6 Keuntungan Meminjam Uang di Credit Union

pinjaman-dana-di-Magelang-1

Semakin hari uang sangat dibutuhkan. Sekarang ini banyak orang sangat membutuhkan uang untuk keperluan mendesak, seperti membeli obat-obatan, kebutuhan sekolah anak, dll. Terkadang beberapa perusahaan simpan-pinjam atau orang-orang yang mempunyai harta berlebihan memanfaatkan keterdesakan masyarakat dengan memberikan pinjaman uang dengan bunga pinjaman yang sangat tinggi. Terkadang akibat bunga pinjaman yang sangat tinggi, peminjam tidak dapat mengangsur tiap bulan atau minggu uang pinjaman yang sebelumnya telah dipinjam. Ia hanya sibuk membanyar bunga setiap bulan atau minggu.

Supaya calon peminjam uang tidak terjebak dalam permainan para pengusaha atau perusahaan yang memberikan pinjaman. Sebaiknya, seorang yang lagi membutuhkan uang tahu  lembaga-lembaga simpan-pijam yang tidak memberatkan para nasabah atau orang yang meminjam uang.

Salah satu lembaga simpan pinjam yang menurut saya sangat bagus adalah Credit Union (CU). Berdasarkan pengalaman teman-teman saya yang ada di Kalimantan, Yogyakarta, dan keluarga saya sendiri yang pernah meminjam uang di CU, ada beberapa keuntungan yang mereka peroleh dari meminjam uang di Credit Union (CU), yaitu:

1. Bunga Pinjaman yang Rendah

Jika di beberapa bank bunga pinjaman dari awal meminjam sampai akhir sekitar 2% keatas. Berbeda dengan yang berlaku di Credit Union (CU), bunga uang pinjaman diawal meminjam sekitar 1,85%, tetapi semakin bulan pembayaran bunga dan uang pinjaman, maka bunga uang semakin berkurang. Tidak menutup kemungkinan pada akhir pembanyar bunga pinjaman hanya sekitar 0, 5 %.

2. Tidak Mempunyai Batas Pembayaran

Di beberapa perusahaan atau bank yang memberikan pinjaman, seseorang yang telah meminjam uang harus membayar angsuran pinjaman bersama dengan bunga pinjaman tiap bulan sampai batas yang ditentukan. Di Credit Union (CU) agak sedikit berbeda aturannya, bagi seorang nasabah CU yang mampu membayar pinjamannya secara keseluruhan pada bulan ke 6 dari jangka angsuran selama 2 tahun. Pihak CU memperbolehkannya dan ia hanya membayar nominal uang yang ia pinjam tanpa harus membayar bunga secara keseluruhan.

3. Sebagian Bunga Pinjaman Masuk ke Dalam Rekening Nasabah

Keuntungan yang diperoleh dari meminjam di Credit Union adalah hasil dari keseluruhan bunga pinjaman yang dibayar oleh nasabah yang meminjam akan masuk ke rekening nasabah sekitar 2-3%.

4. Tidak Mendapatkan Berbagai Potongan

Beberapa pengalaman yang anggota keluarga saya alami adalah ketika meminjam di bank sekitar 100 juta. Nominal uang yang dicairkan oleh bank tidak sepenuhnya 100 juta, tetapi sekitar 95 juta. Pemotongan pinjaman karena pajak, pontongan dari dinas terkait, dll.

Berbeda dengan di CU, jika seorang nasabah meminjam 100 juta, maka uang yang akan didapatkan oleh nasabah yang meminjam uang 100 juta juga.

 5. Tidak Terdapat Berbagai Potongan

Beberapa bank yang saya lihat selama ini, banyak memberlakukan potongan. Misalnya seorang PNS meminjam kredit di sebuah bank daerah sekitar 100 juta. Total yang ia dapatkan tidak bersih seratus 100 juta rupiah mungkin hanya sekitar 96 juta rupiah, karena mendapatkan berbagai potongan dari bank, dinas terkait, dll.

