Mengembangkan Literasi di Sebuah Kelas di Pelosok Indonesia Bagian Barat

1

Buku adalah sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan dan membaca buku sama dengan membuka jendela dunia. Beberapa minggu yang lalu, saya membaca sebuah quote dari Robert Downs dalam bukunya yang berjudul in My Life, dua kekuatan yang berhasil mempengaruhi pendidikan manusia: seni dan sains. Keduanya bertemu dalam buku.

Berhubungan dengan buku, saya baru mengenal banyak judul buku dan jenis-jenis buku saat saya kuliah di Yogyakarta. Dari kecil sampai SMA, saya tinggal di Gunungsitoli, Pulau Nias, Sumatra Utara. Karena tinggal di sebuah pulau kecil yang sangat jauh dari ibu kota dan di tempat saya tinggal dari dulu sampai sekarang tidak ada sama sekali yang namanya toko buku, seperti Toko Buku Togamas atau Toko Buku Andi Offset buku yang saya bisa baca sangat dikit, meskipun saya mempunyai hobi membaca.

Saya masih ingat dulu, bahan bacaan anak yang saya selalu tunggu setiap bulan adalah buku cerita rakyat bergambar yang ada di dalam kotak susu dancow. Selebihnya untuk bisa membaca buku-buku, saya meminjam kepada teman, walaupun sekarang saya baru sadar buku-buku bacaan yang saya pinnjam dulunya  lebih pantas dibaca oleh orang dewasa.

Setelah tamat SMA, saya kuliah jurusan sastra Inggris di sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Yogyakarta. Di kota pendidikan inilah saya banyak membaca buku. Pada tahun ketiga saya kuliah, saya menjadi volunteer di sebuah perpustakaan anak, Bledug Mrapi, Nandan. Di tempat ini saya banyak belajar dari teman-teman mahasiswa dari UGM, UIN, UII yang juga sama-sama volunteer di perpustakaan ini.

Dari hasil diskusi dengan mereka, saya mempunyai mimpi suatu hari kelak, ketika pulang kampung saya ingin membuat sebuah perpustakaan mini dan mendorong anak-anak nias untuk membaca. Impian saya ini sempat saya ceritakan kepada pemilik perpustakaan Bledug Mrapi, ia sangat mendukung niat baik ini. Beberapa kali ia sempat menyumbangkan buku ke Pulau Nias melalui saya. Untuk lebih lengkap cerita saya tentang mengirim buku-buku di, bisa klik link ini https://www.kompasiana.com/iwan02/melahirkan-generasi-anak-pulau-nias-yang-tak-buta-ilmu-pengetahuan_5743a1ba707e6120048b4583

Singkat cerita, setelah 6 tahun berada di Yogyakarta, saya memutuskan untuk pulang kampung. Beberapa bulan di Gunungsitoli, tepatnya bulan 7 tahun 2017, saya keterima menjadi guru bahasa asing di kelas 10 Usaha Perjalanan Wisata (UPW), SMK Negeri 1 Dharma Caraka Gunungsitoli Selatan yang beralamat di jalan arah pelud Binaka KM.09, Onamolo I Lot, Kecamatan Gunungsitoli Selatan.

Setelah 3 minggu saya mengajar di sekolah ini. Saya memberikan tugas kerja kelompok kepada para siswa kelas 10 UPW. Satu minggu kemudian dari waktu yang telah ditentukan untuk mereka presentasi akhirnya tiba. Saya sangat terkejut hanya 1 dari 3 kelompok yang mengerjakan. 2 kelompok yang belum mengerjakan memberikan alasan kepada saya, pak kami binggung menulis paper dan susah mencari bahan.

Oleh karenanya, saya mengajak mereka ke perpustakaan sekolah, tetapi beberapa siswa mengatakan kepada saya, “Pak perpustakaan tidak pernah dibuka”.  Untuk memastikan informasi dari siswa ini, sayapun menanyakan kepada beberapa teman guru. Dari teman-teman guru, saya mendapatkan informasi bahwa benar yang dikatakan oleh beberapa siswa perpustakaan sangat jarang dibuka. Selain itu juga, pegawai yang mengurus perpustakaan bukan pegawai perpustakaan atau pustakawan yang dipekerjakan oleh sekolah, tetapi guru agama yang merangkap sebagai yang mengurus perpustakaan.

