Masyarakat Desa Sifalagö, Nias Selatan yang Masih Belum Merdeka Seutuhnya

“Sedia berkorban untukmu…Pancasila dasar negara…Rakyat adil makmur sentosa…pribadi bangsaku”.

Itulah sepotong lirik lagu nasional Garuda Pancasila. Saya tertarik dengan kalimat dalam lirik ini yang berbunyi “rakyat adil makmur sentosa”. Tapi, ratusan ribu kilometer dari Jakarta tepatnya di Pulau Nias (pulau terluar Indonesia bagian barat) masih banyak masyarakatnya yang jauh dari kata adil makmur sentosa.

Saya mengatakan ini bukan tanpa alasan atau jangan-jangan saya dikatakan penyebar berita hoaks lagi, masa Indonesia yang kaya, sumber daya alamnya berlimpah-limpah, bisa-bisanya dikatakan masyarakatnya tidak makmur sentosa.

Baiklah daripada saya panjang lebar cerita. Melalui cerita saya ini nantinya, saya mengajak teman-teman untuk mengetahui kondisi salah satu desa yang ada di Kabupaten Nias Selatan.

Beberapa hari yang lalu saya bersama dengan beberapa teman di Desa Sifalagö. Secara adminstrasi desa ini termasuk dalam Kecamatan Huruna, Nias Selatan. Kami berangkat dari Gunungsitoli sekitar pukul 08.00 dan tiba di Kecamatan Huruna sekitar pukul 10.30. Selama perjalanan dari kecamatan sampai di Desa Sifalagö, saya bisa menyimpulkan desa ini belum merdeka. Saya mengatakan ini bukan tanpa alasan dengan pertimbangan tidak ada jaringan telkomsel, tidak ada listrik, akses jalan yang sangat buruk, dan sumber air yang hanya mengandalkan air hujan.

Untuk lebih detailnya, saya berusaha ingat kembali dan berusaha untuk menulisnya tadi malam. Beberapa masalah yang dihadapi oleh masyarakat Desa Sifalagö yang saya rangkum, yaitu:

Pendapatan yang sangat kecil
Bagi anak-anak yang hidup di Kota Metropolitan sekali nongkrong di starbuck bisa mengeluarkan uang sekitar 100-200 ribu. Buat kebanyakan masyarakat Desa Sifalagö mendapatkan uang sebesar itu harus menderes karet selama satu sampai dua minggu. Getah karet bagi masyarakat Desa Sifalagö adalah sumber penghasilan utama mereka.

Setiap rumah di Desa Sifalagö saat musim kemarau menghasilkan 10-20 kg perminggu (tergantung kekuatan setiap penyadap karet). Tetapi, ketika sedang musim hujan karet yang dihasilkan oleh masyarakat hanya sekitar 10 kg. Karena akses kendaraan tidak sampai di desa ini, maka harga getah karet hanya dihargai sekitar Rp. 5.000/kg. Bisa ditotalkan dalam seminggu berapa pendapatan setiap rumah tangga perminggu hanya sekitar Rp 50.00- 100.000, sementara setiap rumah terdiri dari 6-8 orang anggota keluarga.

Beberapa keluarga untuk mencukupi biaya kehidupan keluarga setiap hari harus mengutang terlebih dahulu di warung, kemudian dibayar ketika getah karet sudah terjual. Selain getah karet sebagai sumber penghasilan utama. Sumber penghasilan yang lain beberapa keluarga di Desa Sifalagö adalah coklat.

Beberapa orang ada yang tidak tahan dengan kondisi pendapatan yang sangat kecil ini, sedangkan pengeluaran setiap hari sangat besar. Mereka memutuskan untuk merantau keluar Pulau Nias. Beberapa diantaranya bekerja di perkebunan kelapa sawit di Tapanuli, Riau, dan beberapa daerah di daratan Pulau Sumatra.

Pendidikan yang masih buruk
Jika anak-anak di perkotaan setelah pulang sekolah pergi bermain atau pergi les. Kondisi yang terjadi di Desa Sifalagö sangatlah berbeda. Setelah pulang sekolah kebanyakan anak-anak membantu orangtua di kebun. Bahkan beberapa anak-anak membantu orangtua untuk memikul karet sejauh 6 km untuk dibawakan ke pengepul karet.

Sedangkan untuk mengenyam sekolah, di desa ini sudah terdapat satu sekolah dasar dan SMP satu atap. Sementara untuk SMA gedungnya masih dalam proses pembangunan. Anak-anak SMA untuk sementara harus menumpang ke salah satu sekolah.

