Melahirkan Generasi Anak Pulau Nias Yang Tidak Buta Dengan Ilmu Pengetahuan

11136674-748317031949629-7215493455476927420-n-57439825917a61c5038b4569

Sebagian anak-anak Pulau Nias sedang membaca buku yang saya salurkan ke kursus Bahasa Inggris Gea.

Sebagian besar anak-anak yang besar di kota-kota besar di Pulau Jawa pasti pernah membaca komik Asterikx, cerita Tintin, novel lima sekawan, dan jenis komik lainnya. Buktinya, 2 tahun lalu pada saat menjadi menjadi relawan di Perpustakaan Bledug Mrapi, Yogyakarta. Teman-teman relawan yang berasal dari Pulau Jawa sering menceritakan tentang kisah petualangan Tintin. Saya kemudian menanyakan kepada salah seorang anak les saya tentang kisah petualangan Tintin. Dengan begitu bersemangat, ia menceritakan secara keseluruhan kisah cerita Tintin kepada saya.

Bagi anak-anak yang lahir dan besar di Pulau Jawa mendapatkan ilmu pengetahuan melalui buku-buku, komik-komik sangatlah muda. Bagi anak-anak yang memiliki orangtua yang mampu secara financial dapat memperoleh buku-buku yang mereka inginkan di toko-toko buku seperti Gramedia, Togamas, dll.

Sementara bagi anak-anak yang orangtuanya tidak mampu dapat meminjam buku-buku di Perpustakaan daerah, Perpustakaan kota, dan Perpustakaan yang dikelolah secara pribadi. Dengan akses mendapatkan buku-buku yang sangat muda inilah. Tidak menutup kemungkinan anak-anak yang besar di Pulau Jawa dengan mudah meraih cita-cita yang mereka impikan.

Akses mendapatkan ilmu pengetahuan melalui buku-buku yang diperoleh anak-anak di Pulau Jawa sangatlah berbeda 360 derajat dengan yang dialami oleh anak-anak Pulau Nias, Sumatera Utara. Sejak puluhan tahun sampai pada saat ini. Anak-anak Pulau Nias sangat susah mendapatkan buku-buku. Salah satu dampak anak-anak Pulau Nias jarang mendapatkan buku. Mereka tidak mengenal berbagai jenis model transportasi udara, laut, dll. Contoh kecilnya seperti yang dialami oleh anak-anak yang tinggal di Desa Hilina’a, (Desa yang hanya berjarak sekitar 20 kilometer, dari pusat kota yang paling maju di Pulau Nias)/ Kecamatan Gunungsitoli Mereka masih sulit membedakan pesawat penumpang, helikopter, kapal selam, dan transportasi udara lainnya.

Ketidakmampuan anak-anak Pulau Nias mendapatkan buku-buku bukan bukan tanpa sebab. Tapi ini disebabkan karena beberapa faktor, yaitu: di Pulau Nias yang terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota masih belum ada perpustakaan yang layak disebut sebagai perpustakaan. Mobil perpustakaan juga jarang berkeliling diseluruh pelosok Pulau Nias untuk memberi pinjaman buku-buku ke anak-anak.

Selain itu juga faktor perekonomian keluarga. Kebanyakan masyarakat di Pulau Nias berkerja sebagai penyadap karet. Penghasilan perbulannya yang didapat dari menderes karet tidak menentu. Jika musim hujan, keluarga yang berprofesi sebagai penyadap karet hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp. 500.000,- sampai Rp. 700.000,-. Sementara saat musim kemarau, penghasilan bisa mencapai Rp. 1.000.000,. Dengan penghasilan yang kecil ini. Orangtua di Pulau Nias harus memberi nafkah 4-5 orang anak-anak. Karena faktor penghasilan yang kecil inilah orangtua tidak dapat membeli buku-buku kepada anak-anaknya. Bagi kebanyakan orangtua di Pulau Nias dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat SMA merupakan sebuah keajaiban.

