Alasan Bang Toyib Tidak Pulang-Pulang Akhirnya Terbongkar

Siapa yang tidak tahu lagu Bang Toyib Pulang Kampung. Sehits-hitsnya lagu mars Perindo sekarang ini. Lebih hits lagu Bang Toyib. Dari kalangan anak-anak-dewasa, kalangan orang miskin-kaya, dan orang ndeso-metropolitan pasti tahu lagu Bang Toyib. Di setiap ada kondangan pasti lagu Bang Toyib selalu di request. Setiap berada di atas minibus, lagu Bang Toyib selalu menjadi lagu kesukaan para sopir untuk di putar.

Apalagi bagian reffnya, “tiga kali puasa, tiga kali lebaran, abang tak pulang. Sepucuk surat tak datang. Sadar-sadarlah abang inget anak istri. Cepat-cepatlah pulang semua rindukan dirimu”. Pasti pengemar lagu Bang Toyib ingat diluar kepala bagian lirik lagu ini.

Sebenarnya Bang Toyib sadar kok ingin pulang. Senakal-nakalnya seorang pria yang beristeri pasti akan selalu ingat dengan seorang isterinya, yang selalu setia dan tulus menunggu suaminya untuk pulang asekk…kalau Agus Mulyadi siapa yang nunggu ya?..Biarlah mas Agus yang menjawabnya sendiri…

Tapi sekarang yang menjadi masalah Bang Toyib. Setiap tahun ongkos Bang Toyib untuk pulang hampir tercukupi. Masalahnya saat bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah ongkos Bang Toyib yang ia tabung selama 11 bulan hangus begitu saja tanpa jejak. Bagaimana tidak hangus, biasanya harga gula Rp. 6.500 per setengah kg, beras Rp 10.000 per kg. Malah saat bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Harga gula setengah kilo naik 2 ribu, harga beras 1 kg naik 2 ribu. Belum lagi ongkos minibus. Biasanya saat bulan Puasa ongkos bus naik 2-3 ribu. Mulai H-2 sebelum lebaran ongkos bus bisa naik 50% dari harga semula. Biasanya ongkos minibus Yogya-Solo 8-10 ribu. Tapi saat bulan Ramadan sampai Lebaran ongkos bus semakin tinggi. Begitu juga dengan Bang Toyib. Sebelum puasa ongkos busnya dari kos-tempat pekerjaan sekali jalan 3.000-4.000 ribu. Tapi malah saat puasa Bang Toyib ngeluarin duit 4.000. Parahnya terkadang Bang Toyib ngasi duit ke sopirnya 5.000. Uang kembaliannya tidak dikembalikan. Kalau kayak gitu pantasan saja Bang Toyib tidak pulang-pulang 3 kali puasa, 3 kali lebaran.

Bang Toyib hanya satu dari beratus-ratus suami yang berjuang ditanah rantau demi anak dan isterinya. Banyak laki-laki dari Pulau Jawa yang harus merantau ke Pulau Kalimatan, Sumatra bahkan Papua. Mereka rela melakukan itu semua demi menafkahi isteri dan anaknya di Pulau Jawa. Atau setidaknya mereka keluar dari rumah, supanya tidak menjadi beban keluarga. Karena profesi mereka selama ini sebagai pengangguran.

Siapa yang tidak rindu kampung halamannya saat hari lebaran tiba. Makan opor bersama dengan teman-teman semasa kecil sambil bernostalgia dengan masa kecil dulu yang penuh kekocakan, mencuri rambutan Pak RT, di kejar-kejar siskamling, dll. Sholat ID bersama dengan keluarga saat hari lebaran tiba. Bisa melihat wajah isterinya yang tambah kinclong, atau malah ireng. Hanya manusia yang tidak mempunyai perasaan yang tidak mengharapkan untuk pulang saat lebaran tiba.

Sayang beribu sayang. Nasib sial yang dialami Bang Toyib juga sering dialami oleh banyak suami yang bekerja ditanah rantau. Mereka tidak bisa pulang saat lebaran hanya terbentur ongkos. Coba diamati harga kebutuhan pokok pada saat bulan Ramadan saat ini. Bukan makin turun, malah makin naik. Bulan Ramadan yang harusnya membawa berkah. Malah sekarang ini bulan Ramadan, bulan yang penuh penderitaan. Gimana ngak menderita dengan harga kebutuhan pokok yang semakin naik. Contohnya saja sebelum bulan Ramadan di daerah Condongcatur, Sleman. Harga 1 kg beras 10 ribu, tapi saat bulan Ramadan. Harga 1 kg beras 11-12 ribu. Hampir sama juga harga 1 kg gula biasanya 12 ribu. Tapi saat bulan Ramadan harga 1 kg gula 14 ribu. Gimana penikmat kopi tidak menderita, Jika meminum kopi tanpa gula. Serasa hidup ini begitu sangat pahit. Bukan hanya gula. Harga sebungkus roti merek Malkis crackers (Roma) sebelum puasa hanya Rp. 500. Sekarang saat bulan Ramadan harga roti menjadi 1.000. Kalau kayak gitu adil dong Bang Toyib tidak pulang 3 kali puasa, tiga lebaran. Dengan memikirkan kebutuhannya saat bulan puasa.

Sayang beribu sayang, sepertinya kementerian yang mengurus tentang harga kebutuhan pokok tidak serius menangani permasalahan kenaikan harga saat bulan Ramadan. Malah kementerian yang satu dan yang lain saling lempar tanggung jawab. Kementerian perdagangan yang harus bertanggung jawablah, kementerian BUMN lah. Mungkin kementerian kurang peduli dengan kenaikan harga kebutuhan pokok saat sekarang ini. Malah di Jakarta saja tempat para pengambilan keputusan berada harga daging makil mahal, sekitar 120 ribu per kg, bawang merah Rp 27.000 per kg. Mungkin pemerintah melakukan ini semua. Supanya para pengemar lagu Bang Toyib tidak kesal. Seadainya harga kebutuhan di pasaran turun. Pastinya juga lirik lagu Bang Toyib diubah menjadi “ Bang Toyib..bang Toyib, akhirnya setelah 3 kali puasa, 3 kali lebaran, abang bisa pula”.