Dari pengalaman diatas dan didorong oleh impian saya ketika masih di Yogyakarta. Saya mencoba berdiskusi dengan Ka. Prodi jurusan Usaha Perjalanan Wisata (UPW), dia pun sangat setuju karena salah satu kurikulum K-13 adalah mengembangkan literasi. Lalu, saya menyuruh para siswa kelas 10 UPW untuk membuat rak buk. Beberapa minggu, saya tunggu rak buku tidak selesai. Sayapun inisiatif sendiri untuk membuat demi mereka.

Setelah rak buku ada, permasalahan yang saya hadapi seterusnya adalah buku-buku yang diisi dalam perpustakaan mini tersebut. Kemudian saya mengusulkan kepada salah seorang untuk untuk masing-masing kami guru yang mengajar di UPW menyumbang buku dan anak-anak juga menyumbang buku-buku. 1 minggu kemudian buku akhirnya terkumpul, tetapi buku-buku yang terkumpul tidak membuat para siswa tertarik untuk membacanya

Dari semua judul buku-buku yang ada di perpustakaan mini kelas 10 UPW kebanyakan merupakan buku-buku lama.  Tetapi, bagaimana lagi mendapatkan buku-buku terbaru di Pulau Nias sangat susah. Kebanyakan buku-buku di nias di pesan dari luar daerah Nias.

Beberapa kali, saya mengajar para siswa tidak pernah membaca buku-buku yang ada di pojok mini perpustakaan. Ada beberapa faktor para siswa malas membaca, yaitu: 1. Buku-buku yang ada di perpustakaan mini tidak menarik untuk dibaca. 2. Rata-rata para siswa kelas 10 UPW berasal dari latar belakang keluarga menengah ke bawah, yang membeli buku bacaan tidak mampu. 3. Para siswa kelas 10 UPW berasal dari SMP yang tidak didorong untuk mengembangkan budaya literasi (masalah umum di Pulau Nias). 4. Kebanyakan berasal dari Kabupaten Nias (salah satu daerah 3T).

Iming-iming nilai

1

Untuk mendorong para siswa kelas 10 UPW untuk membaca. Saya sedikit memberikan iming-iming hadiah berupa nilai. Pertama, saya menyuruh mereka untuk membaca buku yang ada di perpustakaan mini kelas selama 15 menit diawal jam pelajaran saya mengajar. Setelah mereka selesai membaca. Saya menggunakan waktu 5 menit untuk 2-3 siswa menceritakan kembali isi buku yang telah mereka baca di depan kelas. Tujuan saya melakukan ini. Supanya para siswa lain termotivasi untuk membaca buku yang diceritakan oleh siswa yang bercerita di depan kelas (Untuk menonton video siswa yang bercerita di depan kelas, bisa dilihat di https://www.facebook.com/jurusan.pariwisata.3).

2

(Ketika seorang siswa sedang menceritakan di depan kelas buku yang telah ia baca)

Sementara, bagi siswa yang tidak sempat bercerita di depan kelas. Mereka menulis atau mereview buku yang telah mereka baca. Kemudian, hasil review tersebut, ditempelkan di sebuah madinng yang berada di dinding depan kelas. Supanya, para siswa kelas 10 UPW bisa membaca hasil review temannya dan tertarik untuk membaca buku yang telah direview.

3

Umumnya di Pulau Nias budaya literasi sangat kurang. Anak-anak kurang tertarik dalam membaca. Sementara beberapa guru hanya mencoba mengerakan literasi karena termasuk dalam K13. Selain daripada itu, buku-buku yang bermutu di Nias sangatlah kurang. Akibatnya, bahan bacaan anak-anak yang suka membaca malah buku-buku dewasa. Oleh karenanya sudah saatnya di setiap daerah terpencil ditempatkan agen-agen literasi dengan pembinaan dari pusat. Supanya agen-agen literasi ini dapat memotivasi dan membagikan ilmu tentang cara membaca buku yang baik dan  mereview sebuah buku.

Itulah sepenggal cerita saya dari Pulau Nias untuk menyemangati para siswa kelas 10 UPW SMKN. 1 Dharma Caraka dalam hal membaca buku.

