Mengembangkan Literasi di Sebuah Kelas di Pelosok Indonesia Bagian Barat

1

Buku adalah sumber dari segala sumber ilmu pengetahuan dan membaca buku sama dengan membuka jendela dunia. Beberapa minggu yang lalu, saya membaca sebuah quote dari Robert Downs dalam bukunya yang berjudul in My Life, dua kekuatan yang berhasil mempengaruhi pendidikan manusia: seni dan sains. Keduanya bertemu dalam buku.

Berhubungan dengan buku, saya baru mengenal banyak judul buku dan jenis-jenis buku saat saya kuliah di Yogyakarta. Dari kecil sampai SMA, saya tinggal di Gunungsitoli, Pulau Nias, Sumatra Utara. Karena tinggal di sebuah pulau kecil yang sangat jauh dari ibu kota dan di tempat saya tinggal dari dulu sampai sekarang tidak ada sama sekali yang namanya toko buku, seperti Toko Buku Togamas atau Toko Buku Andi Offset buku yang saya bisa baca sangat dikit, meskipun saya mempunyai hobi membaca.

Saya masih ingat dulu, bahan bacaan anak yang saya selalu tunggu setiap bulan adalah buku cerita rakyat bergambar yang ada di dalam kotak susu dancow. Selebihnya untuk bisa membaca buku-buku, saya meminjam kepada teman, walaupun sekarang saya baru sadar buku-buku bacaan yang saya pinnjam dulunya  lebih pantas dibaca oleh orang dewasa.

Setelah tamat SMA, saya kuliah jurusan sastra Inggris di sebuah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Yogyakarta. Di kota pendidikan inilah saya banyak membaca buku. Pada tahun ketiga saya kuliah, saya menjadi volunteer di sebuah perpustakaan anak, Bledug Mrapi, Nandan. Di tempat ini saya banyak belajar dari teman-teman mahasiswa dari UGM, UIN, UII yang juga sama-sama volunteer di perpustakaan ini.

Dari hasil diskusi dengan mereka, saya mempunyai mimpi suatu hari kelak, ketika pulang kampung saya ingin membuat sebuah perpustakaan mini dan mendorong anak-anak nias untuk membaca. Impian saya ini sempat saya ceritakan kepada pemilik perpustakaan Bledug Mrapi, ia sangat mendukung niat baik ini. Beberapa kali ia sempat menyumbangkan buku ke Pulau Nias melalui saya. Untuk lebih lengkap cerita saya tentang mengirim buku-buku di, bisa klik link ini https://www.kompasiana.com/iwan02/melahirkan-generasi-anak-pulau-nias-yang-tak-buta-ilmu-pengetahuan_5743a1ba707e6120048b4583

Singkat cerita, setelah 6 tahun berada di Yogyakarta, saya memutuskan untuk pulang kampung. Beberapa bulan di Gunungsitoli, tepatnya bulan 7 tahun 2017, saya keterima menjadi guru bahasa asing di kelas 10 Usaha Perjalanan Wisata (UPW), SMK Negeri 1 Dharma Caraka Gunungsitoli Selatan yang beralamat di jalan arah pelud Binaka KM.09, Onamolo I Lot, Kecamatan Gunungsitoli Selatan.

Setelah 3 minggu saya mengajar di sekolah ini. Saya memberikan tugas kerja kelompok kepada para siswa kelas 10 UPW. Satu minggu kemudian dari waktu yang telah ditentukan untuk mereka presentasi akhirnya tiba. Saya sangat terkejut hanya 1 dari 3 kelompok yang mengerjakan. 2 kelompok yang belum mengerjakan memberikan alasan kepada saya, pak kami binggung menulis paper dan susah mencari bahan.

