Malas Berpikir

18882007_1594232257268181_2104511552857963900_n

Beberapa bulan yang lalu ketika saya masih berada di kota yang menurut media dan pemerintah, salah satu provinsi yang paling toleran di Indonesia. Saya sering mendengar dari teman-teman yang sedang mencari kos, pertanyaan pertama yg selalu muncul ditanyakan oleh ibu pemilik kos, “mas asalnya darimana?”. Biasanya mahasiswa baru yang pertama datang dari kampung dengan polos menjawab “saya dari salah satu kota di daerah Indonesia Timur mbak”. Dengan sedikit wajah agak cuek, si ibu pemilik kos biasanya mengatakan “maaf mas kamar disini penuh semua”. Duka yang lain menjadi seorang anak kos, saat dari jauh seorang mahasiswa dengan wajah sangar, hitam pekat, dan keriting menanyakan kos. Sebelum pertanyaan dari mahasiswa ini selesai si pemilik kos sudah menjawab “maaf disini kamar penuh mas”.

Penolakan-penolakan seperti diatas bukan tanpa alasan, meskipun ada kamar kosong, tetapi si pemilik kos mengatakan kamar sudah penuh. Salah satu penolakan semacam ini terjadi, karena ditengah-tengah masyarakat sekitar kos beredar kabar daerah, mahasiswa dari kota Indonesia bagian timur suka buat onar. Bukan hanya itu saja terkadang mahasiswa yang hitam pekat, keriting, dan bersuara keras adalah orang yang mempunyai karakter buruk. Tak ada salah berandai-andai, seandainya pemilik kos berpikir tidak semua dari mahasiswa dari kota tersebut mempunyai karakter buruk. Pasti tidak adanya penolakan dan dendam terselubung. Kemalasan berpikir akan menimbulkan saling menghakimi dan membenci satu sama lain.

Travelling at the Cave of Indonesia’ Figures are meditated

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

No have plan to go in the cave of place of Indonesia’ figures often meditate in the past. But, our planning appears when we have got up on gliding place, Gantole. In early morning, we are being confuse where we go after it. A minute later, one of our friends suggests to us, perhaps we can go to Langse Cave, then we agree her planning. However, all of us do not know where its location. Then, one of us is searching on Google map, where the cave’s location. A few minutes later, we get it.

Using motorcycle, we leave from gliding place to Langse cave about 2 hours by motorcycle. We arrive in a house where we park our motorcycles, and there we pay Rp. 5.000 as parking cost. Later, we go to Langse Cave with walking through a biggest garden for one hour. Then, we arrive on the street which is its wide only half meter. Besides, on the right the street is ravine which under are biggest stones, and on the left the street is mountain side.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

When two my friends are passing small street carefully. You can look at under street right is sea

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

One of our friends thinks we might back, because she is afraid look at around the street. Because, many of us agree continue our travelling to the cave, so she agree too. We still go to the cave. Few meters at the straight street, we arrive at the dangerous street, must hold some roots which is bunched using old string, and walk carefully.

About 50 meter hold the string, we must use ladder to go down to the dangerous street. The ladder is highest, and some part of ladder are old. To restrain accident, we go down one by one carefully and hold in part of ladder. About half hour, finally we are able to pass it without among of us are accident.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 My friends expression when are being successful pass the ladder

After one half hour past the dangerous street, finally we arrive at Langse cave. Arriving in front of cave gate, we are welcomed by an old woman who has about 65-70 years old. Based on her information, Langse cave is ever used meditation by Some Indonesia’ figures, such as Sunan Kalijaga, Soekarno President (the first of Indonesia President), Soeharto President ( the second of Indonesia President), Diponegoro Price, and Sudirman General (the first general of Indonesia), even some legislative candidates often visit this place before general election.