6. Proses Pecairan Dana Cepat

Beberapa bulan yang lalu, saudara saya meminjam uang di CU senilai 20 juta. Proses pencairan dana cepat hanya sekitar 3-4 hari.

Itulah beberapa keuntungan meminjam uang di CU. Saya menulis ini bukan berarti saya menjelek-jelekkan perusahaan simpan-pinjam. Tetapi, saya hanya memberikan pertimbangan bagi masyarakat terkhususnya golongan menengah-kebawah.

 

 

Sumber foto : situsmagelang.com

 

 

 

Malas Berpikir

18882007_1594232257268181_2104511552857963900_n

Beberapa bulan yang lalu ketika saya masih berada di kota yang menurut media dan pemerintah, salah satu provinsi yang paling toleran di Indonesia. Saya sering mendengar dari teman-teman yang sedang mencari kos, pertanyaan pertama yg selalu muncul ditanyakan oleh ibu pemilik kos, “mas asalnya darimana?”. Biasanya mahasiswa baru yang pertama datang dari kampung dengan polos menjawab “saya dari salah satu kota di daerah Indonesia Timur mbak”. Dengan sedikit wajah agak cuek, si ibu pemilik kos biasanya mengatakan “maaf mas kamar disini penuh semua”. Duka yang lain menjadi seorang anak kos, saat dari jauh seorang mahasiswa dengan wajah sangar, hitam pekat, dan keriting menanyakan kos. Sebelum pertanyaan dari mahasiswa ini selesai si pemilik kos sudah menjawab “maaf disini kamar penuh mas”.

Penolakan-penolakan seperti diatas bukan tanpa alasan, meskipun ada kamar kosong, tetapi si pemilik kos mengatakan kamar sudah penuh. Salah satu penolakan semacam ini terjadi, karena ditengah-tengah masyarakat sekitar kos beredar kabar daerah, mahasiswa dari kota Indonesia bagian timur suka buat onar. Bukan hanya itu saja terkadang mahasiswa yang hitam pekat, keriting, dan bersuara keras adalah orang yang mempunyai karakter buruk. Tak ada salah berandai-andai, seandainya pemilik kos berpikir tidak semua dari mahasiswa dari kota tersebut mempunyai karakter buruk. Pasti tidak adanya penolakan dan dendam terselubung. Kemalasan berpikir akan menimbulkan saling menghakimi dan membenci satu sama lain.

3 Kriteria Guru yang Disukai Anak Zaman Sekarang

iwanfoto

Bagi para blogger, reader masih ingat ngak bagaimana cara guru menghukum kamu ketika kamu tidak mengerjakan tugas atau ribut di kelas pada saat guru sedang mengajar di depan kelas. Ketika kamu masih SMA atau SMP. Pasti guru akan akan memukulmu dengan pengaris, di jemur di bawah sinar matahari.

Saya ingat beberapa tahun lalu, ketika saya masih menggunakan baju putih abu-abu. Kami satu kelas dihukum keliling lapangan sekolah sebanyak 5 kali sekitar pukul 12.00 oleh guru Bahasa Indonesia. Karena ribut di dalam kelas sambil menyanyikan lagu Bento. Bukan hanya itu saja, saya masih ingat sampai sekarang. Ketika SD kelas 4, saya dipukul dengan menggunakan penggaris kayu panjang oleh seorang guru Matematika karena tidak mengerjakan tugas.

Rupanya kekerasan yang dilakukan oleh para guru waktu sekolah dulu bukan hanya saya saja pernah mengalaminya. Sekitar 3 minggu lalu ketika saya dan beberapa teman nongkrong di sebuah burjo di daerah Gejayan, Sleman. Salah seorang dari teman sempat curhat tentang karakter anak zaman sekarang, hanya dikit dihukum guru sudah melapor ke orangtua. Kemudian, tanpa klarifikasi orangtua murid ke guru bersangkutan langsung melapor ke Polisi.