Keadaan rumah yang sangat memprihatinkan
Selama saya dan beberapa teman berkunjung di beberapa rumah yang ada di Desa Sifalagö. Saya menemukan rumah yang masih beratap daun rumbia yang sudah bolong sana-sini, lantai rumah yang beralas tanah, 2 kamar yang berukuran sekitar 3×2 meter sementara anggota keluarga dalam rumah sekitar 6 orang. Ada satu rumah yang saya temui tidak memiliki kamar mandi.

Keadaan jalan yang buruk
Beberapa hari yang lalu saya bersama dengan beberapa teman pergi Desa Sifalagö untuk mengunjungi salah seorang  teman yang tinggal di desa ini. Singkat cerita, kami sampai di Kecamatan Huruna setelah melalui perjalanan kurang lebih 2,5 jam. Sebelum sampai ke Desa Sifalagö, kami harus melalui jalan yang sangat buruk, aspal jalan yang tidak bagus, dan bebatuan besar berserakan dimana-mana. Kalau tidak hati-hati motor bisa jatuh. Kurang lebih kami melalui jalan sepanjang 5 KM.

Motor tidak sampai di Desa Sifalago. Kami harus menitipkan motor kami di ujung jalan. Setelah menitipkan motor. Perjalanan kami dimulai. Pertama kami harus menyebrang sungai. Beruntung pada saat itu cuaca cerah. Seandainya cuaca tidak cerah pasti kami tidak bisa menyebrang karena arus sungai yang sangat deras.

Setelah menyebrang sungai. Petualanganpun dimulai. Jalan setapak kami harus lalui. Kondisi jalan  yang masih tanah jenis tanah liat dan beberapa bebatuan tempat berpijak kaki, saat hujan datang.  Kondisi jalan seperti itu kami harus lalui sejauh 3 km.

Semakin dekat dengan Desa Sifalagõ  kondisi jalan semakin parah. Medan jalan hanya tanah kuning hanya pada saat hujan membuat kaki terbenam. Bukan hanya itu saja, karena medan jalan yang naik turun membuat kami harus bersusah payah untuk mencapai Desa Sifalagõ.

Itulah sepintas salah satu kondisi desa di pulau saya tercinta. Keadaan seperti ini masih banyak ditemukan di pulau saya tercinta. Jika keadaannya demikian teman-teman pembaca bisa menyimpulkan sendiri, apakah Desa Sifalagö sudah merdeka atau belum?

 

 

Wisata Candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul

Setelah saya dan mas Dwiki selesai dari candi Sambisari. Kami melanjutkan mendayung sepeda kami kearah candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan bukit-bukit gunung yang sangat indah. Dikiri kanan-jalan yang kami lalui, terdapat hamparan tanaman tembakau dan sawah-swah yang siap di panen. Terkadang juga kami berpapasan dengan para petani yang baru selesai memanen hasil padinya. Saat berpasasan dengan mereka, kami saling bertegur sapa.

Tak terasa jarak dari candi Sambisari ke candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul sekitar 1 jam. Tapi perjalanan itu tidak terasa. Dengan keindahan alam yang sangat indah sepanjang perjalanan. Meskipun matahari sangat panas pada saat itu. Tapi angin sepoi-sepoi membuat kami tidak terasa capek sepanjang perjalanan. Oh ya, jika kita mengambil titik pertama perjalanan ke candi ini dari candi Prambanan. Maka jarak tempuh tidak sangat lama kira-kira jika menggunakan motor sekitar 10 menit atau dengan sepeda sekitar 20 menit sampai 30 menit. Saya menyarankan untuk menggunakan sepeda. Supanya bisa menikmati keindahan lereng merapi, hamparan pemandangan tembakau, dan kawanan burung-burung sawah.

Setelah kami memarkir sepeda di depan candi. Kami terlebih dahulu menulis identitas kami di pintu masuk, sambil membayar uang masuk Rp. 3.000,00. Setelah itu kami masuk ke lingkungan candi. Candi pertama yang kami kunjungi adalah candi Plaosan Lor. Candi-candi ini terbuat dari batu gamping yang berasal dari letusan gunung berapi. Tapi sayang akibat gempa 2006 dan letusan gunung berapi tahun 2010. Banyak batu gamping yang rusak. Kemudian batu ini diganti dengan batu bata yang didesain sedemikian rupa sama dengan bentuk aslinya.

Pas pertama kami masuk kedalam candi. Kami disuguhi dengan bentuk pintu candi yang sangat indah. Semua pintu masuk ke dalam bagian candi terbuat dari batu gamping. Sehingga jika di lihat dari luar candi, candi ini seperti goa. Kemudian kami masuk kedalam bagian tengah candi yang pada saat itu agak gelap. Terdapat pendopo yang menurut saya, kira-kira berukuran 21 m x 19 m. Setelah itu pada bagian tengah candi terdapat 3 altar. Pertama altar utara yaitu stupa Samantabadhara dan figur Ksitigarbha, altar barat terdapat gambar Manjusri, dan yang terakhir altar timur yang terdapat gambar Amitbha, Ratnasambhava, Vairochana, dan Aksobya.

