Mengembangkan Literasi di Sebuah Kelas di Pelosok Indonesia Bagian Barat

1

Buku adalah sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan dan membaca buku sama dengan membuka jendela dunia. Beberapa minggu yang lalu, saya membaca sebuah quote dari Robert Downs dalam bukunya yang berjudul in My Life, dua kekuatan yang berhasil mempengaruhi pendidikan manusia: seni dan sains. Keduanya bertemu dalam buku.

Berhubungan dengan buku, saya baru mengenal banyak judul buku dan jenis-jenis buku saat saya kuliah di Yogyakarta. Dari kecil sampai SMA, saya tinggal di Gunungsitoli, Pulau Nias, Sumatra Utara. Karena tinggal di sebuah pulau kecil yang sangat jauh dari ibu kota dan di tempat saya tinggal dari dulu sampai sekarang tidak ada sama sekali yang namanya toko buku, seperti Toko Buku Togamas atau Toko Buku Andi Offset buku yang saya bisa baca sangat dikit, meskipun saya mempunyai hobi membaca.

Saya masih ingat dulu, bahan bacaan anak yang saya selalu tunggu setiap bulan adalah buku cerita rakyat bergambar yang ada di dalam kotak susu dancow. Selebihnya untuk bisa membaca buku-buku, saya meminjam kepada teman, walaupun sekarang saya baru sadar buku-buku bacaan yang saya pinnjam dulunya  lebih pantas dibaca oleh orang dewasa.

Setelah tamat SMA, saya kuliah jurusan sastra Inggris di sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Yogyakarta. Di kota pendidikan inilah saya banyak membaca buku. Pada tahun ketiga saya kuliah, saya menjadi volunteer di sebuah perpustakaan anak, Bledug Mrapi, Nandan. Di tempat ini saya banyak belajar dari teman-teman mahasiswa dari UGM, UIN, UII yang juga sama-sama volunteer di perpustakaan ini.

Dari hasil diskusi dengan mereka, saya mempunyai mimpi suatu hari kelak, ketika pulang kampung saya ingin membuat sebuah perpustakaan mini dan mendorong anak-anak nias untuk membaca. Impian saya ini sempat saya ceritakan kepada pemilik perpustakaan Bledug Mrapi, ia sangat mendukung niat baik ini. Beberapa kali ia sempat menyumbangkan buku ke Pulau Nias melalui saya. Untuk lebih lengkap cerita saya tentang mengirim buku-buku di, bisa klik link ini https://www.kompasiana.com/iwan02/melahirkan-generasi-anak-pulau-nias-yang-tak-buta-ilmu-pengetahuan_5743a1ba707e6120048b4583

Singkat cerita, setelah 6 tahun berada di Yogyakarta, saya memutuskan untuk pulang kampung. Beberapa bulan di Gunungsitoli, tepatnya bulan 7 tahun 2017, saya keterima menjadi guru bahasa asing di kelas 10 Usaha Perjalanan Wisata (UPW), SMK Negeri 1 Dharma Caraka Gunungsitoli Selatan yang beralamat di jalan arah pelud Binaka KM.09, Onamolo I Lot, Kecamatan Gunungsitoli Selatan.

Setelah 3 minggu saya mengajar di sekolah ini. Saya memberikan tugas kerja kelompok kepada para siswa kelas 10 UPW. Satu minggu kemudian dari waktu yang telah ditentukan untuk mereka presentasi akhirnya tiba. Saya sangat terkejut hanya 1 dari 3 kelompok yang mengerjakan. 2 kelompok yang belum mengerjakan memberikan alasan kepada saya, pak kami binggung menulis paper dan susah mencari bahan.

Oleh karenanya, saya mengajak mereka ke perpustakaan sekolah, tetapi beberapa siswa mengatakan kepada saya, “Pak perpustakaan tidak pernah dibuka”.  Untuk memastikan informasi dari siswa ini, sayapun menanyakan kepada beberapa teman guru. Dari teman-teman guru, saya mendapatkan informasi bahwa benar yang dikatakan oleh beberapa siswa perpustakaan sangat jarang dibuka. Selain itu juga, pegawai yang mengurus perpustakaan bukan pegawai perpustakaan atau pustakawan yang dipekerjakan oleh sekolah, tetapi guru agama yang merangkap sebagai yang mengurus perpustakaan.