Oleh karenanya, saya mengajak mereka ke perpustakaan sekolah, tetapi beberapa siswa mengatakan kepada saya, “Pak perpustakaan tidak pernah dibuka”.  Untuk memastikan informasi dari siswa ini, sayapun menanyakan kepada beberapa teman guru. Dari teman-teman guru, saya mendapatkan informasi bahwa benar yang dikatakan oleh beberapa siswa perpustakaan sangat jarang dibuka. Selain itu juga, pegawai yang mengurus perpustakaan bukan pegawai perpustakaan atau pustakawan yang dipekerjakan oleh sekolah, tetapi guru agama yang merangkap sebagai yang mengurus perpustakaan.

Dari pengalaman diatas dan didorong oleh impian saya ketika masih di Yogyakarta. Saya mencoba berdiskusi dengan Ka. Prodi jurusan Usaha Perjalanan Wisata (UPW), dia pun sangat setuju karena salah satu kurikulum K-13 adalah mengembangkan literasi. Lalu, saya menyuruh para siswa kelas 10 UPW untuk membuat rak buk. Beberapa minggu, saya tunggu rak buku tidak selesai. Sayapun inisiatif sendiri untuk membuat demi mereka.

Setelah rak buku ada, permasalahan yang saya hadapi seterusnya adalah buku-buku yang diisi dalam perpustakaan mini tersebut. Kemudian saya mengusulkan kepada salah seorang untuk untuk masing-masing kami guru yang mengajar di UPW menyumbang buku dan anak-anak juga menyumbang buku-buku. 1 minggu kemudian buku akhirnya terkumpul, tetapi buku-buku yang terkumpul tidak membuat para siswa tertarik untuk membacanya

Dari semua judul buku-buku yang ada di perpustakaan mini kelas 10 UPW kebanyakan merupakan buku-buku lama.  Tetapi, bagaimana lagi mendapatkan buku-buku terbaru di Pulau Nias sangat susah. Kebanyakan buku-buku di nias di pesan dari luar daerah Nias.

Beberapa kali, saya mengajar para siswa tidak pernah membaca buku-buku yang ada di pojok mini perpustakaan. Ada beberapa faktor para siswa malas membaca, yaitu: 1. Buku-buku yang ada di perpustakaan mini tidak menarik untuk dibaca. 2. Rata-rata para siswa kelas 10 UPW berasal dari latar belakang keluarga menengah ke bawah, yang membeli buku bacaan tidak mampu. 3. Para siswa kelas 10 UPW berasal dari SMP yang tidak didorong untuk mengembangkan budaya literasi (masalah umum di Pulau Nias). 4. Kebanyakan berasal dari Kabupaten Nias (salah satu daerah 3T).

Iming-iming nilai

1

Untuk mendorong para siswa kelas 10 UPW untuk membaca. Saya sedikit memberikan iming-iming hadiah berupa nilai. Pertama, saya menyuruh mereka untuk membaca buku yang ada di perpustakaan mini kelas selama 15 menit diawal jam pelajaran saya mengajar. Setelah mereka selesai membaca. Saya menggunakan waktu 5 menit untuk 2-3 siswa menceritakan kembali isi buku yang telah mereka baca di depan kelas. Tujuan saya melakukan ini. Supanya para siswa lain termotivasi untuk membaca buku yang diceritakan oleh siswa yang bercerita di depan kelas (Untuk menonton video siswa yang bercerita di depan kelas, bisa dilihat di https://www.facebook.com/jurusan.pariwisata.3).

2

(Ketika seorang siswa sedang menceritakan di depan kelas buku yang telah ia baca)

Sementara, bagi siswa yang tidak sempat bercerita di depan kelas. Mereka menulis atau mereview buku yang telah mereka baca. Kemudian, hasil review tersebut, ditempelkan di sebuah madinng yang berada di dinding depan kelas. Supanya, para siswa kelas 10 UPW bisa membaca hasil review temannya dan tertarik untuk membaca buku yang telah direview.