Arriving into the cave, there are many kinds of flowers that are around the main room, and one of side cave is found small coconut, besides the room cave consist of main two room. Generally, the senior hermit meditate in its room, however, the junior hermit meditate outside the main room which is bright.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Addition, the cave looks mystic and dangerous are the wave are strongest, even according some fishermen said they are not brave to take their boats on side beach, because those will broke by waves.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

This is my experience that unforgettable memory with six my friends for travelling the place of meditation of Indonesia’s figures. I get a point of this travelling that is brave to pass small street which make my adrenalin to be higher.

3 Kriteria Guru yang Disukai Anak Zaman Sekarang

iwanfoto

Bagi para blogger, reader masih ingat ngak bagaimana cara guru menghukum kamu ketika kamu tidak mengerjakan tugas atau ribut di kelas pada saat guru sedang mengajar di depan kelas. Ketika kamu masih SMA atau SMP. Pasti guru akan akan memukulmu dengan pengaris, di jemur di bawah sinar matahari.

Saya ingat beberapa tahun lalu, ketika saya masih menggunakan baju putih abu-abu. Kami satu kelas dihukum keliling lapangan sekolah sebanyak 5 kali sekitar pukul 12.00 oleh guru Bahasa Indonesia. Karena ribut di dalam kelas sambil menyanyikan lagu Bento. Bukan hanya itu saja, saya masih ingat sampai sekarang. Ketika SD kelas 4, saya dipukul dengan menggunakan penggaris kayu panjang oleh seorang guru Matematika karena tidak mengerjakan tugas.

Rupanya kekerasan yang dilakukan oleh para guru waktu sekolah dulu bukan hanya saya saja pernah mengalaminya. Sekitar 3 minggu lalu ketika saya dan beberapa teman nongkrong di sebuah burjo di daerah Gejayan, Sleman. Salah seorang dari teman sempat curhat tentang karakter anak zaman sekarang, hanya dikit dihukum guru sudah melapor ke orangtua. Kemudian, tanpa klarifikasi orangtua murid ke guru bersangkutan langsung melapor ke Polisi.

Satu persatu dari kami mulai cerita pengalamannya masa dulu. Ada teman yang dihukum hormat bendera selama 1,5 jam sambil kaki satu diangkat karena terlambat masuk sekolah. Ada juga teman ditampar guru karena ribut di kelas. Tapi, ia takut melapor ke orangtuanya, karena orangtuanya malah akan menamparnya lebih lagi.

Pendekatan melalui hukuman mungkin pantas diberlakukan pada zaman itu. Tapi, untuk zaman sekarang pendekatan dengan cara-cara hukuman tidak pantas diberlakukan. Salah satu alasannya adalah anak-anak zaman sekarang mempunyai mental yang lemah dibandingkan anak-anak zaman dulu. Dan juga zaman sekarang anak-anak dilindungi dengan undang-undang perlindungan anak.

Selama 3 tahun mengajar di sebuah komunitas yang mengajar anak-anak yang berusia 11-12 tahun. Saya mempunyai beberapa tips agar anak didik saya selalu mendengar saya, seperti:

Menjadi Pendengar yang Baik

Ketika anak-anak curhat kepada saya tentang cowok yang mereka taksir, film kesukaan mereka, game yang sedang mereka mainkan, dll, saya selalu mendengarkan mereka. Sampai cerita mereka berakhir, saya tidak akan komentar. Intinya saya menjadi pendengar yang baik buat mereka.

Beberapa bulan saya menjadi pendengar yang baik buat mereka. Mereka menghargai saya. Contoh kecilnya saja, ketika saya mengajar mereka mendengar dengan serius materi yang saya sampaikan.

Jangan Gunakan Cara Kekerasan

Saya masih ingat dulu ketika SMP kelas 2. Saya pernah dilempar dengan kapur oleh seorang guru mata pelajaran Fisika. Sebenarnya kesalahan saya sendiri, karena ketika guru fisika tersebut mengajar depan kelas. Malah, saya asik ngobrol dengan teman di samping saya.