Dari pengalaman diatas dan didorong oleh impian saya ketika masih di Yogyakarta. Saya mencoba berdiskusi dengan Ka. Prodi jurusan Usaha Perjalanan Wisata (UPW), dia pun sangat setuju karena salah satu kurikulum K-13 adalah mengembangkan literasi. Lalu, saya menyuruh para siswa kelas 10 UPW untuk membuat rak buk. Beberapa minggu, saya tunggu rak buku tidak selesai. Sayapun inisiatif sendiri untuk membuat demi mereka.

Setelah rak buku ada, permasalahan yang saya hadapi seterusnya adalah buku-buku yang diisi dalam perpustakaan mini tersebut. Kemudian saya mengusulkan kepada salah seorang untuk untuk masing-masing kami guru yang mengajar di UPW menyumbang buku dan anak-anak juga menyumbang buku-buku. 1 minggu kemudian buku akhirnya terkumpul, tetapi buku-buku yang terkumpul tidak membuat para siswa tertarik untuk membacanya

Dari semua judul buku-buku yang ada di perpustakaan mini kelas 10 UPW kebanyakan merupakan buku-buku lama.  Tetapi, bagaimana lagi mendapatkan buku-buku terbaru di Pulau Nias sangat susah. Kebanyakan buku-buku di nias di pesan dari luar daerah Nias.

Beberapa kali, saya mengajar para siswa tidak pernah membaca buku-buku yang ada di pojok mini perpustakaan. Ada beberapa faktor para siswa malas membaca, yaitu: 1. Buku-buku yang ada di perpustakaan mini tidak menarik untuk dibaca. 2. Rata-rata para siswa kelas 10 UPW berasal dari latar belakang keluarga menengah ke bawah, yang membeli buku bacaan tidak mampu. 3. Para siswa kelas 10 UPW berasal dari SMP yang tidak didorong untuk mengembangkan budaya literasi (masalah umum di Pulau Nias). 4. Kebanyakan berasal dari Kabupaten Nias (salah satu daerah 3T).

Iming-iming nilai

1

Untuk mendorong para siswa kelas 10 UPW untuk membaca. Saya sedikit memberikan iming-iming hadiah berupa nilai. Pertama, saya menyuruh mereka untuk membaca buku yang ada di perpustakaan mini kelas selama 15 menit diawal jam pelajaran saya mengajar. Setelah mereka selesai membaca. Saya menggunakan waktu 5 menit untuk 2-3 siswa menceritakan kembali isi buku yang telah mereka baca di depan kelas. Tujuan saya melakukan ini. Supanya para siswa lain termotivasi untuk membaca buku yang diceritakan oleh siswa yang bercerita di depan kelas (Untuk menonton video siswa yang bercerita di depan kelas, bisa dilihat di https://www.facebook.com/jurusan.pariwisata.3).

2

(Ketika seorang siswa sedang menceritakan di depan kelas buku yang telah ia baca)

Sementara, bagi siswa yang tidak sempat bercerita di depan kelas. Mereka menulis atau mereview buku yang telah mereka baca. Kemudian, hasil review tersebut, ditempelkan di sebuah madinng yang berada di dinding depan kelas. Supanya, para siswa kelas 10 UPW bisa membaca hasil review temannya dan tertarik untuk membaca buku yang telah direview.

3

Umumnya di Pulau Nias budaya literasi sangat kurang. Anak-anak kurang tertarik dalam membaca. Sementara beberapa guru hanya mencoba mengerakan literasi karena termasuk dalam K13. Selain daripada itu, buku-buku yang bermutu di Nias sangatlah kurang. Akibatnya, bahan bacaan anak-anak yang suka membaca malah buku-buku dewasa. Oleh karenanya sudah saatnya di setiap daerah terpencil ditempatkan agen-agen literasi dengan pembinaan dari pusat. Supanya agen-agen literasi ini dapat memotivasi dan membagikan ilmu tentang cara membaca buku yang baik dan  mereview sebuah buku.

Itulah sepenggal cerita saya dari Pulau Nias untuk menyemangati para siswa kelas 10 UPW SMKN. 1 Dharma Caraka dalam hal membaca buku.

Advertisements

Masyarakat Desa Sifalagö, Nias Selatan yang Masih Belum Merdeka Seutuhnya

“Sedia berkorban untukmu…Pancasila dasar negara…Rakyat adil makmur sentosa…pribadi bangsaku”.