3

Umumnya di Pulau Nias budaya literasi sangat kurang. Anak-anak kurang tertarik dalam membaca. Sementara beberapa guru hanya mencoba mengerakan literasi karena termasuk dalam K13. Selain daripada itu, buku-buku yang bermutu di Nias sangatlah kurang. Akibatnya, bahan bacaan anak-anak yang suka membaca malah buku-buku dewasa. Oleh karenanya sudah saatnya di setiap daerah terpencil ditempatkan agen-agen literasi dengan pembinaan dari pusat. Supanya agen-agen literasi ini dapat memotivasi dan membagikan ilmu tentang cara membaca buku yang baik dan  mereview sebuah buku.

Itulah sepenggal cerita saya dari Pulau Nias untuk menyemangati para siswa kelas 10 UPW SMKN. 1 Dharma Caraka dalam hal membaca buku.

Advertisements

6 Keuntungan Meminjam Uang di Credit Union

pinjaman-dana-di-Magelang-1

Semakin hari uang sangat dibutuhkan. Sekarang ini banyak orang sangat membutuhkan uang untuk keperluan mendesak, seperti membeli obat-obatan, kebutuhan sekolah anak, dll. Terkadang beberapa perusahaan simpan-pinjam atau orang-orang yang mempunyai harta berlebihan memanfaatkan keterdesakan masyarakat dengan memberikan pinjaman uang dengan bunga pinjaman yang sangat tinggi. Terkadang akibat bunga pinjaman yang sangat tinggi, peminjam tidak dapat mengangsur tiap bulan atau minggu uang pinjaman yang sebelumnya telah dipinjam. Ia hanya sibuk membanyar bunga setiap bulan atau minggu.

Supaya calon peminjam uang tidak terjebak dalam permainan para pengusaha atau perusahaan yang memberikan pinjaman. Sebaiknya, seorang yang lagi membutuhkan uang tahu  lembaga-lembaga simpan-pijam yang tidak memberatkan para nasabah atau orang yang meminjam uang.

Salah satu lembaga simpan pinjam yang menurut saya sangat bagus adalah Credit Union (CU). Berdasarkan pengalaman teman-teman saya yang ada di Kalimantan, Yogyakarta, dan keluarga saya sendiri yang pernah meminjam uang di CU, ada beberapa keuntungan yang mereka peroleh dari meminjam uang di Credit Union (CU), yaitu:

1. Bunga Pinjaman yang Rendah

Jika di beberapa bank bunga pinjaman dari awal meminjam sampai akhir sekitar 2% keatas. Berbeda dengan yang berlaku di Credit Union (CU), bunga uang pinjaman diawal meminjam sekitar 1,85%, tetapi semakin bulan pembayaran bunga dan uang pinjaman, maka bunga uang semakin berkurang. Tidak menutup kemungkinan pada akhir pembanyar bunga pinjaman hanya sekitar 0, 5 %.

2. Tidak Mempunyai Batas Pembayaran

Di beberapa perusahaan atau bank yang memberikan pinjaman, seseorang yang telah meminjam uang harus membayar angsuran pinjaman bersama dengan bunga pinjaman tiap bulan sampai batas yang ditentukan. Di Credit Union (CU) agak sedikit berbeda aturannya, bagi seorang nasabah CU yang mampu membayar pinjamannya secara keseluruhan pada bulan ke 6 dari jangka angsuran selama 2 tahun. Pihak CU memperbolehkannya dan ia hanya membayar nominal uang yang ia pinjam tanpa harus membayar bunga secara keseluruhan.

3. Sebagian Bunga Pinjaman Masuk ke Dalam Rekening Nasabah

Keuntungan yang diperoleh dari meminjam di Credit Union adalah hasil dari keseluruhan bunga pinjaman yang dibayar oleh nasabah yang meminjam akan masuk ke rekening nasabah sekitar 2-3%.

4. Tidak Mendapatkan Berbagai Potongan

Beberapa pengalaman yang anggota keluarga saya alami adalah ketika meminjam di bank sekitar 100 juta. Nominal uang yang dicairkan oleh bank tidak sepenuhnya 100 juta, tetapi sekitar 95 juta. Pemotongan pinjaman karena pajak, pontongan dari dinas terkait, dll.