Cara melempar kapur, menampar, mencubit, dan cara kekerasan lainnya tidak pantas diberlakukan untuk anak zaman sekarang. Karena dengan cara kekerasan anak-anak bisa menjadi pendendam, minder, dll.

Biasanya ketika seorang anak ribut ketika saya mengajar di depan kelas. Saya berhenti mengajar untuk sementara, terkadang meninggikan intonasi suara atau tidak saya datang kepada anak yang ribut, kemudian mengelus bahunya. Biasanya setelah itu anak yang sedang ribut akan berhenti dengan sendirinya.

Sebagai Guru Jadilah Teman Bagi Para Siswa

Menjadi guru bagi anak-anak sekarang. Seharusnya menjadi teman bagi mereka bukan menjadi seorang orang dewasa yang suka menengur, dan kelihatan seperti guru yang kelihatan gila hormat. Para siswa lebih suka guru yang menjadi teman buat mereka. Baik itu di dalam kelas. Maupun di media sosial, seperti Facebook, Instagram, dll.

Itulah 3 kriteria guru yang disukai oleh anak siswa zaman sekarang. Setiap zaman berbeda cara guru memperlakukan siswa-siswanya. Seorang guru yang berkualitas bisa beradaptasi dengan berbagai siswa yang berbeda karakter.

Jadikanlah Bersepeda Sebagai Life Style

Seorang profesor di School of Public Health, Minnesapolis yang bernama Robert Kane, M.D  dalam buku Rahasia Hidup Sehat Orang-Orang Tertua di Dunia karangan Dan Buettner menulis , cara memperpanjang usia adalah daripada melakukan olahraga demi olahraga itu sendiri, cobalah membuat perubahan pada gaya hidup Anda. Lebih memilih mengayuh sepeda daripada mengendarai mobil. Biasakanlah aktivitas tersebut sehingga menjadi gaya hidup Anda.

standar-web

Berhubungan dengan menganyuh sepeda sebagai gaya hidup. Saya sudah melakukannya sejak 3 tahun lalu. Awalnya saya sama sekali tidak tertarik untuk mengunakan sepeda. Pada saat itu, teman saya yang berasal dari Kabupaten Landak, Kalimantan Barat pulang libur ke kampung halaman. Ia menitipkan kepada saya sepedanya.

Selama teman saya liburan, dan kebetulan saat itu saya tidak ada kerjaan di kost. Saya menggunakan sepeda tersebut untuk mengunjugi beberapa tempat wisata yang ada di Yogyakarta, seperti Museum Affandi, Malioboro, dan Monumen Jogja Kembali (Monjali). Begitu juga ketika hendak membeli sarapan atau makan malam di warung makan. Saya selalu menggunakan sepeda.

Selama hampir 3 bulan menggunakan sepeda. Saya merasakan perubahan yang sangat draktis dalam tubuh saya. Beberapa penyakit yang sudah saya derita dari SMA kelas 1 sampai saya kuliah semester 4, seperti sesak nafas, tangan berkeringat, mudah cemas, dan denyut jantung tidak stabil. Saya merasakan sudah mulai sembuh.

Dulu, sebelum menggunakan sepeda. Saya selalu sesak nafas, tangan berkeringat, dan cepat cemas. Ketika saya berada di tempat dingin, seperti Kaliurang, Yogyakarta atau Kopeng, Kab. Semarang. Atau, pada saat saya mandi malam sekitar pukul 7. Tetapi setelah menggunakan sepeda selama 3 minggu. Ketika mandi malam atau berada di tempat-tempat yang bersuhu dingin. Tangan saya tidak basah atau saya cemas. Malah saya merasakan badan saya sangat bugar. Setelah teman saya yang mempunyai sepeda balik ke Jogja dan mengambil sepedanya.

