi, bagaimana lagi mendapatkan buku-buku terbaru di Pulau Nias sangat susah. Kebanyakan buku-buku di nias di pesan dari luar daerah Nias.

Beberapa kali, saya mengajar para siswa tidak pernah membaca buku-buku yang ada di pojok mini perpustakaan. Ada beberapa faktor para siswa malas membaca, yaitu: 1. Buku-buku yang ada di perpustakaan mini tidak menarik untuk dibaca. 2. Rata-rata para siswa kelas 10 UPW berasal dari latar belakang keluarga menengah ke bawah, yang membeli buku bacaan tidak mampu. 3. Para siswa kelas 10 UPW berasal dari SMP yang tidak didorong untuk mengembangkan budaya literasi (masalah umum di Pulau Nias). 4. Kebanyakan berasal dari Kabupaten Nias (salah satu daerah 3T).

Iming-iming nilai

1

Untuk mendorong para siswa kelas 10 UPW untuk membaca. Saya sedikit memberikan iming-iming hadiah berupa nilai. Pertama, saya menyuruh mereka untuk membaca buku yang ada di perpustakaan mini kelas selama 15 menit diawal jam pelajaran saya mengajar. Setelah mereka selesai membaca. Saya menggunakan waktu 5 menit untuk 2-3 siswa menceritakan kembali isi buku yang telah mereka baca di depan kelas. Tujuan saya melakukan ini. Supanya para siswa lain termotivasi untuk membaca buku yang diceritakan oleh siswa yang bercerita di depan kelas (Untuk menonton video siswa yang bercerita di depan kelas, bisa dilihat di https://www.facebook.com/jurusan.pariwisata.3).

2

(Ketika seorang siswa sedang menceritakan di depan kelas buku yang telah ia baca)

Sementara, bagi siswa yang tidak sempat bercerita di depan kelas. Mereka menulis atau mereview buku yang telah mereka baca. Kemudian, hasil review tersebut, ditempelkan di sebuah madinng yang berada di dinding depan kelas. Supanya, para siswa kelas 10 UPW bisa membaca hasil review temannya dan tertarik untuk membaca buku yang telah direview.

3

Umumnya di Pulau Nias budaya literasi sangat kurang. Anak-anak kurang tertarik dalam membaca. Sementara beberapa guru hanya mencoba mengerakan literasi karena termasuk dalam K13. Selain daripada itu, buku-buku yang bermutu di Nias sangatlah kurang. Akibatnya, bahan bacaan anak-anak yang suka membaca malah buku-buku dewasa. Oleh karenanya sudah saatnya di setiap daerah terpencil ditempatkan agen-agen literasi dengan pembinaan dari pusat. Supanya agen-agen literasi ini dapat memotivasi dan membagikan ilmu tentang cara membaca buku yang baik dan  mereview sebuah buku.

Itulah sepenggal cerita saya dari Pulau Nias untuk menyemangati para siswa kelas 10 UPW SMKN. 1 Dharma Caraka dalam hal membaca buku.

Advertisements

Masyarakat Desa Sifalagö, Nias Selatan yang Masih Belum Merdeka Seutuhnya

“Sedia berkorban untukmu…Pancasila dasar negara…Rakyat adil makmur sentosa…pribadi bangsaku”.

Itulah sepotong lirik lagu nasional Garuda Pancasila. Saya tertarik dengan kalimat dalam lirik ini yang berbunyi “rakyat adil makmur sentosa”. Tapi, ratusan ribu kilometer dari Jakarta tepatnya di Pulau Nias (pulau terluar Indonesia bagian barat) masih banyak masyarakatnya yang jauh dari kata adil makmur sentosa.

Saya mengatakan ini bukan tanpa alasan atau jangan-jangan saya dikatakan penyebar berita hoaks lagi, masa Indonesia yang kaya, sumber daya alamnya berlimpah-limpah, bisa-bisanya dikatakan masyarakatnya tidak makmur sentosa.