Advertisements

6 Keuntungan Meminjam Uang di Credit Union

pinjaman-dana-di-Magelang-1

Semakin hari uang sangat dibutuhkan. Sekarang ini banyak orang sangat membutuhkan uang untuk keperluan mendesak, seperti membeli obat-obatan, kebutuhan sekolah anak, dll. Terkadang beberapa perusahaan simpan-pinjam atau orang-orang yang mempunyai harta berlebihan memanfaatkan keterdesakan masyarakat dengan memberikan pinjaman uang dengan bunga pinjaman yang sangat tinggi. Terkadang akibat bunga pinjaman yang sangat tinggi, peminjam tidak dapat mengangsur tiap bulan atau minggu uang pinjaman yang sebelumnya telah dipinjam. Ia hanya sibuk membanyar bunga setiap bulan atau minggu.

Supaya calon peminjam uang tidak terjebak dalam permainan para pengusaha atau perusahaan yang memberikan pinjaman. Sebaiknya, seorang yang lagi membutuhkan uang tahu  lembaga-lembaga simpan-pijam yang tidak memberatkan para nasabah atau orang yang meminjam uang.

Salah satu lembaga simpan pinjam yang menurut saya sangat bagus adalah Credit Union (CU). Berdasarkan pengalaman teman-teman saya yang ada di Kalimantan, Yogyakarta, dan keluarga saya sendiri yang pernah meminjam uang di CU, ada beberapa keuntungan yang mereka peroleh dari meminjam uang di Credit Union (CU), yaitu:

1. Bunga Pinjaman yang Rendah

Jika di beberapa bank bunga pinjaman dari awal meminjam sampai akhir sekitar 2% keatas. Berbeda dengan yang berlaku di Credit Union (CU), bunga uang pinjaman diawal meminjam sekitar 1,85%, tetapi semakin bulan pembayaran bunga dan uang pinjaman, maka bunga uang semakin berkurang. Tidak menutup kemungkinan pada akhir pembanyar bunga pinjaman hanya sekitar 0, 5 %.

2. Tidak Mempunyai Batas Pembayaran

Di beberapa perusahaan atau bank yang memberikan pinjaman, seseorang yang telah meminjam uang harus membayar angsuran pinjaman bersama dengan bunga pinjaman tiap bulan sampai batas yang ditentukan. Di Credit Union (CU) agak sedikit berbeda aturannya, bagi seorang nasabah CU yang mampu membayar pinjamannya secara keseluruhan pada bulan ke 6 dari jangka angsuran selama 2 tahun. Pihak CU memperbolehkannya dan ia hanya membayar nominal uang yang ia pinjam tanpa harus membayar bunga secara keseluruhan.

3. Sebagian Bunga Pinjaman Masuk ke Dalam Rekening Nasabah

Keuntungan yang diperoleh dari meminjam di Credit Union adalah hasil dari keseluruhan bunga pinjaman yang dibayar oleh nasabah yang meminjam akan masuk ke rekening nasabah sekitar 2-3%.

4. Tidak Mendapatkan Berbagai Potongan

Beberapa pengalaman yang anggota keluarga saya alami adalah ketika meminjam di bank sekitar 100 juta. Nominal uang yang dicairkan oleh bank tidak sepenuhnya 100 juta, tetapi sekitar 95 juta. Pemotongan pinjaman karena pajak, pontongan dari dinas terkait, dll.

Berbeda dengan di CU, jika seorang nasabah meminjam 100 juta, maka uang yang akan didapatkan oleh nasabah yang meminjam uang 100 juta juga.

 5. Tidak Terdapat Berbagai Potongan

Beberapa bank yang saya lihat selama ini, banyak memberlakukan potongan. Misalnya seorang PNS meminjam kredit di sebuah bank daerah sekitar 100 juta. Total yang ia dapatkan tidak bersih seratus 100 juta rupiah mungkin hanya sekitar 96 juta rupiah, karena mendapatkan berbagai potongan dari bank, dinas terkait, dll.

6. Proses Pecairan Dana Cepat

Beberapa bulan yang lalu, saudara saya meminjam uang di CU senilai 20 juta. Proses pencairan dana cepat hanya sekitar 3-4 hari.

Itulah beberapa keuntungan meminjam uang di CU. Saya menulis ini bukan berarti saya menjelek-jelekkan perusahaan simpan-pinjam. Tetapi, saya hanya memberikan pertimbangan bagi masyarakat terkhususnya golongan menengah-kebawah.