IMG_20151103_110932

Setelah kami berkeliling melihat setiap ornament yang ada dalam candi sekitar 40 menit. Kami berpindah ke candi kesebelahnnya. Candi ini disebut candi Plaosan Kidul. Candi ini memiliki pendopo yang di bagian tengah yang dikelilingi 8 candi. Dari delapan candi ini terbagi menjadi 2 tingkat. Tiap-tiap tingkat candi terdiri dari 4 candi. Dalam candi ini terdapat gambar Tathagata Amitbha, Vajrapani dengan atribut vajra pada utpala serta Prajnaparamita yang dianggap sebagai “ibu dari semua Budha”. Beberapa gambar lain masih bisa dijumpai namun tidak pada tempat yang asli.

IMG_20151103_191831

Selain dari 2 candi utama, candi Plaosan Lord dan candi Plaosan Kidul. Komplek candi terdapat stupa perwara yang terlihat di semua sisi candi utama dan juga candi perwara yang lebih kecil. Secara keseluruhan dilingkungan candi terdapat 116 stupa perwara dan 50 candi. Selain candi-candi. Dilingkungan candi terdapat tempat penyimpanan stupa-stupa dan beberapa bagian candi yang sudah dibongkor. Disini saya bisa menemukan informasi kalau candi Plaosan di bangun oleh Wangsa Sailendra yang menganut agama Budha. Saya bisa menembak candi ini merupakan pengaruh dari agama budha, karena bentuk ornament-ornamen yang berbentuk khas bunga, dan patung-patung Budha yang berada dalam ruang penyimpanan.

IMG_20151103_090134

Tak terasa kami berkeliling candi sekitar 2 jam lebih lamanya. Karena pada hari itu matahari sudah sangat terik. Kami memutuskan untuk pulang. Setelah membanyar uang parkiran Rp 2.000,00. Kami pun mengakhiri wisata candi untuk hari ini.

6 Keuntungan Meminjam Uang di Credit Union

pinjaman-dana-di-Magelang-1

Semakin hari uang sangat dibutuhkan. Sekarang ini banyak orang sangat membutuhkan uang untuk keperluan mendesak, seperti membeli obat-obatan, kebutuhan sekolah anak, dll. Terkadang beberapa perusahaan simpan-pinjam atau orang-orang yang mempunyai harta berlebihan memanfaatkan keterdesakan masyarakat dengan memberikan pinjaman uang dengan bunga pinjaman yang sangat tinggi. Terkadang akibat bunga pinjaman yang sangat tinggi, peminjam tidak dapat mengangsur tiap bulan atau minggu uang pinjaman yang sebelumnya telah dipinjam. Ia hanya sibuk membanyar bunga setiap bulan atau minggu.

Supaya calon peminjam uang tidak terjebak dalam permainan para pengusaha atau perusahaan yang memberikan pinjaman. Sebaiknya, seorang yang lagi membutuhkan uang tahu  lembaga-lembaga simpan-pijam yang tidak memberatkan para nasabah atau orang yang meminjam uang.

Salah satu lembaga simpan pinjam yang menurut saya sangat bagus adalah Credit Union (CU). Berdasarkan pengalaman teman-teman saya yang ada di Kalimantan, Yogyakarta, dan keluarga saya sendiri yang pernah meminjam uang di CU, ada beberapa keuntungan yang mereka peroleh dari meminjam uang di Credit Union (CU), yaitu:

1. Bunga Pinjaman yang Rendah

Jika di beberapa bank bunga pinjaman dari awal meminjam sampai akhir sekitar 2% keatas. Berbeda dengan yang berlaku di Credit Union (CU), bunga uang pinjaman diawal meminjam sekitar 1,85%, tetapi semakin bulan pembayaran bunga dan uang pinjaman, maka bunga uang semakin berkurang. Tidak menutup kemungkinan pada akhir pembanyar bunga pinjaman hanya sekitar 0, 5 %.

2. Tidak Mempunyai Batas Pembayaran

Di beberapa perusahaan atau bank yang memberikan pinjaman, seseorang yang telah meminjam uang harus membayar angsuran pinjaman bersama dengan bunga pinjaman tiap bulan sampai batas yang ditentukan. Di Credit Union (CU) agak sedikit berbeda aturannya, bagi seorang nasabah CU yang mampu membayar pinjamannya secara keseluruhan pada bulan ke 6 dari jangka angsuran selama 2 tahun. Pihak CU memperbolehkannya dan ia hanya membayar nominal uang yang ia pinjam tanpa harus membayar bunga secara keseluruhan.