Masa Kecil Saya

Masa kecil saya 15 tahun yang lalu, tidak jauh seperti yang anak-anak Nias alami pada saat ini. Setiap hari sepulang sekolah, saya hanya bermain kelereng, menangkap ikan di parit, atau terkadang bermain pistolan-pistolan yang terbuat dari kayu di ladang tempat orangtua saya berkerja.

Saya bermain setiap hari bukan karena saya tidak suka membaca. Tetapi karena saat itu, saya sama sekali tidak mempunyai buku-buku yang bisa dibaca. Terkadang saya hanya membaca komik cerita rakyat yang saya pinjam dari teman saya. Kebetulan teman saya ini suka membeli susu dancow setiap bulannya. Biasanya dalam kotak susu dancow tersebut terdapat gratis buku cerita rakyat.

Tekat Untuk Mencerdaskan Anak-Anak Nias Melalui Buku

Singkat cerita, setelah saya tamat dari bangku SMA tahun 2010. Saya melanjut kuliah ke salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Yogyakarta. Dari Kota Pendidikan inilah saya mulai mengetahui mengapa anak-anak yang ada di Yogyakarta lebih pintar, kritis, dan kreatif. Dibandingkan anak-anak yang tinggal di kampung saya. Salah satu alasan yang saya ketahui faktornya adalah anak-anak yang mempunyai orangtua yang kaya dapat mendapatkan buku-buku yang mereka inginkan. Sementara, untuk anak-anak yang mempunyai orangtua yang kurang secara financial dapat meminjam buku-buku yang ia inginkan di Perpustakaan Kota Yogyakarta, Perpustakaan Daerah, dan Perpustakaan yang dikelolah secara mandiri.

Saya mempunyai pengalaman yang saya tidak bisa lupakan sampai pada saat ini. Pada saat berdiskusi di dalam satu kelompok pada semester satu. Teman-teman satu kelompok banyak memberikan masukan, ide, dan pendapat berdasarkan buku-buku yang mereka sudah banyak. Sementara saat itu saya hanya bisa diam sendiri. Karena saya sama sekali belum pernah membaca buku-buku yang mereka sebutkan. Saat saya tanyakan ke salah seorang teman yang berasal dari Semarang. “Kapan kamu baca buku ini?”. “Ia mengatakan waktu SMA kelas 1”. Saat itu saya terkejut dan merasa malu. Selama ini buku-buku yang saya baca selama saya sekolah di Nias. Tidak ada apa-apanya di bandingkan yang mereka sudah baca.

Tekad Untuk Mencerdaskan Anak-Anak Nias Melalui Buku

Dari rasa keprihatinan akan nasib anak-anak di kampung halaman saya alami terhadap minimnya ilmu pengetahuan yang mereka dapat melalui buku-buku. Dan juga pengalaman saya pada saat kerja kelompok pertama kali membuat hati saya sangat tersentuh. Maka saya berjanji dan bertekad dalam hati saya. Saya tidak ingin generasi anak-anak Pulau Nias sekarang ini dan masa depan buta akan berbagai ilmu pengetahuan.

Untuk mewujudkan impian saya. Sekitar pertengahan tahun 2013, saya membulatkan tekad untuk membagikan berbagai informasi dan ilmu pengetahuan kepada anak-anak Pulau Nias. Berhubung saat itu saya masih status mahasiswa dan tidak mempunyai penghasilan untuk membeli buku-buku bacaan untuk dikirim ke anak-anak di Pulau Nias. Saya berpikir untuk membuat fanpage yang bernama Gudang Ilmu (https://www.facebook.com/Gudang-Ilmu-295616043981676/.

Alasan saya sangat sederhana memilih membuat fanpage. Di seluruh Pulau Nias sampai ke pelosokpun ada jaringan internet telkomsel dan beberapa anak-anak SMP-SMA yang tinggal di Pelosok Pulau Nias seperti Alasa, Botomuzoi, dll mempunyai akun facebook. Difanpage inilah saya membagikan berbagai kutipan tokoh-tokoh dunia, beberapa informasi, dan tentu berbagai ilmu pengetahuan dari berbagai aspek ilmu.