Karena manfaat bersepeda mulai saya rasakan. Saya memutuskan untuk membeli sebuah sepeda. Sampai saat ini saya tetap mempertahankan komitmen bersepeda sebagai bagian dari life style saya (gaya hidup) dengan rasa enjoy dan happy. Selama 3 tahun ini. Untuk tetap mempertahakan gaya hidup bersepeda, saya mempuyai beberapa tips, yaitu:

Mengatur Waktu

Saat pertama-tama, saya berkomitmen untuk menjadikan bersepeda sebagai life style (gaya hidup) tidaklah muda.  Untuk mengatasinya. Saya harus mengatur waktu dengan baik. Misalnya, ketika jadwal kuliah pukul 08.00 wib. Saya sudah berangkat dari kost sekitar 7.15 wib, dan sampai kampus sekitar pukul 07.40 wb. Agar tetap konsentrasi dan tidak kelelahan di dalam kelas. Waktu yang sisa 20 menit sebelum masuk kelas, saya pergunakan untuk beristirahat atau minum teh atau kopi di kantin kampus. Begitu juga, jika jadwal kuliah pukul 12. 30 wib. Saya sudah berangkat dari kost pukul 11.00 wib. Waktu sisanya saya gunakan untuk membaca buku di Perpustakaan atau mengerjakan tugas.

Ketika mengunjugi sebuah Pameran di Jogja Museum Nasional, Yogyakarta, yang berjarak dari kost saya di Monjali sekitar 13 KM. Saya biasanya berangkat dari kost sekitar pukul 15.30 wib. Kemudian, balik ke kost sekitar pukul 18.30 wib. Tetapi sebelum memutuskan berangkat ke tempat pameran. Saya pastikan sebelumnya bahwa saya tidak mempunyai tugas kuliah yang harus dikerjakan. Supaya setelah pulang dari tempat pameran. Saya tidak bergadang untuk mengerjakan tugas-tugas, dan besok tidak terlambat masuk kuliah.

Begitu juga pada saat sudah kerja. Saya tetap menggunakan sepeda untuk bisa sampai ke Sekolah, tempat saya bekerja. Biasanya, untuk tidak terlambat masuk kerja, dan tidak terjebak kemacetan di Jalan. Saya biasanya berangkat dari kost pukul 06.30 wib. Sampai di tempat kerja sekitar pukul 07.15 wib. Waktu yang 15 menit. Saya biasakan untuk beristirahat sejenak.

dsc_0611

Komitmen

Menjadikan sepeda sebagai bagian dari gaya hidup tidaklah muda. Pada saat awal menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama saya sangatlah susah. Untuk menjaga komitmen itu tetap terjaga. Selama 1 minggu pertama, saya usahakan dalam satu hari untuk menggunakan sepeda satu kali. Kemudian, selama minggu kedua. Setiap harinya saya menggunakan sepeda 2-3 kali. Begitu seterusnya. Sampai saya tetap menggunakan sepeda kemanapun saya pergi. Meskipun jarak yang saya tempuh dengan bersepeda sangatlah jauh.

Selalu Enjoy dan Happy

Ketika pertama-tama rutin menggunakan sepeda. Saya merasa capek, terbebani, dan terkadang ada perasaan malu. Karena di Kampus jarang yang membawa sepeda. Tetapi lama kelamaan. Saya tidak malu. Malah yang ada rasa enjoy menggunakan sepeda setiap saat. Cara saya supanya tetap enjoy dan happy menggunakan sepeda. Saya menanamkan dalam diri saya, bahwa inilah gaya hidup saya. Saya ingin hidup sehat. Dan, ketika berhasil mengunjungi sebuah tempat dengan menggunakan sepeda. Ada rasa kepuasaan tersendiri dalam diri saya. Bahwa saya berhasil menaklukan tempat tersebut.

Selain itu yang membuat saya tetap enjoy dan happy, ketika mendayung sepeda di pagi hari di daerah yang banyak persawahannya. Saya merasakan paru-paru saya segar.