Baiklah daripada saya panjang lebar cerita. Melalui cerita saya ini nantinya, saya mengajak teman-teman untuk mengetahui kondisi salah satu desa yang ada di Kabupaten Nias Selatan.

Beberapa hari yang lalu saya bersama dengan beberapa teman di Desa Sifalagö. Secara adminstrasi desa ini termasuk dalam Kecamatan Huruna, Nias Selatan. Kami berangkat dari Gunungsitoli sekitar pukul 08.00 dan tiba di Kecamatan Huruna sekitar pukul 10.30. Selama perjalanan dari kecamatan sampai di Desa Sifalagö, saya bisa menyimpulkan desa ini belum merdeka. Saya mengatakan ini bukan tanpa alasan dengan pertimbangan tidak ada jaringan telkomsel, tidak ada listrik, akses jalan yang sangat buruk, dan sumber air yang hanya mengandalkan air hujan.

Untuk lebih detailnya, saya berusaha ingat kembali dan berusaha untuk menulisnya tadi malam. Beberapa masalah yang dihadapi oleh masyarakat Desa Sifalagö yang saya rangkum, yaitu:

Pendapatan yang sangat kecil
Bagi anak-anak yang hidup di Kota Metropolitan sekali nongkrong di starbuck bisa mengeluarkan uang sekitar 100-200 ribu. Buat kebanyakan masyarakat Desa Sifalagö mendapatkan uang sebesar itu harus menderes karet selama satu sampai dua minggu. Getah karet bagi masyarakat Desa Sifalagö adalah sumber penghasilan utama mereka.

Setiap rumah di Desa Sifalagö saat musim kemarau menghasilkan 10-20 kg perminggu (tergantung kekuatan setiap penyadap karet). Tetapi, ketika sedang musim hujan karet yang dihasilkan oleh masyarakat hanya sekitar 10 kg. Karena akses kendaraan tidak sampai di desa ini, maka harga getah karet hanya dihargai sekitar Rp. 5.000/kg. Bisa ditotalkan dalam seminggu berapa pendapatan setiap rumah tangga perminggu hanya sekitar Rp 50.00- 100.000, sementara setiap rumah terdiri dari 6-8 orang anggota keluarga.

Beberapa keluarga untuk mencukupi biaya kehidupan keluarga setiap hari harus mengutang terlebih dahulu di warung, kemudian dibayar ketika getah karet sudah terjual. Selain getah karet sebagai sumber penghasilan utama. Sumber penghasilan yang lain beberapa keluarga di Desa Sifalagö adalah coklat.

Beberapa orang ada yang tidak tahan dengan kondisi pendapatan yang sangat kecil ini, sedangkan pengeluaran setiap hari sangat besar. Mereka memutuskan untuk merantau keluar Pulau Nias. Beberapa diantaranya bekerja di perkebunan kelapa sawit di Tapanuli, Riau, dan beberapa daerah di daratan Pulau Sumatra.

Pendidikan yang masih buruk
Jika anak-anak di perkotaan setelah pulang sekolah pergi bermain atau pergi les. Kondisi yang terjadi di Desa Sifalagö sangatlah berbeda. Setelah pulang sekolah kebanyakan anak-anak membantu orangtua di kebun. Bahkan beberapa anak-anak membantu orangtua untuk memikul karet sejauh 6 km untuk dibawakan ke pengepul karet.

Sedangkan untuk mengenyam sekolah, di desa ini sudah terdapat satu sekolah dasar dan SMP satu atap. Sementara untuk SMA gedungnya masih dalam proses pembangunan. Anak-anak SMA untuk sementara harus menumpang ke salah satu sekolah.

Keadaan rumah yang sangat memprihatinkan
Selama saya dan beberapa teman berkunjung di beberapa rumah yang ada di Desa Sifalagö. Saya menemukan rumah yang masih beratap daun rumbia yang sudah bolong sana-sini, lantai rumah yang beralas tanah, 2 kamar yang berukuran sekitar 3×2 meter sementara anggota keluarga dalam rumah sekitar 6 orang. Ada satu rumah yang saya temui tidak memiliki kamar mandi.