Satu persatu dari kami mulai cerita pengalamannya masa dulu. Ada teman yang dihukum hormat bendera selama 1,5 jam sambil kaki satu diangkat karena terlambat masuk sekolah. Ada juga teman ditampar guru karena ribut di kelas. Tapi, ia takut melapor ke orangtuanya, karena orangtuanya malah akan menamparnya lebih lagi.

Pendekatan melalui hukuman mungkin pantas diberlakukan pada zaman itu. Tapi, untuk zaman sekarang pendekatan dengan cara-cara hukuman tidak pantas diberlakukan. Salah satu alasannya adalah anak-anak zaman sekarang mempunyai mental yang lemah dibandingkan anak-anak zaman dulu. Dan juga zaman sekarang anak-anak dilindungi dengan undang-undang perlindungan anak.

Selama 3 tahun mengajar di sebuah komunitas yang mengajar anak-anak yang berusia 11-12 tahun. Saya mempunyai beberapa tips agar anak didik saya selalu mendengar saya, seperti:

Menjadi Pendengar yang Baik

Ketika anak-anak curhat kepada saya tentang cowok yang mereka taksir, film kesukaan mereka, game yang sedang mereka mainkan, dll, saya selalu mendengarkan mereka. Sampai cerita mereka berakhir, saya tidak akan komentar. Intinya saya menjadi pendengar yang baik buat mereka.

Beberapa bulan saya menjadi pendengar yang baik buat mereka. Mereka menghargai saya. Contoh kecilnya saja, ketika saya mengajar mereka mendengar dengan serius materi yang saya sampaikan.

Jangan Gunakan Cara Kekerasan

Saya masih ingat dulu ketika SMP kelas 2. Saya pernah dilempar dengan kapur oleh seorang guru mata pelajaran Fisika. Sebenarnya kesalahan saya sendiri, karena ketika guru fisika tersebut mengajar depan kelas. Malah, saya asik ngobrol dengan teman di samping saya.

Cara melempar kapur, menampar, mencubit, dan cara kekerasan lainnya tidak pantas diberlakukan untuk anak zaman sekarang. Karena dengan cara kekerasan anak-anak bisa menjadi pendendam, minder, dll.

Biasanya ketika seorang anak ribut ketika saya mengajar di depan kelas. Saya berhenti mengajar untuk sementara, terkadang meninggikan intonasi suara atau tidak saya datang kepada anak yang ribut, kemudian mengelus bahunya. Biasanya setelah itu anak yang sedang ribut akan berhenti dengan sendirinya.

Sebagai Guru Jadilah Teman Bagi Para Siswa

Menjadi guru bagi anak-anak sekarang. Seharusnya menjadi teman bagi mereka bukan menjadi seorang orang dewasa yang suka menengur, dan kelihatan seperti guru yang kelihatan gila hormat. Para siswa lebih suka guru yang menjadi teman buat mereka. Baik itu di dalam kelas. Maupun di media sosial, seperti Facebook, Instagram, dll.

Itulah 3 kriteria guru yang disukai oleh anak siswa zaman sekarang. Setiap zaman berbeda cara guru memperlakukan siswa-siswanya. Seorang guru yang berkualitas bisa beradaptasi dengan berbagai siswa yang berbeda karakter.

Jadikanlah Bersepeda Sebagai Life Style

Seorang profesor di School of Public Health, Minnesapolis yang bernama Robert Kane, M.D  dalam buku Rahasia Hidup Sehat Orang-Orang Tertua di Dunia karangan Dan Buettner menulis , cara memperpanjang usia adalah daripada melakukan olahraga demi olahraga itu sendiri, cobalah membuat perubahan pada gaya hidup Anda. Lebih memilih mengayuh sepeda daripada mengendarai mobil. Biasakanlah aktivitas tersebut sehingga menjadi gaya hidup Anda.

standar-web

Berhubungan dengan menganyuh sepeda sebagai gaya hidup. Saya sudah melakukannya sejak 3 tahun lalu. Awalnya saya sama sekali tidak tertarik untuk mengunakan sepeda. Pada saat itu, teman saya yang berasal dari Kabupaten Landak, Kalimantan Barat pulang libur ke kampung halaman. Ia menitipkan kepada saya sepedanya.