Berbeda dengan di CU, jika seorang nasabah meminjam 100 juta, maka uang yang akan didapatkan oleh nasabah yang meminjam uang 100 juta juga.

 5. Tidak Terdapat Berbagai Potongan

Beberapa bank yang saya lihat selama ini, banyak memberlakukan potongan. Misalnya seorang PNS meminjam kredit di sebuah bank daerah sekitar 100 juta. Total yang ia dapatkan tidak bersih seratus 100 juta rupiah mungkin hanya sekitar 96 juta rupiah, karena mendapatkan berbagai potongan dari bank, dinas terkait, dll.

6. Proses Pecairan Dana Cepat

Beberapa bulan yang lalu, saudara saya meminjam uang di CU senilai 20 juta. Proses pencairan dana cepat hanya sekitar 3-4 hari.

Itulah beberapa keuntungan meminjam uang di CU. Saya menulis ini bukan berarti saya menjelek-jelekkan perusahaan simpan-pinjam. Tetapi, saya hanya memberikan pertimbangan bagi masyarakat terkhususnya golongan menengah-kebawah.

 

 

Sumber foto : situsmagelang.com

 

 

 

Malas Berpikir

18882007_1594232257268181_2104511552857963900_n

Beberapa bulan yang lalu ketika saya masih berada di kota yang menurut media dan pemerintah, salah satu provinsi yang paling toleran di Indonesia. Saya sering mendengar dari teman-teman yang sedang mencari kos, pertanyaan pertama yg selalu muncul ditanyakan oleh ibu pemilik kos, “mas asalnya darimana?”. Biasanya mahasiswa baru yang pertama datang dari kampung dengan polos menjawab “saya dari salah satu kota di daerah Indonesia Timur mbak”. Dengan sedikit wajah agak cuek, si ibu pemilik kos biasanya mengatakan “maaf mas kamar disini penuh semua”. Duka yang lain menjadi seorang anak kos, saat dari jauh seorang mahasiswa dengan wajah sangar, hitam pekat, dan keriting menanyakan kos. Sebelum pertanyaan dari mahasiswa ini selesai si pemilik kos sudah menjawab “maaf disini kamar penuh mas”.

Penolakan-penolakan seperti diatas bukan tanpa alasan, meskipun ada kamar kosong, tetapi si pemilik kos mengatakan kamar sudah penuh. Salah satu penolakan semacam ini terjadi, karena ditengah-tengah masyarakat sekitar kos beredar kabar daerah, mahasiswa dari kota Indonesia bagian timur suka buat onar. Bukan hanya itu saja terkadang mahasiswa yang hitam pekat, keriting, dan bersuara keras adalah orang yang mempunyai karakter buruk. Tak ada salah berandai-andai, seandainya pemilik kos berpikir tidak semua dari mahasiswa dari kota tersebut mempunyai karakter buruk. Pasti tidak adanya penolakan dan dendam terselubung. Kemalasan berpikir akan menimbulkan saling menghakimi dan membenci satu sama lain.

3 Kriteria Guru yang Disukai Anak Zaman Sekarang

iwanfoto

Bagi para blogger, reader masih ingat ngak bagaimana cara guru menghukum kamu ketika kamu tidak mengerjakan tugas atau ribut di kelas pada saat guru sedang mengajar di depan kelas. Ketika kamu masih SMA atau SMP. Pasti guru akan akan memukulmu dengan pengaris, di jemur di bawah sinar matahari.

Saya ingat beberapa tahun lalu, ketika saya masih menggunakan baju putih abu-abu. Kami satu kelas dihukum keliling lapangan sekolah sebanyak 5 kali sekitar pukul 12.00 oleh guru Bahasa Indonesia. Karena ribut di dalam kelas sambil menyanyikan lagu Bento. Bukan hanya itu saja, saya masih ingat sampai sekarang. Ketika SD kelas 4, saya dipukul dengan menggunakan penggaris kayu panjang oleh seorang guru Matematika karena tidak mengerjakan tugas.