Keadaan jalan yang buruk
Beberapa hari yang lalu saya bersama dengan beberapa teman pergi Desa Sifalagö untuk mengunjungi salah seorang  teman yang tinggal di desa ini. Singkat cerita, kami sampai di Kecamatan Huruna setelah melalui perjalanan kurang lebih 2,5 jam. Sebelum sampai ke Desa Sifalagö, kami harus melalui jalan yang sangat buruk, aspal jalan yang tidak bagus, dan bebatuan besar berserakan dimana-mana. Kalau tidak hati-hati motor bisa jatuh. Kurang lebih kami melalui jalan sepanjang 5 KM.

Motor tidak sampai di Desa Sifalago. Kami harus menitipkan motor kami di ujung jalan. Setelah menitipkan motor. Perjalanan kami dimulai. Pertama kami harus menyebrang sungai. Beruntung pada saat itu cuaca cerah. Seandainya cuaca tidak cerah pasti kami tidak bisa menyebrang karena arus sungai yang sangat deras.

Setelah menyebrang sungai. Petualanganpun dimulai. Jalan setapak kami harus lalui. Kondisi jalan  yang masih tanah jenis tanah liat dan beberapa bebatuan tempat berpijak kaki, saat hujan datang.  Kondisi jalan seperti itu kami harus lalui sejauh 3 km.

Semakin dekat dengan Desa Sifalagõ  kondisi jalan semakin parah. Medan jalan hanya tanah kuning hanya pada saat hujan membuat kaki terbenam. Bukan hanya itu saja, karena medan jalan yang naik turun membuat kami harus bersusah payah untuk mencapai Desa Sifalagõ.

Itulah sepintas salah satu kondisi desa di pulau saya tercinta. Keadaan seperti ini masih banyak ditemukan di pulau saya tercinta. Jika keadaannya demikian teman-teman pembaca bisa menyimpulkan sendiri, apakah Desa Sifalagö sudah merdeka atau belum?

 

 

Wisata Candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul

Setelah saya dan mas Dwiki selesai dari candi Sambisari. Kami melanjutkan mendayung sepeda kami kearah candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan bukit-bukit gunung yang sangat indah. Dikiri kanan-jalan yang kami lalui, terdapat hamparan tanaman tembakau dan sawah-swah yang siap di panen. Terkadang juga kami berpapasan dengan para petani yang baru selesai memanen hasil padinya. Saat berpasasan dengan mereka, kami saling bertegur sapa.

Tak terasa jarak dari candi Sambisari ke candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul sekitar 1 jam. Tapi perjalanan itu tidak terasa. Dengan keindahan alam yang sangat indah sepanjang perjalanan. Meskipun matahari sangat panas pada saat itu. Tapi angin sepoi-sepoi membuat kami tidak terasa capek sepanjang perjalanan. Oh ya, jika kita mengambil titik pertama perjalanan ke candi ini dari candi Prambanan. Maka jarak tempuh tidak sangat lama kira-kira jika menggunakan motor sekitar 10 menit atau dengan sepeda sekitar 20 menit sampai 30 menit. Saya menyarankan untuk menggunakan sepeda. Supanya bisa menikmati keindahan lereng merapi, hamparan pemandangan tembakau, dan kawanan burung-burung sawah.

Setelah kami memarkir sepeda di depan candi. Kami terlebih dahulu menulis identitas kami di pintu masuk, sambil membayar uang masuk Rp. 3.000,00. Setelah itu kami masuk ke lingkungan candi. Candi pertama yang kami kunjungi adalah candi Plaosan Lor. Candi-candi ini terbuat dari batu gamping yang berasal dari letusan gunung berapi. Tapi sayang akibat gempa 2006 dan letusan gunung berapi tahun 2010. Banyak batu gamping yang rusak. Kemudian batu ini diganti dengan batu bata yang didesain sedemikian rupa sama dengan bentuk aslinya.