Secara perlan-lahan misi saya untuk membagikan ilmu pengetahuan kepada anak-anak Nias mulai terbuka jalan. Secara tidak sengaja saya bertemu dengan Mas Prim. Seorang penulis dan pemilik perpustakaan anak Bledug Mrapi (http://bledugmrapi.blogspot.co.id/2012/05/koleksi-dongeng-bergambar.html) di Yogyakarta.

Kemudian seiring kami berkomunikasi satu sama lain. Saya menceritakan impian yang saya sedang usahakan untuk membuat anak-anak Nias bisa mendapatkan ilmu pengetahuan melalui buku-buku ke Mas Prim. Dengan tidak banyak berkomentar dan menanyakan panjang lebar tentang impian saya ini. Mas Prim langsung setuju membantu saya. Untuk pertama. Mas Prim membantu saya mengirim 200 buku-buku anak ke SD ke SD Tetehosi Foa, Pulau Nias.

10372326-807707275905959-6164733700291466856-n-5743a42023b0bde50460a69b

Beberapa sample buku yang dikirim ke SD Tetehosi Foa

Kemudian pada saat saya liburan ke kampung halaman saya Pulau Nias pada tahun 13 Juli 2014. Saya merelakan uang tabungan saya Rp. 1.500.000 untuk membawa buku-buku anak yang disumbangkan oleh Mas Prim ke anak-anak Pulau Nias.

Berhubung pada saat itu kuliah saya belum selesai. Saya menyalurkan buku-buku yang saya bawakan ke Komunitas Kandangbokoe Nias. Sebuah komunitas yang sudah 5 tahun ini konsisten menyalurkan dan meminjamkan buku-buku ke PAUD yang ada di seluruh pelosok Pulau Nias.

10402531-10201976490368677-312284022271548133-n-5743a01cd27a61a3084996e7

Beberapa buku yang disumbangkan untuk Komunitas Kandangbokoe

Selain menyumbangkan buku-buku yang saya bawakan dari Yogyakarta ke komunitas Kandangbokoe. Saya juga menyalurkan buku-buku tersebut ke perpustakaan Kursus Bahasa Inggris Gea. Sebuah kursus bahasa Inggris yang mempunyai misi mencerdaskan anak-anak Nias melalui Bahasa Inggris dan buku-buku bacaan. Selain itu Kursus ini juga memberikan beasiswa full kepada anak yatim atau piatu untuk belajar Bahasa Inggris.

10400044-10204761367021133-1873385199806368763-n-5743ae35d57e618304f8380c

Penyerahan buku-buku bacaan ke Direktur kursus B. Inggris Gea/java/facebook.com

Impian Saya Kedepan Untuk Kampung Halaman Saya.

Bulan depan saya akan menetap di Gunungsitoli, Pulau Nias. Meskipun demikian, saya tidak lupa dengan misi yang sudah saya mulai 3 tahun lalu. Saya terus lakukan dengan satu tujuan ingin membuat anak-anak Nias tidak buta akan ilmu pengetahuan. Untuk terus mencapai misi saya untuk pulau saya tercinta. Bulan lalu saya kembali mengirim buku-buku anak berbahasa Inggris dan bahasa Indonesia ke Gunungsitoli, Pulau Nias.

IMG_0234

Buku-buku yang saya kirim ke Pulau Nias bulan lalu

Memang impian saya ini tidak seberapa dibandingkan dengan teman-teman relawan yang lahir dan besar di Jawa. Mereka mempunyai teman-teman yang siap membantu. Jika teman-teman relawannya mengharapkan bantuannya. Sementara saya mulai dari nol segala usaha saya. Mulai dari mencari kenalan yang terkadang hanya mendengarkan curhatan-curhatan saya tentang nasib anak-anak Nias. Kemudian tidak ada tidak lanjutnya. Tetapi saya percaya itu semua proses untuk mencapai misi terbesar saya kedepannya.