Rupanya kekerasan yang dilakukan oleh para guru waktu sekolah dulu bukan hanya saya saja pernah mengalaminya. Sekitar 3 minggu lalu ketika saya dan beberapa teman nongkrong di sebuah burjo di daerah Gejayan, Sleman. Salah seorang dari teman sempat curhat tentang karakter anak zaman sekarang, hanya dikit dihukum guru sudah melapor ke orangtua. Kemudian, tanpa klarifikasi orangtua murid ke guru bersangkutan langsung melapor ke Polisi.

Satu persatu dari kami mulai cerita pengalamannya masa dulu. Ada teman yang dihukum hormat bendera selama 1,5 jam sambil kaki satu diangkat karena terlambat masuk sekolah. Ada juga teman ditampar guru karena ribut di kelas. Tapi, ia takut melapor ke orangtuanya, karena orangtuanya malah akan menamparnya lebih lagi.

Pendekatan melalui hukuman mungkin pantas diberlakukan pada zaman itu. Tapi, untuk zaman sekarang pendekatan dengan cara-cara hukuman tidak pantas diberlakukan. Salah satu alasannya adalah anak-anak zaman sekarang mempunyai mental yang lemah dibandingkan anak-anak zaman dulu. Dan juga zaman sekarang anak-anak dilindungi dengan undang-undang perlindungan anak.

Selama 3 tahun mengajar di sebuah komunitas yang mengajar anak-anak yang berusia 11-12 tahun. Saya mempunyai beberapa tips agar anak didik saya selalu mendengar saya, seperti:

Menjadi Pendengar yang Baik

Ketika anak-anak curhat kepada saya tentang cowok yang mereka taksir, film kesukaan mereka, game yang sedang mereka mainkan, dll, saya selalu mendengarkan mereka. Sampai cerita mereka berakhir, saya tidak akan komentar. Intinya saya menjadi pendengar yang baik buat mereka.

Beberapa bulan saya menjadi pendengar yang baik buat mereka. Mereka menghargai saya. Contoh kecilnya saja, ketika saya mengajar mereka mendengar dengan serius materi yang saya sampaikan.

Jangan Gunakan Cara Kekerasan

Saya masih ingat dulu ketika SMP kelas 2. Saya pernah dilempar dengan kapur oleh seorang guru mata pelajaran Fisika. Sebenarnya kesalahan saya sendiri, karena ketika guru fisika tersebut mengajar depan kelas. Malah, saya asik ngobrol dengan teman di samping saya.

Cara melempar kapur, menampar, mencubit, dan cara kekerasan lainnya tidak pantas diberlakukan untuk anak zaman sekarang. Karena dengan cara kekerasan anak-anak bisa menjadi pendendam, minder, dll.

Biasanya ketika seorang anak ribut ketika saya mengajar di depan kelas. Saya berhenti mengajar untuk sementara, terkadang meninggikan intonasi suara atau tidak saya datang kepada anak yang ribut, kemudian mengelus bahunya. Biasanya setelah itu anak yang sedang ribut akan berhenti dengan sendirinya.

Sebagai Guru Jadilah Teman Bagi Para Siswa

Menjadi guru bagi anak-anak sekarang. Seharusnya menjadi teman bagi mereka bukan menjadi seorang orang dewasa yang suka menengur, dan kelihatan seperti guru yang kelihatan gila hormat. Para siswa lebih suka guru yang menjadi teman buat mereka. Baik itu di dalam kelas. Maupun di media sosial, seperti Facebook, Instagram, dll.

Itulah 3 kriteria guru yang disukai oleh anak siswa zaman sekarang. Setiap zaman berbeda cara guru memperlakukan siswa-siswanya. Seorang guru yang berkualitas bisa beradaptasi dengan berbagai siswa yang berbeda karakter.