Ingat Target

Ketika rasa capek akibat menggunakan sepeda setiap hari. Dan, ingin rasanya menggunakan motor. Saya kembali ingat target utama saya. Saya bersepeda untuk bisa tetap sehat dan tetap bugar untuk setiap saat.

Untuk lebih rincinya manfaat-manfaat yang saya rasakan rutin bersepeda selama 3 tahun bisa dibaca dibawah ini:

1. Badan Terasa Ringan Dan Tidak Mudah Teserang Penyakit

Sebelum menggunakan sepeda. Ketikan kuliah pagi pukul 08.00 wib. Saya tidak bisa beranjak dari atas kasur. Saya sudah membuka mata sekitar pukul 07.00 wib. Tapi rasanya malas untuk bangun. Lalu terjadilah tawar menawar dalam hati untuk bagun 15 menit lagi. Tapi yang terjadi. Malah ketiduran sampai pukul 8 lewat. Akibatnya, saya tidak bisa kuliah.

Tetapi, setelah menggunakan sepeda. Badan saya terasa ringan. Setelah suara sholat subuh. Saya sudah bisa bangun. Sampai sekarangpun. Saya tetap teratur bangun pagi sekitar pukul 5. Manfaat yang saya rasakan bisa bangun pagi. Saya bisa mengatur aktivitas saya selama satu hari, saya tidak kena penyakit maag atau masuk angin karena terlambat makan, dan saya mempunyai waktu mempersiapkan bahan materi untuk diajarkan kepada para siswa di Sekolah.

Sejak rutin menggunakan sepeda. Saya jarang terserang penyakit. Mungkin hanya sekitar 10 kali dalam 3 tahun saya terserang penyakit flu dan demam. Ketika terkena penyakit saya tidak perlu minum obat. Saya hanya istirahat beberapa jam.

2. Beberapa Penyakit Sembuh

Sejak umur 16 tahun. Pernafasan saya tidak stabil setelah selesai berolahraga. Terkadang pada saat sedang bermain futsal atau basket selama 20 menit. Pernafasan saya mulai tidak teratur. Kemudian, saya merasakan bagian leher belakang saya seperti ditusuk jarum. Setelah itu saya merasakan pusing dan seperti ingin pingsan. Begitu ketika selesai mandi malam. Perasaan saya gelisah, tangan saya keringat tanpa sebab. Terkadang denyut jantung saya tidak stabil.

Setelah menggunakan sepeda sekitar 1 tahun lebih. Saya mulai merasakan manfaatnya dalam tubuh saya. Setelah beberapa tahun tidak bermain futsal. Saya diajak oleh teman bermain futsal. Selama bermain futsal, saya sama sekali tidak merasakan bagian leher saya ditusuk jarum. Atau, sesak nafas sama sekali. Begitu juga beberapa kali mandi malam. Saya sama sekali tidak merasakan tangan saya berkeringat dan tangan keringat.

3. Emosi Jadi Stabil dan Stress Jadi Hilang

Sebelum menjadikan mendayung sepeda sebagai gaya hidup. Saya sering cepat emosi. Ketika teman-teman berbeda pendapat dengan saya. Saya selalu marah. Begitu juga kalau saya stress karena tugas kuliah yang begitu banyak, nilai UTS saya rendah, uang kiriman terlambat datang. Intonasi suara saya tidak stabil terkadang keras. Beberapa menit kemudian lembut. Karakter saya kepada teman-teman. Terkadang sangat baik, dan beberapa menit kemudian saya emosi ke mereka.

Cara saya mengatasi stress. Ketika stress itu datang. Saya mendayung sepeda saya ke Malioboro. Dari kost saya ke Malioboro sekitar 10 KM atau pulang-pergi 20 KM. Selama mendayung sepeda rasa stress itu hilang begitu saya. Setelah pulang kost. Saya seperti merasakan pemikiran saya segar. Dan, intonasi suara saya sangat stabil. Begitu juga dengan emosi saya sangat stabil dan tenang.