Untuk mencapai misi saya untuk membuat anak-anak Nias tidak buta akan ilmu pengetahuan. Saya telah menyusun rencana jangka pendek dan rencana jangka panjang, yaitu:

Rencana Jangka Pendek

Selama kuliah, saya mempunyai beberapa puluh buku dengan berbagai topik. Di tambah saya rencana akan membeli beberapa puluh buku lagi dengan uang tabungan saya. Semua buku-buku tersebut, saya akan bawa ke Pulau Nias. Sampai di Gunungsitoli, Pulau Nias nantinya. Saya akan membuka perpustakaan kecil-kecilan di depan rumah saya.

Perpustakaan ini nantinya saya tunjukan untuk anak-anak di sekitar lingkungan rumah saya. Selain mereka membaca, 1 kali dalam seminggu saya akan membacakan mereka sebuah buku atau memutarkan sebuah film tentang anak-anak. Saya akan lakukan ini selama 6 bulan-1 tahun. Selain itu, pengalaman saya mengajar anak-anak di Yogyakarta. Saya gunakan untuk story telling di  beberapa TK di sekitar Gunungsitoli dan Nias, seperti TK Hope, TK Pembina dan beberapa paud yang ada di Pulau Nias.

Rencana Jangka Panjang

Setelah saya menetap 6-8 bulan di Pulau Nias. Saya akan membeli sebuah motor bekas dan membuat sebuah perpustakaan keliling. Setiap 2 kali dalam seminggu, saya akan mengunjungi dan meminjamkan buku-buku ke anak-anak Nias yang tinggal di beberapa desa di kota Gunungsitoli dan sebagian desa-desa di Kabupaten Nias. Sementara untuk ketiga kabupaten di Pulau Nias (Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, dan Kabupaten Nias Utara). Saya berencana untuk bekerjasama dengan sekolah-sekolah. Setiap satu bulan sekali. Saya akan meminjamkan ke mereka buku-buku bacaan baru.

Untuk membiayai biaya operasional dari perpustakaan yang saya rencanakan ini. Saya rencana ambil dari 15 % dari gaji saya mengajar les bahasa Inggris dan menerjemahkan teks bahasa Inggris, yang merupakan pekerjaan saya jalani selama ini. Sementara untuk menambah koleksi buku. Saya menyisihkan sebagian tabungan. Selain itu juga, kedepan saya akan mengajukan beberapa proposal ke beberapa penerbit seperti Gunung Mulia, Gramedia, dll, yang selama ini saya tahu penerbit ini sering menyumbangkan buku ke perpustakaan-perpustakaan.

Itulah impian saya untuk memanjukan tanah kelahiran saya, Pulau Nias. Target saya untuk tanah kelahiran saya tidak ingin muluk-muluk. Saya hanya ingin 10 tahun kedepan. 4 Kabupaten yang ada di Pulau Nias bisa terhapus dari status sebagai daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Melalui prestasi-prestasi yang didapatkan oleh anak-anak Pulau Nias. Saya sadar untuk mencapai target itu tidak gampang. Tetapi dengan usaha, konsisten dengan misi yang sudah dilakukan selama ini, dan mengiklaskan sebagian materi, pikiran, dan tenaga. Saya yakin target untuk membuka mata anak-anak Pulau Nias akan ilmu pengetahuan dan menghapus 4 kabupaten dari kategori daerah 3T akan berhasil.

Untuk menutup artikel ini. Setiap pembaca yang membaca artikel ini. Terima salam hangat saya. Dari Pulau terluar paling barat Indonesia, Ya’ahowu.

Advertisements

2 thoughts on “Melahirkan Generasi Anak Pulau Nias Yang Tidak Buta Dengan Ilmu Pengetahuan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s