 

 

Sumber foto : situsmagelang.com

 

 

 

Malas Berpikir

18882007_1594232257268181_2104511552857963900_n

Beberapa bulan yang lalu ketika saya masih berada di kota yang menurut media dan pemerintah, salah satu provinsi yang paling toleran di Indonesia. Saya sering mendengar dari teman-teman yang sedang mencari kos, pertanyaan pertama yg selalu muncul ditanyakan oleh ibu pemilik kos, “mas asalnya darimana?”. Biasanya mahasiswa baru yang pertama datang dari kampung dengan polos menjawab “saya dari salah satu kota di daerah Indonesia Timur mbak”. Dengan sedikit wajah agak cuek, si ibu pemilik kos biasanya mengatakan “maaf mas kamar disini penuh semua”. Duka yang lain menjadi seorang anak kos, saat dari jauh seorang mahasiswa dengan wajah sangar, hitam pekat, dan keriting menanyakan kos. Sebelum pertanyaan dari mahasiswa ini selesai si pemilik kos sudah menjawab “maaf disini kamar penuh mas”.

Penolakan-penolakan seperti diatas bukan tanpa alasan, meskipun ada kamar kosong, tetapi si pemilik kos mengatakan kamar sudah penuh. Salah satu penolakan semacam ini terjadi, karena ditengah-tengah masyarakat sekitar kos beredar kabar daerah, mahasiswa dari kota Indonesia bagian timur suka buat onar. Bukan hanya itu saja terkadang mahasiswa yang hitam pekat, keriting, dan bersuara keras adalah orang yang mempunyai karakter buruk. Tak ada salah berandai-andai, seandainya pemilik kos berpikir tidak semua dari mahasiswa dari kota tersebut mempunyai karakter buruk. Pasti tidak adanya penolakan dan dendam terselubung. Kemalasan berpikir akan menimbulkan saling menghakimi dan membenci satu sama lain.

Travelling at the Cave of Indonesia’ Figures are meditated

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

No have plan to go in the cave of place of Indonesia’ figures often meditate in the past. But, our planning appears when we have got up on gliding place, Gantole. In early morning, we are being confuse where we go after it. A minute later, one of our friends suggests to us, perhaps we can go to Langse Cave, then we agree her planning. However, all of us do not know where its location. Then, one of us is searching on Google map, where the cave’s location. A few minutes later, we get it.

Using motorcycle, we leave from gliding place to Langse cave about 2 hours by motorcycle. We arrive in a house where we park our motorcycles, and there we pay Rp. 5.000 as parking cost. Later, we go to Langse Cave with walking through a biggest garden for one hour. Then, we arrive on the street which is its wide only half meter. Besides, on the right the street is ravine which under are biggest stones, and on the left the street is mountain side.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

When two my friends are passing small street carefully. You can look at under street right is sea

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

One of our friends thinks we might back, because she is afraid look at around the street. Because, many of us agree continue our travelling to the cave, so she agree too. We still go to the cave. Few meters at the straight street, we arrive at the dangerous street, must hold some roots which is bunched using old string, and walk carefully.

About 50 meter hold the string, we must use ladder to go down to the dangerous street. The ladder is highest, and some part of ladder are old. To restrain accident, we go down one by one carefully and hold in part of ladder. About half hour, finally we are able to pass it without among of us are accident.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 My friends expression when are being successful pass the ladder

After one half hour past the dangerous street, finally we arrive at Langse cave. Arriving in front of cave gate, we are welcomed by an old woman who has about 65-70 years old. Based on her information, Langse cave is ever used meditation by Some Indonesia’ figures, such as Sunan Kalijaga, Soekarno President (the first of Indonesia President), Soeharto President ( the second of Indonesia President), Diponegoro Price, and Sudirman General (the first general of Indonesia), even some legislative candidates often visit this place before general election.

Arriving into the cave, there are many kinds of flowers that are around the main room, and one of side cave is found small coconut, besides the room cave consist of main two room. Generally, the senior hermit meditate in its room, however, the junior hermit meditate outside the main room which is bright.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Addition, the cave looks mystic and dangerous are the wave are strongest, even according some fishermen said they are not brave to take their boats on side beach, because those will broke by waves.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

This is my experience that unforgettable memory with six my friends for travelling the place of meditation of Indonesia’s figures. I get a point of this travelling that is brave to pass small street which make my adrenalin to be higher.

3 Kriteria Guru yang Disukai Anak Zaman Sekarang

iwanfoto

Bagi para blogger, reader masih ingat ngak bagaimana cara guru menghukum kamu ketika kamu tidak mengerjakan tugas atau ribut di kelas pada saat guru sedang mengajar di depan kelas. Ketika kamu masih SMA atau SMP. Pasti guru akan akan memukulmu dengan pengaris, di jemur di bawah sinar matahari.