Itulah sepotong lirik lagu nasional Garuda Pancasila. Saya tertarik dengan kalimat dalam lirik ini yang berbunyi “rakyat adil makmur sentosa”. Tapi, ratusan ribu kilometer dari Jakarta tepatnya di Pulau Nias (pulau terluar Indonesia bagian barat) masih banyak masyarakatnya yang jauh dari kata adil makmur sentosa.

Saya mengatakan ini bukan tanpa alasan atau jangan-jangan saya dikatakan penyebar berita hoaks lagi, masa Indonesia yang kaya, sumber daya alamnya berlimpah-limpah, bisa-bisanya dikatakan masyarakatnya tidak makmur sentosa.

Baiklah daripada saya panjang lebar cerita. Melalui cerita saya ini nantinya, saya mengajak teman-teman untuk mengetahui kondisi salah satu desa yang ada di Kabupaten Nias Selatan.

Beberapa hari yang lalu saya bersama dengan beberapa teman di Desa Sifalagö. Secara adminstrasi desa ini termasuk dalam Kecamatan Huruna, Nias Selatan. Kami berangkat dari Gunungsitoli sekitar pukul 08.00 dan tiba di Kecamatan Huruna sekitar pukul 10.30. Selama perjalanan dari kecamatan sampai di Desa Sifalagö, saya bisa menyimpulkan desa ini belum merdeka. Saya mengatakan ini bukan tanpa alasan dengan pertimbangan tidak ada jaringan telkomsel, tidak ada listrik, akses jalan yang sangat buruk, dan sumber air yang hanya mengandalkan air hujan.

Untuk lebih detailnya, saya berusaha ingat kembali dan berusaha untuk menulisnya tadi malam. Beberapa masalah yang dihadapi oleh masyarakat Desa Sifalagö yang saya rangkum, yaitu:

Pendapatan yang sangat kecil
Bagi anak-anak yang hidup di Kota Metropolitan sekali nongkrong di starbuck bisa mengeluarkan uang sekitar 100-200 ribu. Buat kebanyakan masyarakat Desa Sifalagö mendapatkan uang sebesar itu harus menderes karet selama satu sampai dua minggu. Getah karet bagi masyarakat Desa Sifalagö adalah sumber penghasilan utama mereka.

Setiap rumah di Desa Sifalagö saat musim kemarau menghasilkan 10-20 kg perminggu (tergantung kekuatan setiap penyadap karet). Tetapi, ketika sedang musim hujan karet yang dihasilkan oleh masyarakat hanya sekitar 10 kg. Karena akses kendaraan tidak sampai di desa ini, maka harga getah karet hanya dihargai sekitar Rp. 5.000/kg. Bisa ditotalkan dalam seminggu berapa pendapatan setiap rumah tangga perminggu hanya sekitar Rp 50.00- 100.000, sementara setiap rumah terdiri dari 6-8 orang anggota keluarga.

Beberapa keluarga untuk mencukupi biaya kehidupan keluarga setiap hari harus mengutang terlebih dahulu di warung, kemudian dibayar ketika getah karet sudah terjual. Selain getah karet sebagai sumber penghasilan utama. Sumber penghasilan yang lain beberapa keluarga di Desa Sifalagö adalah coklat.

Beberapa orang ada yang tidak tahan dengan kondisi pendapatan yang sangat kecil ini, sedangkan pengeluaran setiap hari sangat besar. Mereka memutuskan untuk merantau keluar Pulau Nias. Beberapa diantaranya bekerja di perkebunan kelapa sawit di Tapanuli, Riau, dan beberapa daerah di daratan Pulau Sumatra.

Pendidikan yang masih buruk
Jika anak-anak di perkotaan setelah pulang sekolah pergi bermain atau pergi les. Kondisi yang terjadi di Desa Sifalagö sangatlah berbeda. Setelah pulang sekolah kebanyakan anak-anak membantu orangtua di kebun. Bahkan beberapa anak-anak membantu orangtua untuk memikul karet sejauh 6 km untuk dibawakan ke pengepul karet.

Sedangkan untuk mengenyam sekolah, di desa ini sudah terdapat satu sekolah dasar dan SMP satu atap. Sementara untuk SMA gedungnya masih dalam proses pembangunan. Anak-anak SMA untuk sementara harus menumpang ke salah satu sekolah.