4. Sikap Optimis

Selama saya menggunakan sepeda. Rasa optimis dalam diri saya terus bertumbuh. Contoh sederhana, saat saya sudah setengah perjalanan ke Malioboro. Rasa capek dan letih mulai terasa. Tetapi karena target untuk mencapai Malioboro. Dengan terpaksa dan rasa optimis saya harus bisa sampai ke Malioboro. Begitu saat pulang, ketika sudah magrib. Saat perjalanan pulang rasa capek dan lapar mulai terasa. Apapun resikonya. Saya harus mendayung sepeda saya. Supanya bisa sampai di kost.

5. Mendapatkan Banyak Inspirasi

Ada saja inspirasi atau ide yang saya dapat selama perjalan mendayung sepeda. Biasanya ide atau inspirasi itu muncul dari para penggendara motor, dari stiker-stiker yang ditempel di belakang badan mobil atau motor, berbagai karakter orang, dari reklame yang terpasang dimana-mana, dan dari para pedangang.

Memang untuk memulai tekat bersepeda sebagai bagian dari gaya hidup susah. Apalagi di kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dll. Cuaca yang cukup panas, polusi, kemacetan, dll merupakan beberapa tantangan yang banyak dihadapi oleh para pesepeda pemula.

Tetapi disitulah seninya dan tantangannya. Manfaat yang didapat dari bersepeda. Seimbang juga dengan tantangan yang didapatkan. Ayo mari jadikan bersepeda sebagai life style.

Menelusuri Kehidupan Seorang Pemberontak

Saya tidak ingin jadi pohon bambu, tetapi menjadi pohok oak yang berani menentang angin.    Soe Hoe Gie.

Selama ini PKI selalu dianggap sebagai korban dari kebijakan Presiden Soeharto. Dalam setiap tulisan dan pendapat-pendapat Soe Hoe Gie. Kita bisa melihat PKI dalam versi lain.

Sampai sekarang ini. Saya belum pernah membaca opini dan biografi seorang mahasiswa seperti Soe Hoe Gie. Seorang yang berprofesi sebagai penulis dan dosen di Universitas Indonesia yang berani mengkritik orde lama dan orde baru. Dalam setiap tulisannya ia selalu berani, tegas, dan lugas menyampaikan pemikirannya dan kritiknya.

soe_hok_gie

Sumber foto: fitri2701.blogspot.com 

Kisah hidup sang pemberontak di angkat dilayar lebar dengan judul Gie. Dalam film diceritakan tentang tumbuhnya rasa pemberontakan dalam diri Gie sejak SMP. Saat itu, Gie tidak menerima nilai yang diberikan oleh guru sastranya. Ia mengangap guru sastra berlaku diskiriminasi kepadanya. Keponaan guru yang bodoh mendapatkan nilai yang lebih bagus dibandingkan nilai Gie.

Sejak kejadian di bangku SMP. Pemberontakan terus muncul didalam dirinya. Puncaknya saat Gie (Nicloas Saputra) kuliah di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Ia sering mengkritik sistem pemerintahan Demokrasi Pimpinan, dan Nasakom yang diciptakan oleh Soekarno.  Salah satunya kritiknya kepada Presiden Soekarno. Ia berpendapat sistem pemerintahan Soekarno tidak lebih dengan sistem kerajaan-kerajaan di Jawi pada masa lalu yang mempunyai tiga gelar yaitu: 1. Gelar Politik, kawula in tanah Jawi. 2. Militer, senahpati jala jawa. 3. Gelar agama, Syeh Sahdin ngabdul Rahman. Dalam bertindak, Presiden Soekarno mempunyai isteri banyak dan mendirikan kraton-kraton.