Saya ingat beberapa tahun lalu, ketika saya masih menggunakan baju putih abu-abu. Kami satu kelas dihukum keliling lapangan sekolah sebanyak 5 kali sekitar pukul 12.00 oleh guru Bahasa Indonesia. Karena ribut di dalam kelas sambil menyanyikan lagu Bento. Bukan hanya itu saja, saya masih ingat sampai sekarang. Ketika SD kelas 4, saya dipukul dengan menggunakan penggaris kayu panjang oleh seorang guru Matematika karena tidak mengerjakan tugas.

Rupanya kekerasan yang dilakukan oleh para guru waktu sekolah dulu bukan hanya saya saja pernah mengalaminya. Sekitar 3 minggu lalu ketika saya dan beberapa teman nongkrong di sebuah burjo di daerah Gejayan, Sleman. Salah seorang dari teman sempat curhat tentang karakter anak zaman sekarang, hanya dikit dihukum guru sudah melapor ke orangtua. Kemudian, tanpa klarifikasi orangtua murid ke guru bersangkutan langsung melapor ke Polisi.

Satu persatu dari kami mulai cerita pengalamannya masa dulu. Ada teman yang dihukum hormat bendera selama 1,5 jam sambil kaki satu diangkat karena terlambat masuk sekolah. Ada juga teman ditampar guru karena ribut di kelas. Tapi, ia takut melapor ke orangtuanya, karena orangtuanya malah akan menamparnya lebih lagi.

Pendekatan melalui hukuman mungkin pantas diberlakukan pada zaman itu. Tapi, untuk zaman sekarang pendekatan dengan cara-cara hukuman tidak pantas diberlakukan. Salah satu alasannya adalah anak-anak zaman sekarang mempunyai mental yang lemah dibandingkan anak-anak zaman dulu. Dan juga zaman sekarang anak-anak dilindungi dengan undang-undang perlindungan anak.

Selama 3 tahun mengajar di sebuah komunitas yang mengajar anak-anak yang berusia 11-12 tahun. Saya mempunyai beberapa tips agar anak didik saya selalu mendengar saya, seperti:

Menjadi Pendengar yang Baik

Ketika anak-anak curhat kepada saya tentang cowok yang mereka taksir, film kesukaan mereka, game yang sedang mereka mainkan, dll, saya selalu mendengarkan mereka. Sampai cerita mereka berakhir, saya tidak akan komentar. Intinya saya menjadi pendengar yang baik buat mereka.

Beberapa bulan saya menjadi pendengar yang baik buat mereka. Mereka menghargai saya. Contoh kecilnya saja, ketika saya mengajar mereka mendengar dengan serius materi yang saya sampaikan.

Jangan Gunakan Cara Kekerasan

Saya masih ingat dulu ketika SMP kelas 2. Saya pernah dilempar dengan kapur oleh seorang guru mata pelajaran Fisika. Sebenarnya kesalahan saya sendiri, karena ketika guru fisika tersebut mengajar depan kelas. Malah, saya asik ngobrol dengan teman di samping saya.

Cara melempar kapur, menampar, mencubit, dan cara kekerasan lainnya tidak pantas diberlakukan untuk anak zaman sekarang. Karena dengan cara kekerasan anak-anak bisa menjadi pendendam, minder, dll.

Biasanya ketika seorang anak ribut ketika saya mengajar di depan kelas. Saya berhenti mengajar untuk sementara, terkadang meninggikan intonasi suara atau tidak saya datang kepada anak yang ribut, kemudian mengelus bahunya. Biasanya setelah itu anak yang sedang ribut akan berhenti dengan sendirinya.

Sebagai Guru Jadilah Teman Bagi Para Siswa

Menjadi guru bagi anak-anak sekarang. Seharusnya menjadi teman bagi mereka bukan menjadi seorang orang dewasa yang suka menengur, dan kelihatan seperti guru yang kelihatan gila hormat. Para siswa lebih suka guru yang menjadi teman buat mereka. Baik itu di dalam kelas. Maupun di media sosial, seperti Facebook, Instagram, dll.

Itulah 3 kriteria guru yang disukai oleh anak siswa zaman sekarang. Setiap zaman berbeda cara guru memperlakukan siswa-siswanya. Seorang guru yang berkualitas bisa beradaptasi dengan berbagai siswa yang berbeda karakter.