Keadaan rumah yang sangat memprihatinkan
Selama saya dan beberapa teman berkunjung di beberapa rumah yang ada di Desa Sifalagö. Saya menemukan rumah yang masih beratap daun rumbia yang sudah bolong sana-sini, lantai rumah yang beralas tanah, 2 kamar yang berukuran sekitar 3×2 meter sementara anggota keluarga dalam rumah sekitar 6 orang. Ada satu rumah yang saya temui tidak memiliki kamar mandi.

Keadaan jalan yang buruk
Beberapa hari yang lalu saya bersama dengan beberapa teman pergi Desa Sifalagö untuk mengunjungi salah seorang  teman yang tinggal di desa ini. Singkat cerita, kami sampai di Kecamatan Huruna setelah melalui perjalanan kurang lebih 2,5 jam. Sebelum sampai ke Desa Sifalagö, kami harus melalui jalan yang sangat buruk, aspal jalan yang tidak bagus, dan bebatuan besar berserakan dimana-mana. Kalau tidak hati-hati motor bisa jatuh. Kurang lebih kami melalui jalan sepanjang 5 KM.

Motor tidak sampai di Desa Sifalago. Kami harus menitipkan motor kami di ujung jalan. Setelah menitipkan motor. Perjalanan kami dimulai. Pertama kami harus menyebrang sungai. Beruntung pada saat itu cuaca cerah. Seandainya cuaca tidak cerah pasti kami tidak bisa menyebrang karena arus sungai yang sangat deras.

Setelah menyebrang sungai. Petualanganpun dimulai. Jalan setapak kami harus lalui. Kondisi jalan  yang masih tanah jenis tanah liat dan beberapa bebatuan tempat berpijak kaki, saat hujan datang.  Kondisi jalan seperti itu kami harus lalui sejauh 3 km.

Semakin dekat dengan Desa Sifalagõ  kondisi jalan semakin parah. Medan jalan hanya tanah kuning hanya pada saat hujan membuat kaki terbenam. Bukan hanya itu saja, karena medan jalan yang naik turun membuat kami harus bersusah payah untuk mencapai Desa Sifalagõ.

Itulah sepintas salah satu kondisi desa di pulau saya tercinta. Keadaan seperti ini masih banyak ditemukan di pulau saya tercinta. Jika keadaannya demikian teman-teman pembaca bisa menyimpulkan sendiri, apakah Desa Sifalagö sudah merdeka atau belum?

 

 

Wisata Candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul

Setelah saya dan mas Dwiki selesai dari candi Sambisari. Kami melanjutkan mendayung sepeda kami kearah candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan bukit-bukit gunung yang sangat indah. Dikiri kanan-jalan yang kami lalui, terdapat hamparan tanaman tembakau dan sawah-swah yang siap di panen. Terkadang juga kami berpapasan dengan para petani yang baru selesai memanen hasil padinya. Saat berpasasan dengan mereka, kami saling bertegur sapa.

Tak terasa jarak dari candi Sambisari ke candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul sekitar 1 jam. Tapi perjalanan itu tidak terasa. Dengan keindahan alam yang sangat indah sepanjang perjalanan. Meskipun matahari sangat panas pada saat itu. Tapi angin sepoi-sepoi membuat kami tidak terasa capek sepanjang perjalanan. Oh ya, jika kita mengambil titik pertama perjalanan ke candi ini dari candi Prambanan. Maka jarak tempuh tidak sangat lama kira-kira jika menggunakan motor sekitar 10 menit atau dengan sepeda sekitar 20 menit sampai 30 menit. Saya menyarankan untuk menggunakan sepeda. Supanya bisa menikmati keindahan lereng merapi, hamparan pemandangan tembakau, dan kawanan burung-burung sawah.

Setelah kami memarkir sepeda di depan candi. Kami terlebih dahulu menulis identitas kami di pintu masuk, sambil membayar uang masuk Rp. 3.000,00. Setelah itu kami masuk ke lingkungan candi. Candi pertama yang kami kunjungi adalah candi Plaosan Lor. Candi-candi ini terbuat dari batu gamping yang berasal dari letusan gunung berapi. Tapi sayang akibat gempa 2006 dan letusan gunung berapi tahun 2010. Banyak batu gamping yang rusak. Kemudian batu ini diganti dengan batu bata yang didesain sedemikian rupa sama dengan bentuk aslinya.