Pas pertama kami masuk kedalam candi. Kami disuguhi dengan bentuk pintu candi yang sangat indah. Semua pintu masuk ke dalam bagian candi terbuat dari batu gamping. Sehingga jika di lihat dari luar candi, candi ini seperti goa. Kemudian kami masuk kedalam bagian tengah candi yang pada saat itu agak gelap. Terdapat pendopo yang menurut saya, kira-kira berukuran 21 m x 19 m. Setelah itu pada bagian tengah candi terdapat 3 altar. Pertama altar utara yaitu stupa Samantabadhara dan figur Ksitigarbha, altar barat terdapat gambar Manjusri, dan yang terakhir altar timur yang terdapat gambar Amitbha, Ratnasambhava, Vairochana, dan Aksobya.

IMG_20151103_110932

Setelah kami berkeliling melihat setiap ornament yang ada dalam candi sekitar 40 menit. Kami berpindah ke candi kesebelahnnya. Candi ini disebut candi Plaosan Kidul. Candi ini memiliki pendopo yang di bagian tengah yang dikelilingi 8 candi. Dari delapan candi ini terbagi menjadi 2 tingkat. Tiap-tiap tingkat candi terdiri dari 4 candi. Dalam candi ini terdapat gambar Tathagata Amitbha, Vajrapani dengan atribut vajra pada utpala serta Prajnaparamita yang dianggap sebagai “ibu dari semua Budha”. Beberapa gambar lain masih bisa dijumpai namun tidak pada tempat yang asli.

IMG_20151103_191831

Selain dari 2 candi utama, candi Plaosan Lord dan candi Plaosan Kidul. Komplek candi terdapat stupa perwara yang terlihat di semua sisi candi utama dan juga candi perwara yang lebih kecil. Secara keseluruhan dilingkungan candi terdapat 116 stupa perwara dan 50 candi. Selain candi-candi. Dilingkungan candi terdapat tempat penyimpanan stupa-stupa dan beberapa bagian candi yang sudah dibongkor. Disini saya bisa menemukan informasi kalau candi Plaosan di bangun oleh Wangsa Sailendra yang menganut agama Budha. Saya bisa menembak candi ini merupakan pengaruh dari agama budha, karena bentuk ornament-ornamen yang berbentuk khas bunga, dan patung-patung Budha yang berada dalam ruang penyimpanan.

IMG_20151103_090134

Tak terasa kami berkeliling candi sekitar 2 jam lebih lamanya. Karena pada hari itu matahari sudah sangat terik. Kami memutuskan untuk pulang. Setelah membanyar uang parkiran Rp 2.000,00. Kami pun mengakhiri wisata candi untuk hari ini.

Taman Ya’ahowu, Sebuah Taman Favorit bagi Masyarakat Kota Gunungsitoli

IMG_0153

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat mengelilingi pusat Kota Gunungsitoli dengan sepeda tua saya. Ketika sampai di depan Lapangan Merdeka, saya belok kanan dan lurus terus kearah pelabuhan lama. Setelah sampai area pelabuhan lama, saya merasa takjub melihat deretan lampu yang mirip dengan deretan lampu yang ada di Jalan Kartini, Salatiga atau Jalan Malioboro, Yogyakarta. Pelan-pelan saya mendayung sepeda saya sambil memandang ke arah taman. Saat itu saya tertarik dengan bentuk taman yang sangat luas dan berada di dekat pantai. Saya masih ingat sekitar 10 tahun yang lalu bagaimana bentuk taman yang sekarang ini. Dulu disebelah kiri taman sangat banyak ditumbuhi berbagai rumput, dan pada sore hari terkadang berjejeran kambing yang sedang memakan rumput atau ibu-ibu yang menjemur pakaian. Tapi, apa yang saya lihat sekarang ini sangat berbeda 180 derajat. Di bagian kiri dan kanan jalan tidak lagi ditumbuhi dengan berbagai rumput yang sangat lebat atau kambing-kambing yang sedang berjejeran. Malah yang ada di sebelah kanan taman terdapat jongging treck, kantin, dan jalur bagi para pengguna kursi roda.