Selama teman saya liburan, dan kebetulan saat itu saya tidak ada kerjaan di kost. Saya menggunakan sepeda tersebut untuk mengunjugi beberapa tempat wisata yang ada di Yogyakarta, seperti Museum Affandi, Malioboro, dan Monumen Jogja Kembali (Monjali). Begitu juga ketika hendak membeli sarapan atau makan malam di warung makan. Saya selalu menggunakan sepeda.

Selama hampir 3 bulan menggunakan sepeda. Saya merasakan perubahan yang sangat draktis dalam tubuh saya. Beberapa penyakit yang sudah saya derita dari SMA kelas 1 sampai saya kuliah semester 4, seperti sesak nafas, tangan berkeringat, mudah cemas, dan denyut jantung tidak stabil. Saya merasakan sudah mulai sembuh.

Dulu, sebelum menggunakan sepeda. Saya selalu sesak nafas, tangan berkeringat, dan cepat cemas. Ketika saya berada di tempat dingin, seperti Kaliurang, Yogyakarta atau Kopeng, Kab. Semarang. Atau, pada saat saya mandi malam sekitar pukul 7. Tetapi setelah menggunakan sepeda selama 3 minggu. Ketika mandi malam atau berada di tempat-tempat yang bersuhu dingin. Tangan saya tidak basah atau saya cemas. Malah saya merasakan badan saya sangat bugar. Setelah teman saya yang mempunyai sepeda balik ke Jogja dan mengambil sepedanya.

Karena manfaat bersepeda mulai saya rasakan. Saya memutuskan untuk membeli sebuah sepeda. Sampai saat ini saya tetap mempertahankan komitmen bersepeda sebagai bagian dari life style saya (gaya hidup) dengan rasa enjoy dan happy. Selama 3 tahun ini. Untuk tetap mempertahakan gaya hidup bersepeda, saya mempuyai beberapa tips, yaitu:

Mengatur Waktu

Saat pertama-tama, saya berkomitmen untuk menjadikan bersepeda sebagai life style (gaya hidup) tidaklah muda.  Untuk mengatasinya. Saya harus mengatur waktu dengan baik. Misalnya, ketika jadwal kuliah pukul 08.00 wib. Saya sudah berangkat dari kost sekitar 7.15 wib, dan sampai kampus sekitar pukul 07.40 wb. Agar tetap konsentrasi dan tidak kelelahan di dalam kelas. Waktu yang sisa 20 menit sebelum masuk kelas, saya pergunakan untuk beristirahat atau minum teh atau kopi di kantin kampus. Begitu juga, jika jadwal kuliah pukul 12. 30 wib. Saya sudah berangkat dari kost pukul 11.00 wib. Waktu sisanya saya gunakan untuk membaca buku di Perpustakaan atau mengerjakan tugas.

Ketika mengunjugi sebuah Pameran di Jogja Museum Nasional, Yogyakarta, yang berjarak dari kost saya di Monjali sekitar 13 KM. Saya biasanya berangkat dari kost sekitar pukul 15.30 wib. Kemudian, balik ke kost sekitar pukul 18.30 wib. Tetapi sebelum memutuskan berangkat ke tempat pameran. Saya pastikan sebelumnya bahwa saya tidak mempunyai tugas kuliah yang harus dikerjakan. Supaya setelah pulang dari tempat pameran. Saya tidak bergadang untuk mengerjakan tugas-tugas, dan besok tidak terlambat masuk kuliah.