Kisah Asmara Seorang Pemberontak

Soe Hoe Gie tidak seeksterim Tan Malaka dalam pemerjuangkan nasib rakyat. Gie seperti mahasiswa pada umumnya. Pernah suka dan dicintai oleh 2 orang perempuan. Yang pertama yang ia cintai dan sampai akhir hayatnya pun ia tetap cinta adalah Ira (Sita Nursanti) seorang mahasiswi teman se-fakultas Gie.  Sayang Ira tidak pernah jujur dengan perasaanya kepada Gie.

Setelah lengsernya Soekarno. Kemudian digantikan oleh Soeharto. Sita (Wulan Guritno) yang merupakan adik fakultas Gie sangat mencinta Gie. Beberapa bulan pendekatan. Gie dan Sita menjalin cinta selama beberapa bulan. Sampai suatu saat Sita sadar bahwa Gie tidak benar-benar mencintainya.

Pada akhir cerita. Sebelum Gie mendangki Gunung Semeru. Ia mengirim surat kepada Ira. Di dalam suratnya. Ia mencurahkan segala perasaanya kepada Ira, dan ia sangat mencintai Ira dibandingkan Sita.

Jejak Politik Gie

Gie mempunyai filosofi dalam memperjuangkan rakyat “mahasiswa mempunyai keputusan walaupun sekecil-kecilnya. Di dasarkan pada keputusan-keputusan yang dewasa. Mereka harus menyatakan benar diatas kebenaran dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas nama ormas, atau golongan apapun”.

Prinsip itulah yang saya lihat dalam film ini terapkan. Meskipun Gie bergabung dengan GMS (Gerakan Mahasiswa Sosialis) yang didukung oleh Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan Soemitro. Ia tetap pada prinsipnya. Jika pemerintah salah. Ia akan mengkritisinya. Salah satu contohnya. Pada saat PSI sudah masuk kedalam pemerintahan. Ia mengkritisinya.

Bukan hanya itu bisa menilai kosistenya. Jaka (Doni Alamsyah), salah seorang mahasiswa UI, orator, dan anggota Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) mengajaknya untuk gabung di dalam PMKRI dengan tegas ia menolaknnya. Begitu juga pada saat Han (Thomas Nawilis). Sahabatnya sejak kecil. Mengajaknya untuk gabung ke dalam Partai Komunis. Dengan tegas ia menolaknnya juga. Karena Gie berpendapat untuk memperkuat posisinya sebagai Presiden. Soekarno harus bergabung ke Partai Komunis.

Detik-Detik Kematian Sang Pemberontak

Sebelum sang pemberontak sejati ini mengakhiri perjuangannya. Ia sempat menulis sebuah opini di sebuah koran. Dalam opini yang berjudul “Di Sekitar Pembunuhan Besar-besaran di Pulau Bali”. Gie menulis tentang para anggota PKI banyak dibunuh di Bali. Di Pulau Dewata ini sekitar 80 ribu orang jiwa mati. Kaum yang nasakom dulunya setelah masa orba menjadi masa yang sangat kontra, membangkaran, pemerkosaan mereka yang dituduh gerwani.

Si pemilik filosofi Pohon Oek itu sudah tiada lagi. Ia meninggal pada bulan Desember 1960 karena menghirup zat beracun di Gunung Semeru. Indahnya kematiannya. Ia menghebuskan nafas terakhirnya dipangkuan sahabat karibnya, teman seperjuangannya masa kuliah dulu, Herman Lantang.

Secara keseluruhan film ini menurut saya sangat bagus. Karena menceritakan sisi lain dari sejarah Indonesia, tentang karakter Soekarno yang orang banyak belum tahu, tentang Soemitro, dan tentunya keadaan orde baru pada masa itu. Menurut saya isi yang disodorkan dalam film ini sangatlah kompleks. Mulai dari zaman orde lama dan sampai zaman orde baru. Secara tidak langsung pemahaman saya tentang surat perintah sebelas maret (supersemar) kepada Soeharto berubah.