Taman Ya’ahowu merupakan sebuah taman yang menjadi tempat favorit. Setiap sore menjelang malam Taman Ya’ahowu selalu dikunjungi oleh masyarakat Nias atau mereka yang hanya berlibur atau urusan dinas di Pulau Nias.

Beberapa bulan terakhir, saya beberapa kali berkunjung ke Taman Ya’ahowu bersama dengan beberapa teman atau terkadang ketika capek mendayung sepeda mengelilingi Kota Gunungsitoli pada sore hari. Saya beristirahat di taman ini. Setelah beberapa kali berkunjung ke taman ini, Ada beberapa keunikan dan keunggulan taman ini dibandingkan taman-taman yang lain yang ada di Kota Yogyakarta, Semarang, atau Salatiga, yaitu:

Letak Taman Ya’ahowu yang sangat bagus
Jika di kota-kota yang pernah saya kunjungi sebelumnya, sebuah taman terletak di tengah kota dan dikelilingi oleh berbagai bangunan-bangunan. Tetapi, letak Taman Ya’ahowu sangatlah berbeda, taman ini terletak dekat pantai dan langsung berhadapan dengan lautan. Karena letaknya berada di dekat pantai, pemerintah Kota Gunungsitoli membangun sebuah tempat tempat pemancingan. Biasanya setiap sore menjelang malam tempat ini sudah banyak dipenuhi oleh masyarakat yang hobi memancing ikan.

Selain itu juga, banyak masyarakat mengunjungi taman ini karena letaknya berada dekat pantai. Pada malam hari angin sepoi-sepoi yang datang dari laut adalah salah satu yang bisa dirasakan oleh setiap pengunjung. Malah terkadang beberapa kali, ketika saya sedang duduk di taman ini. Saya melihat satu atau dua buah kapal penumpang atau kapal barang yang ke Sibolga melintas.

Tersedia berbagai fasilitas yang memadai
Beberapa kali saya mengunjungi Taman Ya’ahowu saya tidak kesulitan menemukan tempat duduk. Di taman ini menurut saya fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah Kota Gunungsi hampir sama dengan taman-taman yang ada di Lapangan Pancasila, Salatiga atau Tunggu Muda, Semarang. Di setiap jarak 1-2 meter terdapat kursi panjang yang saling berhadapan. Semua kursi-kursi yang ada di taman ini terbuat dari semen. Menurut saya mungkin pemerintah kota membuat semua kursi di taman in berbahan semen, supanya tahan lama alias awet hehehe…

Bukan hanya kursi-kursi fasilitas yang ada di taman ini, tetapi terdapat juga sebuah panggung utama yang terletak ditengah taman. Kalau saya pikir-pikir, bentuk panggung ini tradisional sekali karena bentuk atap panggung hampir sama dengan bentuk atap rumah adat tradisional Nias bagian utara yaitu berbentuk bulat. Begitu juga dengan bahan atap panggung terbuat dari daun rumbia (mulai sulit ditemukan). Biasanya panggung yang berada ditengah lapangan dipergunakan pada saat acara-acara, seperti Pesta Ya’ahowu, Peringatan hari kemerdekaan, dll

Bagi lansia yang menggunakan tongkat atau kursi roda tidak usah kwatir jika ingin berkunjung ke Taman Ya’ahowu, karena di sebelah kiri taman terdapat jalur jalan yang permukaanya sedikit miring supanya kursi roda bisa naik. Sedangkan bagi yang menggunakan tongkat tidak usah kwatir juga, karena di sebelah kiri dan kanan jalur jalan yang sedikit miring terdapat besi tempat para pengguna tongkat dapat berpegangang.