Begitu juga pada saat sudah kerja. Saya tetap menggunakan sepeda untuk bisa sampai ke Sekolah, tempat saya bekerja. Biasanya, untuk tidak terlambat masuk kerja, dan tidak terjebak kemacetan di Jalan. Saya biasanya berangkat dari kost pukul 06.30 wib. Sampai di tempat kerja sekitar pukul 07.15 wib. Waktu yang 15 menit. Saya biasakan untuk beristirahat sejenak.

dsc_0611

Komitmen

Menjadikan sepeda sebagai bagian dari gaya hidup tidaklah muda. Pada saat awal menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama saya sangatlah susah. Untuk menjaga komitmen itu tetap terjaga. Selama 1 minggu pertama, saya usahakan dalam satu hari untuk menggunakan sepeda satu kali. Kemudian, selama minggu kedua. Setiap harinya saya menggunakan sepeda 2-3 kali. Begitu seterusnya. Sampai saya tetap menggunakan sepeda kemanapun saya pergi. Meskipun jarak yang saya tempuh dengan bersepeda sangatlah jauh.

Selalu Enjoy dan Happy

Ketika pertama-tama rutin menggunakan sepeda. Saya merasa capek, terbebani, dan terkadang ada perasaan malu. Karena di Kampus jarang yang membawa sepeda. Tetapi lama kelamaan. Saya tidak malu. Malah yang ada rasa enjoy menggunakan sepeda setiap saat. Cara saya supanya tetap enjoy dan happy menggunakan sepeda. Saya menanamkan dalam diri saya, bahwa inilah gaya hidup saya. Saya ingin hidup sehat. Dan, ketika berhasil mengunjungi sebuah tempat dengan menggunakan sepeda. Ada rasa kepuasaan tersendiri dalam diri saya. Bahwa saya berhasil menaklukan tempat tersebut.

Selain itu yang membuat saya tetap enjoy dan happy, ketika mendayung sepeda di pagi hari di daerah yang banyak persawahannya. Saya merasakan paru-paru saya segar.

Ingat Target

Ketika rasa capek akibat menggunakan sepeda setiap hari. Dan, ingin rasanya menggunakan motor. Saya kembali ingat target utama saya. Saya bersepeda untuk bisa tetap sehat dan tetap bugar untuk setiap saat.

Untuk lebih rincinya manfaat-manfaat yang saya rasakan rutin bersepeda selama 3 tahun bisa dibaca dibawah ini:

1. Badan Terasa Ringan Dan Tidak Mudah Teserang Penyakit

Sebelum menggunakan sepeda. Ketikan kuliah pagi pukul 08.00 wib. Saya tidak bisa beranjak dari atas kasur. Saya sudah membuka mata sekitar pukul 07.00 wib. Tapi rasanya malas untuk bangun. Lalu terjadilah tawar menawar dalam hati untuk bagun 15 menit lagi. Tapi yang terjadi. Malah ketiduran sampai pukul 8 lewat. Akibatnya, saya tidak bisa kuliah.

Tetapi, setelah menggunakan sepeda. Badan saya terasa ringan. Setelah suara sholat subuh. Saya sudah bisa bangun. Sampai sekarangpun. Saya tetap teratur bangun pagi sekitar pukul 5. Manfaat yang saya rasakan bisa bangun pagi. Saya bisa mengatur aktivitas saya selama satu hari, saya tidak kena penyakit maag atau masuk angin karena terlambat makan, dan saya mempunyai waktu mempersiapkan bahan materi untuk diajarkan kepada para siswa di Sekolah.

Sejak rutin menggunakan sepeda. Saya jarang terserang penyakit. Mungkin hanya sekitar 10 kali dalam 3 tahun saya terserang penyakit flu dan demam. Ketika terkena penyakit saya tidak perlu minum obat. Saya hanya istirahat beberapa jam.

2. Beberapa Penyakit Sembuh

Sejak umur 16 tahun. Pernafasan saya tidak stabil setelah selesai berolahraga. Terkadang pada saat sedang bermain futsal atau basket selama 20 menit. Pernafasan saya mulai tidak teratur. Kemudian, saya merasakan bagian leher belakang saya seperti ditusuk jarum. Setelah itu saya merasakan pusing dan seperti ingin pingsan. Begitu ketika selesai mandi malam. Perasaan saya gelisah, tangan saya keringat tanpa sebab. Terkadang denyut jantung saya tidak stabil.