3. Sebagian Bunga Pinjaman Masuk ke Dalam Rekening Nasabah

Keuntungan yang diperoleh dari meminjam di Credit Union adalah hasil dari keseluruhan bunga pinjaman yang dibayar oleh nasabah yang meminjam akan masuk ke rekening nasabah sekitar 2-3%.

4. Tidak Mendapatkan Berbagai Potongan

Beberapa pengalaman yang anggota keluarga saya alami adalah ketika meminjam di bank sekitar 100 juta. Nominal uang yang dicairkan oleh bank tidak sepenuhnya 100 juta, tetapi sekitar 95 juta. Pemotongan pinjaman karena pajak, pontongan dari dinas terkait, dll.

Berbeda dengan di CU, jika seorang nasabah meminjam 100 juta, maka uang yang akan didapatkan oleh nasabah yang meminjam uang 100 juta juga.

 5. Tidak Terdapat Berbagai Potongan

Beberapa bank yang saya lihat selama ini, banyak memberlakukan potongan. Misalnya seorang PNS meminjam kredit di sebuah bank daerah sekitar 100 juta. Total yang ia dapatkan tidak bersih seratus 100 juta rupiah mungkin hanya sekitar 96 juta rupiah, karena mendapatkan berbagai potongan dari bank, dinas terkait, dll.

6. Proses Pecairan Dana Cepat

Beberapa bulan yang lalu, saudara saya meminjam uang di CU senilai 20 juta. Proses pencairan dana cepat hanya sekitar 3-4 hari.

Itulah beberapa keuntungan meminjam uang di CU. Saya menulis ini bukan berarti saya menjelek-jelekkan perusahaan simpan-pinjam. Tetapi, saya hanya memberikan pertimbangan bagi masyarakat terkhususnya golongan menengah-kebawah.

 

 

Sumber foto : situsmagelang.com

 

 

 

Malas Berpikir

18882007_1594232257268181_2104511552857963900_n

Beberapa bulan yang lalu ketika saya masih berada di kota yang menurut media dan pemerintah, salah satu provinsi yang paling toleran di Indonesia. Saya sering mendengar dari teman-teman yang sedang mencari kos, pertanyaan pertama yg selalu muncul ditanyakan oleh ibu pemilik kos, “mas asalnya darimana?”. Biasanya mahasiswa baru yang pertama datang dari kampung dengan polos menjawab “saya dari salah satu kota di daerah Indonesia Timur mbak”. Dengan sedikit wajah agak cuek, si ibu pemilik kos biasanya mengatakan “maaf mas kamar disini penuh semua”. Duka yang lain menjadi seorang anak kos, saat dari jauh seorang mahasiswa dengan wajah sangar, hitam pekat, dan keriting menanyakan kos. Sebelum pertanyaan dari mahasiswa ini selesai si pemilik kos sudah menjawab “maaf disini kamar penuh mas”.

Penolakan-penolakan seperti diatas bukan tanpa alasan, meskipun ada kamar kosong, tetapi si pemilik kos mengatakan kamar sudah penuh. Salah satu penolakan semacam ini terjadi, karena ditengah-tengah masyarakat sekitar kos beredar kabar daerah, mahasiswa dari kota Indonesia bagian timur suka buat onar. Bukan hanya itu saja terkadang mahasiswa yang hitam pekat, keriting, dan bersuara keras adalah orang yang mempunyai karakter buruk. Tak ada salah berandai-andai, seandainya pemilik kos berpikir tidak semua dari mahasiswa dari kota tersebut mempunyai karakter buruk. Pasti tidak adanya penolakan dan dendam terselubung. Kemalasan berpikir akan menimbulkan saling menghakimi dan membenci satu sama lain.

Waktu

Clock foto

Detik demi detik terus berdetak
Manusia bodoh terus diam dan memutar otak
Manusia bodoh hanya diam ditempat
Sambil menyebar konspirasi kau kafir, anjing, PKI di setiap sudut-sudu warung
Ucapan-ucapan itu bagi manusia produktif hanya sekedar angin berlalu

Tapi…

Manusia-manusia produktif sibuk bekerja dan berkarya
Manusia bodoh hanya bisa iri, dengki melihat mereka yang bekerja
Manusia bodoh tidak bisa menjual apa-apa
Selain jadi jongos kaum kapitalis
Kaum kapitalis yang butuh jasa mereka.

Manusia bodoh terus bodoh
Waktu terus berputar
Tapi kau manusia bodoh tetap menjadi babu kaum kapitalis
Manusia bodoh, kamu hanya menjadi virus di tengah masyarakat

 

Pukul : 1.30 wib

Gunungsitoli, 26 Mei 2017.