Jadikanlah Bersepeda Sebagai Life Style

Seorang profesor di School of Public Health, Minnesapolis yang bernama Robert Kane, M.D  dalam buku Rahasia Hidup Sehat Orang-Orang Tertua di Dunia karangan Dan Buettner menulis , cara memperpanjang usia adalah daripada melakukan olahraga demi olahraga itu sendiri, cobalah membuat perubahan pada gaya hidup Anda. Lebih memilih mengayuh sepeda daripada mengendarai mobil. Biasakanlah aktivitas tersebut sehingga menjadi gaya hidup Anda.

standar-web

Berhubungan dengan menganyuh sepeda sebagai gaya hidup. Saya sudah melakukannya sejak 3 tahun lalu. Awalnya saya sama sekali tidak tertarik untuk mengunakan sepeda. Pada saat itu, teman saya yang berasal dari Kabupaten Landak, Kalimantan Barat pulang libur ke kampung halaman. Ia menitipkan kepada saya sepedanya.

Selama teman saya liburan, dan kebetulan saat itu saya tidak ada kerjaan di kost. Saya menggunakan sepeda tersebut untuk mengunjugi beberapa tempat wisata yang ada di Yogyakarta, seperti Museum Affandi, Malioboro, dan Monumen Jogja Kembali (Monjali). Begitu juga ketika hendak membeli sarapan atau makan malam di warung makan. Saya selalu menggunakan sepeda.

Selama hampir 3 bulan menggunakan sepeda. Saya merasakan perubahan yang sangat draktis dalam tubuh saya. Beberapa penyakit yang sudah saya derita dari SMA kelas 1 sampai saya kuliah semester 4, seperti sesak nafas, tangan berkeringat, mudah cemas, dan denyut jantung tidak stabil. Saya merasakan sudah mulai sembuh.

Dulu, sebelum menggunakan sepeda. Saya selalu sesak nafas, tangan berkeringat, dan cepat cemas. Ketika saya berada di tempat dingin, seperti Kaliurang, Yogyakarta atau Kopeng, Kab. Semarang. Atau, pada saat saya mandi malam sekitar pukul 7. Tetapi setelah menggunakan sepeda selama 3 minggu. Ketika mandi malam atau berada di tempat-tempat yang bersuhu dingin. Tangan saya tidak basah atau saya cemas. Malah saya merasakan badan saya sangat bugar. Setelah teman saya yang mempunyai sepeda balik ke Jogja dan mengambil sepedanya.

Karena manfaat bersepeda mulai saya rasakan. Saya memutuskan untuk membeli sebuah sepeda. Sampai saat ini saya tetap mempertahankan komitmen bersepeda sebagai bagian dari life style saya (gaya hidup) dengan rasa enjoy dan happy. Selama 3 tahun ini. Untuk tetap mempertahakan gaya hidup bersepeda, saya mempuyai beberapa tips, yaitu:

Mengatur Waktu

Saat pertama-tama, saya berkomitmen untuk menjadikan bersepeda sebagai life style (gaya hidup) tidaklah muda.  Untuk mengatasinya. Saya harus mengatur waktu dengan baik. Misalnya, ketika jadwal kuliah pukul 08.00 wib. Saya sudah berangkat dari kost sekitar 7.15 wib, dan sampai kampus sekitar pukul 07.40 wb. Agar tetap konsentrasi dan tidak kelelahan di dalam kelas. Waktu yang sisa 20 menit sebelum masuk kelas, saya pergunakan untuk beristirahat atau minum teh atau kopi di kantin kampus. Begitu juga, jika jadwal kuliah pukul 12. 30 wib. Saya sudah berangkat dari kost pukul 11.00 wib. Waktu sisanya saya gunakan untuk membaca buku di Perpustakaan atau mengerjakan tugas.

