Kejadian 11 Tahun Lalu

Tepat malam itu. Sebuah film tentang gempa ditayangkan di Indosiar. Kalau tidak salah judul filmnya 10.5 : Apocaypse. Karena malam itu sangat panas, saya sempat menonton film ini sebentar. Akan tetapi, karena besok saya harus masuk sekolah. Setelah libur paskah yang lumayan lama. Saya memutuskan untuk tidur. Sekitar 20 menit setelah saya berada di atas tempat tidur. Saya merasakan goncangan seperti berada diatas sebuah bus yang sedang melaju di atas jalan yang bebatuan. Saya pertama menganggap itu cuma mimpi. Tapi. Selang beberapa detik kemudian. Goncangan semakin keras. Bagaikan berada di atas wahana permainan tornado di Dufan. Dengan cepat bagaikan dikejar oleh anjing. Saya langsung turun dari atas tempat tidur dan langsung lari keluar rumah.

Setelah berada di depan rumah. Saya merasakan goncangan yang semakin keras, tanah seperti terbelah dua, dan rumah-rumah seperti bergeser dari posisi awalnya. Kemudian orang-orang berbodong-bodong lari kedataran tinggi. Karena ada isu laut sudah surut dan tak lama lagi akan terjadi gelombang TSUNAMI. Saya dengan kaki telanjang langsung berlari pontang-panting. Selama pelarian untuk menyelamatkan diri. Saya melihat rumah-rumah bertingkat runtuh, orang-orang dengan berlumurah darah lari, dan terdengar suara orang minta tolong yang terjepit di tengah bebatuan. Sesampainya diatas dataran tinggi. Saya melihat banyak orang yang menangis, berteriak, mengucapkan DOA BAPA KAMI, dan menyanyikan lagu-lagu rohani, dll. Sepertinya saat itu alam mengerti kesedihan kami. Buktinya malam itu tak lama setelah gempa yang berkekuatan 8,9 SR terjadi. Hujan beserta angin membasahi kota kami.

foto gempa

Foto diambil dari akun fb James Wong

Yah, kejadian ini tidak pernah dilupakan oleh banyak orang di Kepulauan Nias. Karena sebagian dari keluarga mereka telah menjadi korban. Jika terus dihitung ada beribu-ribu masyarakat Kepulauan Nias yang menjadi korban. Semoga kejadian ini tidak akan terulang lagi, baik dimasa sekarang maupun masa depan.

Ya’ahowu

Advertisements

Wajarkah Kita Mengucilkan Para Kaum LGBT

Kurang tau mengapa isu LGBT ( Lesbi, Gay, Bisexual, dan Transgender) sekarang ini menjadi sebuah isu yang booming, dan sangat sensitif di Indonesia. Para tokoh agama, penegak hukum, para kaum intelektual, dan masyarakat bawah sangat heboh mengomentari dan mengucilkan kaum LGBT.

Sebenarnya permasalahan dan isu LGBT bukanlah isu baru lagi di tingkat Internasional. Tapi, di negara kita yang sangat religius ini. Isu LGBT baru hangat-hangatnya semenjak Mahmah Agung (MA) Amerika Serikat pada tanggal 26 Juni 2015 melegalkan pernikahan sesama jenis di 50 negara bagiannya. Semenjak pada saat itulah, isu LGBT menjadi sebuah isu yang sangat penting di Indonesia. Hampir semua kalangan ikut mengomentarinya. Tapi sayang isu ini bergulir begitu saja, dan kemudian hilang begitu saja tanpa sebuah keputusan dan penyelesaian.

Permasalahan LGBT di Indonesia kembali heboh. Semenjak seorang kalangan akedemis Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi M Nasir memberikan pernyataan yang sangat konstroversial. Ia mengatakan “jika mahasiswa/i adalah salah satu golongan dari LGBT. Maka mahasiswa/i yang bersangkutan wajib dikeluarkan dari kampus”. Kurang lebih begitu persyataan sang menteri.

Saya kurang paham bisa-bisanya seorang menteri memberikan pernyataan yang kontroversial semacam itu. Apakah mungkin tidak ada lagi permasalahan yang lebih penting untuk di angkat di tubuh kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi selain pada LGBT. Bagaimana dengan permasalahan pemalsuan ijasah palsu, permasalahan akreditas kampus, dan masalah kampus abal-abal, yang sampai sekarang ini belum ada penyelesaiannya.

Semenjak pernyataan Pak Menteri inilah isu LGBT di komentari dan di diskusikan berbagai kalangan. Tak ketinggalan Indonesia Lawyer Club TV one mendiskusikan isu LGBT. Jika di tarik kesimpulan masyarakat banyak mengomentari secara negatif para kaum LGBT. Banyak komentar para tokoh agama, masyarakat umum dan netizen mengomentari bahwa kaum LGBT sebagai “orang-orang yang paling berdosa di muka bumi ini, kaum ini sudah sepatutnya berada di neraka jahanam”. Tidak lebih begitulah komentar banyak orang tentang kaum LGBT.

Tapi tunggu dulu, apakah para tokoh agama tidak tahu juga. Jika kaum LGBT sudah ada di beberapa pesatren. Berdasarkan hasil penelitian Iskandar seorang mahasiswa di program sosiologi Universitas Gadjah Mada pada tahun 2012. Di daerah Sumenep terdapat pesantren tradisional yang bernama Nagiyah. Di pondok pesantren ini ia menemukan bahwa praktik homoseksual dengan mudah dapat dijumpai dan bahkan dilakukan dengan cukup terbuka di dalamnya.

Oleh karenanya sebelum berkomentar, sebaiknya lebih tahu dulu mengapa seseorang bisa menjadi salah seorang dalam kaum LGBT. Banyak dari kaum LGBT yang ingin bertobat dan kembali menjadi manusia normal. Tapi sayang banyak dari kita tidak menerima mereka kembali dan mengangap mereka adalah orang sudah paling najis di muka bumi ini. Oleh karena penghakiman kita sendirilah. Mereka tetap menjadi seorang lesbi, gay, bisexual, atau transgender.

Selain itu juga seseorang bisa saja menjadi kaum LGBT adalah faktor kromosom pada pusat sel otaknya. Meskipun sebenarnya ia tidak ingin menjadi salah satu bagian dari LGBT. Tapi kromoson yang ia bawa semenjak lahir. Itulah yang menyebabkan dan menuntut mereka menjadi seorang yang termasuk dalam kaum LGBT.

Pengalaman masa kecil bisa juga membuat seseorang menjadi kaum LGBT. Salah satu contohnya adalah seorang mahasiswi di Yogya sebut saja namanya Putri. Ia menjalin hubungan khusus dengan teman perempuannya selama 4 tahun belakan ini karena pada masa lalu Putri sering di pukuli oleh ayahnya. Pengalaman masa kecil inilah yang membuat Putri sangat benci dengan yang namanya kaum adam. Kemudian ia melampiaskan rasa kasih sayangnya kepada sesame jenisnya.

Oleh karenanya sebelum mengucilkan atau mengomentari yang negatif kepada kaum LGBT. Seharusnya para komentator handal ini, yang melebihi Tuhan, tahu latar belakangnya mengapa seseorang bisa menjadi di antara kaum LGBT.

 

The Choice

Walk on in the darkness

The door only two in there,

Go away in the darkness,

or run out from there,

Maybe the run out is best choice

However, the challenge to choose it is hardest,

Back to the away again

But, I fell fear, anxiety

I feel afraid go away in the darkness

If I choose the second choice

Many challenges are in the choice

CONFUSE…

What should I do right now?