Jika merasa capek berjalan kaki dari ujung ke ujung, di Taman Ya’ahowu juga terdapat sebuah kantin di sebelah sudut kiri taman. Biasanya terdapat berbagai jenis minuman soft drink, kopi, the dan aneka makanan ringan. Atau jika merasa tidak cocok dengan makanan di kantin yang ada di Taman Ya’ahowu. Persis di depan taman berjejer warung makan yang menyediakan berbagai makanan atau bagi yang hanya sekedar minum. Bisa memesan air kelapa muda segar yang terdapat di sebelah ujung kanan taman.

Tempat yang luas dan asri
Selama saya tinggal di Pulau Nias beberapa bulan ini. Saya tidak pernah mendapatkan informasi taman yang lebih luas dari Taman Ya’ahowu yang ada di Pulau Nias. Jika saya perkirakan dari ujung ke ujung kira-kira panjang taman sekitar 500 meter dan lebar sekitar 40-50 meter. Saya melihat hampir keseluruhan taman sudah di tata dengan baik. Di bagian tengah taman, sebagian sebelah kiri, dan jalur pejalan kaki sudah disusun dengan batu-batu susun berwarna merah.
Menurut saya selain luas, kedepannya Taman Ya’ahowu akan sangat asri karena sudah ditanami berbagai pepohonan yang kira-kira ukurannya 10-15 meter dan juga terdapat berbagai rumput hijau. Tetapi sayang disebelah kanan taman belum diurus dengan baik. Belum terdapat rumput-rumput hijau.

Secara keseluruhan Taman Ya’ahowu sudah bagus dan tertata dengan rapi. Tapi sayang masih banyak saya melihat tangan-tangan jahil yang membuat graffiti di beberapa bagian tembok di dalam Taman, dan beberapa masyarakat yang berkunjung ke taman belum sadar tentang pentingnya kebersihan. Di beberapa tempat masih ada bekas botol gelas aqua yang berserakan, kantong plastik, dan bungkus makananan. Semoga kedepannya masyarakat sadar dan memelihara Taman Ya’ahowu dengan baik.

Menelusuri Kehidupan Seorang Pemberontak

Saya tidak ingin jadi pohon bambu, tetapi menjadi pohok oak yang berani menentang angin.    Soe Hoe Gie.

Selama ini PKI selalu dianggap sebagai korban dari kebijakan Presiden Soeharto. Dalam setiap tulisan dan pendapat-pendapat Soe Hoe Gie. Kita bisa melihat PKI dalam versi lain.

Sampai sekarang ini. Saya belum pernah membaca opini dan biografi seorang mahasiswa seperti Soe Hoe Gie. Seorang yang berprofesi sebagai penulis dan dosen di Universitas Indonesia yang berani mengkritik orde lama dan orde baru. Dalam setiap tulisannya ia selalu berani, tegas, dan lugas menyampaikan pemikirannya dan kritiknya.

soe_hok_gie

Sumber foto: fitri2701.blogspot.com 

Kisah hidup sang pemberontak di angkat dilayar lebar dengan judul Gie. Dalam film diceritakan tentang tumbuhnya rasa pemberontakan dalam diri Gie sejak SMP. Saat itu, Gie tidak menerima nilai yang diberikan oleh guru sastranya. Ia mengangap guru sastra berlaku diskiriminasi kepadanya. Keponaan guru yang bodoh mendapatkan nilai yang lebih bagus dibandingkan nilai Gie.

Sejak kejadian di bangku SMP. Pemberontakan terus muncul didalam dirinya. Puncaknya saat Gie (Nicloas Saputra) kuliah di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Ia sering mengkritik sistem pemerintahan Demokrasi Pimpinan, dan Nasakom yang diciptakan oleh Soekarno.  Salah satunya kritiknya kepada Presiden Soekarno. Ia berpendapat sistem pemerintahan Soekarno tidak lebih dengan sistem kerajaan-kerajaan di Jawi pada masa lalu yang mempunyai tiga gelar yaitu: 1. Gelar Politik, kawula in tanah Jawi. 2. Militer, senahpati jala jawa. 3. Gelar agama, Syeh Sahdin ngabdul Rahman. Dalam bertindak, Presiden Soekarno mempunyai isteri banyak dan mendirikan kraton-kraton.