Pas pertama kami masuk kedalam candi. Kami disuguhi dengan bentuk pintu candi yang sangat indah. Semua pintu masuk ke dalam bagian candi terbuat dari batu gamping. Sehingga jika di lihat dari luar candi, candi ini seperti goa. Kemudian kami masuk kedalam bagian tengah candi yang pada saat itu agak gelap. Terdapat pendopo yang menurut saya, kira-kira berukuran 21 m x 19 m. Setelah itu pada bagian tengah candi terdapat 3 altar. Pertama altar utara yaitu stupa Samantabadhara dan figur Ksitigarbha, altar barat terdapat gambar Manjusri, dan yang terakhir altar timur yang terdapat gambar Amitbha, Ratnasambhava, Vairochana, dan Aksobya.

IMG_20151103_110932

Setelah kami berkeliling melihat setiap ornament yang ada dalam candi sekitar 40 menit. Kami berpindah ke candi kesebelahnnya. Candi ini disebut candi Plaosan Kidul. Candi ini memiliki pendopo yang di bagian tengah yang dikelilingi 8 candi. Dari delapan candi ini terbagi menjadi 2 tingkat. Tiap-tiap tingkat candi terdiri dari 4 candi. Dalam candi ini terdapat gambar Tathagata Amitbha, Vajrapani dengan atribut vajra pada utpala serta Prajnaparamita yang dianggap sebagai “ibu dari semua Budha”. Beberapa gambar lain masih bisa dijumpai namun tidak pada tempat yang asli.

IMG_20151103_191831

Selain dari 2 candi utama, candi Plaosan Lord dan candi Plaosan Kidul. Komplek candi terdapat stupa perwara yang terlihat di semua sisi candi utama dan juga candi perwara yang lebih kecil. Secara keseluruhan dilingkungan candi terdapat 116 stupa perwara dan 50 candi. Selain candi-candi. Dilingkungan candi terdapat tempat penyimpanan stupa-stupa dan beberapa bagian candi yang sudah dibongkor. Disini saya bisa menemukan informasi kalau candi Plaosan di bangun oleh Wangsa Sailendra yang menganut agama Budha. Saya bisa menembak candi ini merupakan pengaruh dari agama budha, karena bentuk ornament-ornamen yang berbentuk khas bunga, dan patung-patung Budha yang berada dalam ruang penyimpanan.

IMG_20151103_090134

Tak terasa kami berkeliling candi sekitar 2 jam lebih lamanya. Karena pada hari itu matahari sudah sangat terik. Kami memutuskan untuk pulang. Setelah membanyar uang parkiran Rp 2.000,00. Kami pun mengakhiri wisata candi untuk hari ini.

6 Keuntungan Meminjam Uang di Credit Union

pinjaman-dana-di-Magelang-1

Semakin hari uang sangat dibutuhkan. Sekarang ini banyak orang sangat membutuhkan uang untuk keperluan mendesak, seperti membeli obat-obatan, kebutuhan sekolah anak, dll. Terkadang beberapa perusahaan simpan-pinjam atau orang-orang yang mempunyai harta berlebihan memanfaatkan keterdesakan masyarakat dengan memberikan pinjaman uang dengan bunga pinjaman yang sangat tinggi. Terkadang akibat bunga pinjaman yang sangat tinggi, peminjam tidak dapat mengangsur tiap bulan atau minggu uang pinjaman yang sebelumnya telah dipinjam. Ia hanya sibuk membanyar bunga setiap bulan atau minggu.

Supaya calon peminjam uang tidak terjebak dalam permainan para pengusaha atau perusahaan yang memberikan pinjaman. Sebaiknya, seorang yang lagi membutuhkan uang tahu  lembaga-lembaga simpan-pijam yang tidak memberatkan para nasabah atau orang yang meminjam uang.

Salah satu lembaga simpan pinjam yang menurut saya sangat bagus adalah Credit Union (CU). Berdasarkan pengalaman teman-teman saya yang ada di Kalimantan, Yogyakarta, dan keluarga saya sendiri yang pernah meminjam uang di CU, ada beberapa keuntungan yang mereka peroleh dari meminjam uang di Credit Union (CU), yaitu:

1. Bunga Pinjaman yang Rendah

Jika di beberapa bank bunga pinjaman dari awal meminjam sampai akhir sekitar 2% keatas. Berbeda dengan yang berlaku di Credit Union (CU), bunga uang pinjaman diawal meminjam sekitar 1,85%, tetapi semakin bulan pembayaran bunga dan uang pinjaman, maka bunga uang semakin berkurang. Tidak menutup kemungkinan pada akhir pembanyar bunga pinjaman hanya sekitar 0, 5 %.