Ketika mengunjugi sebuah Pameran di Jogja Museum Nasional, Yogyakarta, yang berjarak dari kost saya di Monjali sekitar 13 KM. Saya biasanya berangkat dari kost sekitar pukul 15.30 wib. Kemudian, balik ke kost sekitar pukul 18.30 wib. Tetapi sebelum memutuskan berangkat ke tempat pameran. Saya pastikan sebelumnya bahwa saya tidak mempunyai tugas kuliah yang harus dikerjakan. Supaya setelah pulang dari tempat pameran. Saya tidak bergadang untuk mengerjakan tugas-tugas, dan besok tidak terlambat masuk kuliah.

Begitu juga pada saat sudah kerja. Saya tetap menggunakan sepeda untuk bisa sampai ke Sekolah, tempat saya bekerja. Biasanya, untuk tidak terlambat masuk kerja, dan tidak terjebak kemacetan di Jalan. Saya biasanya berangkat dari kost pukul 06.30 wib. Sampai di tempat kerja sekitar pukul 07.15 wib. Waktu yang 15 menit. Saya biasakan untuk beristirahat sejenak.

dsc_0611

Komitmen

Menjadikan sepeda sebagai bagian dari gaya hidup tidaklah muda. Pada saat awal menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama saya sangatlah susah. Untuk menjaga komitmen itu tetap terjaga. Selama 1 minggu pertama, saya usahakan dalam satu hari untuk menggunakan sepeda satu kali. Kemudian, selama minggu kedua. Setiap harinya saya menggunakan sepeda 2-3 kali. Begitu seterusnya. Sampai saya tetap menggunakan sepeda kemanapun saya pergi. Meskipun jarak yang saya tempuh dengan bersepeda sangatlah jauh.

Selalu Enjoy dan Happy

Ketika pertama-tama rutin menggunakan sepeda. Saya merasa capek, terbebani, dan terkadang ada perasaan malu. Karena di Kampus jarang yang membawa sepeda. Tetapi lama kelamaan. Saya tidak malu. Malah yang ada rasa enjoy menggunakan sepeda setiap saat. Cara saya supanya tetap enjoy dan happy menggunakan sepeda. Saya menanamkan dalam diri saya, bahwa inilah gaya hidup saya. Saya ingin hidup sehat. Dan, ketika berhasil mengunjungi sebuah tempat dengan menggunakan sepeda. Ada rasa kepuasaan tersendiri dalam diri saya. Bahwa saya berhasil menaklukan tempat tersebut.

Selain itu yang membuat saya tetap enjoy dan happy, ketika mendayung sepeda di pagi hari di daerah yang banyak persawahannya. Saya merasakan paru-paru saya segar.

Ingat Target

Ketika rasa capek akibat menggunakan sepeda setiap hari. Dan, ingin rasanya menggunakan motor. Saya kembali ingat target utama saya. Saya bersepeda untuk bisa tetap sehat dan tetap bugar untuk setiap saat.

Untuk lebih rincinya manfaat-manfaat yang saya rasakan rutin bersepeda selama 3 tahun bisa dibaca dibawah ini:

1. Badan Terasa Ringan Dan Tidak Mudah Teserang Penyakit

Sebelum menggunakan sepeda. Ketikan kuliah pagi pukul 08.00 wib. Saya tidak bisa beranjak dari atas kasur. Saya sudah membuka mata sekitar pukul 07.00 wib. Tapi rasanya malas untuk bangun. Lalu terjadilah tawar menawar dalam hati untuk bagun 15 menit lagi. Tapi yang terjadi. Malah ketiduran sampai pukul 8 lewat. Akibatnya, saya tidak bisa kuliah.

Tetapi, setelah menggunakan sepeda. Badan saya terasa ringan. Setelah suara sholat subuh. Saya sudah bisa bangun. Sampai sekarangpun. Saya tetap teratur bangun pagi sekitar pukul 5. Manfaat yang saya rasakan bisa bangun pagi. Saya bisa mengatur aktivitas saya selama satu hari, saya tidak kena penyakit maag atau masuk angin karena terlambat makan, dan saya mempunyai waktu mempersiapkan bahan materi untuk diajarkan kepada para siswa di Sekolah.