Kisah Asmara Seorang Pemberontak

Soe Hoe Gie tidak seeksterim Tan Malaka dalam pemerjuangkan nasib rakyat. Gie seperti mahasiswa pada umumnya. Pernah suka dan dicintai oleh 2 orang perempuan. Yang pertama yang ia cintai dan sampai akhir hayatnya pun ia tetap cinta adalah Ira (Sita Nursanti) seorang mahasiswi teman se-fakultas Gie.  Sayang Ira tidak pernah jujur dengan perasaanya kepada Gie.

Setelah lengsernya Soekarno. Kemudian digantikan oleh Soeharto. Sita (Wulan Guritno) yang merupakan adik fakultas Gie sangat mencinta Gie. Beberapa bulan pendekatan. Gie dan Sita menjalin cinta selama beberapa bulan. Sampai suatu saat Sita sadar bahwa Gie tidak benar-benar mencintainya.

Pada akhir cerita. Sebelum Gie mendangki Gunung Semeru. Ia mengirim surat kepada Ira. Di dalam suratnya. Ia mencurahkan segala perasaanya kepada Ira, dan ia sangat mencintai Ira dibandingkan Sita.

Jejak Politik Gie

Gie mempunyai filosofi dalam memperjuangkan rakyat “mahasiswa mempunyai keputusan walaupun sekecil-kecilnya. Di dasarkan pada keputusan-keputusan yang dewasa. Mereka harus menyatakan benar diatas kebenaran dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas nama ormas, atau golongan apapun”.

Prinsip itulah yang saya lihat dalam film ini terapkan. Meskipun Gie bergabung dengan GMS (Gerakan Mahasiswa Sosialis) yang didukung oleh Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan Soemitro. Ia tetap pada prinsipnya. Jika pemerintah salah. Ia akan mengkritisinya. Salah satu contohnya. Pada saat PSI sudah masuk kedalam pemerintahan. Ia mengkritisinya.

Bukan hanya itu bisa menilai kosistenya. Jaka (Doni Alamsyah), salah seorang mahasiswa UI, orator, dan anggota Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) mengajaknya untuk gabung di dalam PMKRI dengan tegas ia menolaknnya. Begitu juga pada saat Han (Thomas Nawilis). Sahabatnya sejak kecil. Mengajaknya untuk gabung ke dalam Partai Komunis. Dengan tegas ia menolaknnya juga. Karena Gie berpendapat untuk memperkuat posisinya sebagai Presiden. Soekarno harus bergabung ke Partai Komunis.

Detik-Detik Kematian Sang Pemberontak

Sebelum sang pemberontak sejati ini mengakhiri perjuangannya. Ia sempat menulis sebuah opini di sebuah koran. Dalam opini yang berjudul “Di Sekitar Pembunuhan Besar-besaran di Pulau Bali”. Gie menulis tentang para anggota PKI banyak dibunuh di Bali. Di Pulau Dewata ini sekitar 80 ribu orang jiwa mati. Kaum yang nasakom dulunya setelah masa orba menjadi masa yang sangat kontra, membangkaran, pemerkosaan mereka yang dituduh gerwani.

Si pemilik filosofi Pohon Oek itu sudah tiada lagi. Ia meninggal pada bulan Desember 1960 karena menghirup zat beracun di Gunung Semeru. Indahnya kematiannya. Ia menghebuskan nafas terakhirnya dipangkuan sahabat karibnya, teman seperjuangannya masa kuliah dulu, Herman Lantang.

Secara keseluruhan film ini menurut saya sangat bagus. Karena menceritakan sisi lain dari sejarah Indonesia, tentang karakter Soekarno yang orang banyak belum tahu, tentang Soemitro, dan tentunya keadaan orde baru pada masa itu. Menurut saya isi yang disodorkan dalam film ini sangatlah kompleks. Mulai dari zaman orde lama dan sampai zaman orde baru. Secara tidak langsung pemahaman saya tentang surat perintah sebelas maret (supersemar) kepada Soeharto berubah.