2. Tidak Mempunyai Batas Pembayaran

Di beberapa perusahaan atau bank yang memberikan pinjaman, seseorang yang telah meminjam uang harus membayar angsuran pinjaman bersama dengan bunga pinjaman tiap bulan sampai batas yang ditentukan. Di Credit Union (CU) agak sedikit berbeda aturannya, bagi seorang nasabah CU yang mampu membayar pinjamannya secara keseluruhan pada bulan ke 6 dari jangka angsuran selama 2 tahun. Pihak CU memperbolehkannya dan ia hanya membayar nominal uang yang ia pinjam tanpa harus membayar bunga secara keseluruhan.

3. Sebagian Bunga Pinjaman Masuk ke Dalam Rekening Nasabah

Keuntungan yang diperoleh dari meminjam di Credit Union adalah hasil dari keseluruhan bunga pinjaman yang dibayar oleh nasabah yang meminjam akan masuk ke rekening nasabah sekitar 2-3%.

4. Tidak Mendapatkan Berbagai Potongan

Beberapa pengalaman yang anggota keluarga saya alami adalah ketika meminjam di bank sekitar 100 juta. Nominal uang yang dicairkan oleh bank tidak sepenuhnya 100 juta, tetapi sekitar 95 juta. Pemotongan pinjaman karena pajak, pontongan dari dinas terkait, dll.

Berbeda dengan di CU, jika seorang nasabah meminjam 100 juta, maka uang yang akan didapatkan oleh nasabah yang meminjam uang 100 juta juga.

 5. Tidak Terdapat Berbagai Potongan

Beberapa bank yang saya lihat selama ini, banyak memberlakukan potongan. Misalnya seorang PNS meminjam kredit di sebuah bank daerah sekitar 100 juta. Total yang ia dapatkan tidak bersih seratus 100 juta rupiah mungkin hanya sekitar 96 juta rupiah, karena mendapatkan berbagai potongan dari bank, dinas terkait, dll.

6. Proses Pecairan Dana Cepat

Beberapa bulan yang lalu, saudara saya meminjam uang di CU senilai 20 juta. Proses pencairan dana cepat hanya sekitar 3-4 hari.

Itulah beberapa keuntungan meminjam uang di CU. Saya menulis ini bukan berarti saya menjelek-jelekkan perusahaan simpan-pinjam. Tetapi, saya hanya memberikan pertimbangan bagi masyarakat terkhususnya golongan menengah-kebawah.

 

 

Sumber foto : situsmagelang.com

 

 

 

Malas Berpikir

18882007_1594232257268181_2104511552857963900_n

Beberapa bulan yang lalu ketika saya masih berada di kota yang menurut media dan pemerintah, salah satu provinsi yang paling toleran di Indonesia. Saya sering mendengar dari teman-teman yang sedang mencari kos, pertanyaan pertama yg selalu muncul ditanyakan oleh ibu pemilik kos, “mas asalnya darimana?”. Biasanya mahasiswa baru yang pertama datang dari kampung dengan polos menjawab “saya dari salah satu kota di daerah Indonesia Timur mbak”. Dengan sedikit wajah agak cuek, si ibu pemilik kos biasanya mengatakan “maaf mas kamar disini penuh semua”. Duka yang lain menjadi seorang anak kos, saat dari jauh seorang mahasiswa dengan wajah sangar, hitam pekat, dan keriting menanyakan kos. Sebelum pertanyaan dari mahasiswa ini selesai si pemilik kos sudah menjawab “maaf disini kamar penuh mas”.

Penolakan-penolakan seperti diatas bukan tanpa alasan, meskipun ada kamar kosong, tetapi si pemilik kos mengatakan kamar sudah penuh. Salah satu penolakan semacam ini terjadi, karena ditengah-tengah masyarakat sekitar kos beredar kabar daerah, mahasiswa dari kota Indonesia bagian timur suka buat onar. Bukan hanya itu saja terkadang mahasiswa yang hitam pekat, keriting, dan bersuara keras adalah orang yang mempunyai karakter buruk. Tak ada salah berandai-andai, seandainya pemilik kos berpikir tidak semua dari mahasiswa dari kota tersebut mempunyai karakter buruk. Pasti tidak adanya penolakan dan dendam terselubung. Kemalasan berpikir akan menimbulkan saling menghakimi dan membenci satu sama lain.