Sejak rutin menggunakan sepeda. Saya jarang terserang penyakit. Mungkin hanya sekitar 10 kali dalam 3 tahun saya terserang penyakit flu dan demam. Ketika terkena penyakit saya tidak perlu minum obat. Saya hanya istirahat beberapa jam.

2. Beberapa Penyakit Sembuh

Sejak umur 16 tahun. Pernafasan saya tidak stabil setelah selesai berolahraga. Terkadang pada saat sedang bermain futsal atau basket selama 20 menit. Pernafasan saya mulai tidak teratur. Kemudian, saya merasakan bagian leher belakang saya seperti ditusuk jarum. Setelah itu saya merasakan pusing dan seperti ingin pingsan. Begitu ketika selesai mandi malam. Perasaan saya gelisah, tangan saya keringat tanpa sebab. Terkadang denyut jantung saya tidak stabil.

Setelah menggunakan sepeda sekitar 1 tahun lebih. Saya mulai merasakan manfaatnya dalam tubuh saya. Setelah beberapa tahun tidak bermain futsal. Saya diajak oleh teman bermain futsal. Selama bermain futsal, saya sama sekali tidak merasakan bagian leher saya ditusuk jarum. Atau, sesak nafas sama sekali. Begitu juga beberapa kali mandi malam. Saya sama sekali tidak merasakan tangan saya berkeringat dan tangan keringat.

3. Emosi Jadi Stabil dan Stress Jadi Hilang

Sebelum menjadikan mendayung sepeda sebagai gaya hidup. Saya sering cepat emosi. Ketika teman-teman berbeda pendapat dengan saya. Saya selalu marah. Begitu juga kalau saya stress karena tugas kuliah yang begitu banyak, nilai UTS saya rendah, uang kiriman terlambat datang. Intonasi suara saya tidak stabil terkadang keras. Beberapa menit kemudian lembut. Karakter saya kepada teman-teman. Terkadang sangat baik, dan beberapa menit kemudian saya emosi ke mereka.

Cara saya mengatasi stress. Ketika stress itu datang. Saya mendayung sepeda saya ke Malioboro. Dari kost saya ke Malioboro sekitar 10 KM atau pulang-pergi 20 KM. Selama mendayung sepeda rasa stress itu hilang begitu saya. Setelah pulang kost. Saya seperti merasakan pemikiran saya segar. Dan, intonasi suara saya sangat stabil. Begitu juga dengan emosi saya sangat stabil dan tenang.

4. Sikap Optimis

Selama saya menggunakan sepeda. Rasa optimis dalam diri saya terus bertumbuh. Contoh sederhana, saat saya sudah setengah perjalanan ke Malioboro. Rasa capek dan letih mulai terasa. Tetapi karena target untuk mencapai Malioboro. Dengan terpaksa dan rasa optimis saya harus bisa sampai ke Malioboro. Begitu saat pulang, ketika sudah magrib. Saat perjalanan pulang rasa capek dan lapar mulai terasa. Apapun resikonya. Saya harus mendayung sepeda saya. Supanya bisa sampai di kost.

5. Mendapatkan Banyak Inspirasi

Ada saja inspirasi atau ide yang saya dapat selama perjalan mendayung sepeda. Biasanya ide atau inspirasi itu muncul dari para penggendara motor, dari stiker-stiker yang ditempel di belakang badan mobil atau motor, berbagai karakter orang, dari reklame yang terpasang dimana-mana, dan dari para pedangang.

Memang untuk memulai tekat bersepeda sebagai bagian dari gaya hidup susah. Apalagi di kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dll. Cuaca yang cukup panas, polusi, kemacetan, dll merupakan beberapa tantangan yang banyak dihadapi oleh para pesepeda pemula.

Tetapi disitulah seninya dan tantangannya. Manfaat yang didapat dari bersepeda. Seimbang juga dengan tantangan yang didapatkan. Ayo mari jadikan bersepeda sebagai life style.