Setelah menggunakan sepeda sekitar 1 tahun lebih. Saya mulai merasakan manfaatnya dalam tubuh saya. Setelah beberapa tahun tidak bermain futsal. Saya diajak oleh teman bermain futsal. Selama bermain futsal, saya sama sekali tidak merasakan bagian leher saya ditusuk jarum. Atau, sesak nafas sama sekali. Begitu juga beberapa kali mandi malam. Saya sama sekali tidak merasakan tangan saya berkeringat dan tangan keringat.

3. Emosi Jadi Stabil dan Stress Jadi Hilang

Sebelum menjadikan mendayung sepeda sebagai gaya hidup. Saya sering cepat emosi. Ketika teman-teman berbeda pendapat dengan saya. Saya selalu marah. Begitu juga kalau saya stress karena tugas kuliah yang begitu banyak, nilai UTS saya rendah, uang kiriman terlambat datang. Intonasi suara saya tidak stabil terkadang keras. Beberapa menit kemudian lembut. Karakter saya kepada teman-teman. Terkadang sangat baik, dan beberapa menit kemudian saya emosi ke mereka.

Cara saya mengatasi stress. Ketika stress itu datang. Saya mendayung sepeda saya ke Malioboro. Dari kost saya ke Malioboro sekitar 10 KM atau pulang-pergi 20 KM. Selama mendayung sepeda rasa stress itu hilang begitu saya. Setelah pulang kost. Saya seperti merasakan pemikiran saya segar. Dan, intonasi suara saya sangat stabil. Begitu juga dengan emosi saya sangat stabil dan tenang.

4. Sikap Optimis

Selama saya menggunakan sepeda. Rasa optimis dalam diri saya terus bertumbuh. Contoh sederhana, saat saya sudah setengah perjalanan ke Malioboro. Rasa capek dan letih mulai terasa. Tetapi karena target untuk mencapai Malioboro. Dengan terpaksa dan rasa optimis saya harus bisa sampai ke Malioboro. Begitu saat pulang, ketika sudah magrib. Saat perjalanan pulang rasa capek dan lapar mulai terasa. Apapun resikonya. Saya harus mendayung sepeda saya. Supanya bisa sampai di kost.

5. Mendapatkan Banyak Inspirasi

Ada saja inspirasi atau ide yang saya dapat selama perjalan mendayung sepeda. Biasanya ide atau inspirasi itu muncul dari para penggendara motor, dari stiker-stiker yang ditempel di belakang badan mobil atau motor, berbagai karakter orang, dari reklame yang terpasang dimana-mana, dan dari para pedangang.

Memang untuk memulai tekat bersepeda sebagai bagian dari gaya hidup susah. Apalagi di kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dll. Cuaca yang cukup panas, polusi, kemacetan, dll merupakan beberapa tantangan yang banyak dihadapi oleh para pesepeda pemula.

Tetapi disitulah seninya dan tantangannya. Manfaat yang didapat dari bersepeda. Seimbang juga dengan tantangan yang didapatkan. Ayo mari jadikan bersepeda sebagai life style.

Melahirkan Generasi Anak Pulau Nias Yang Tidak Buta Dengan Ilmu Pengetahuan

11136674-748317031949629-7215493455476927420-n-57439825917a61c5038b4569

Sebagian anak-anak Pulau Nias sedang membaca buku yang saya salurkan ke kursus Bahasa Inggris Gea.

Sebagian besar anak-anak yang besar di kota-kota besar di Pulau Jawa pasti pernah membaca komik Asterikx, cerita Tintin, novel lima sekawan, dan jenis komik lainnya. Buktinya, 2 tahun lalu pada saat menjadi menjadi relawan di Perpustakaan Bledug Mrapi, Yogyakarta. Teman-teman relawan yang berasal dari Pulau Jawa sering menceritakan tentang kisah petualangan Tintin. Saya kemudian menanyakan kepada salah seorang anak les saya tentang kisah petualangan Tintin. Dengan begitu bersemangat, ia menceritakan secara keseluruhan kisah cerita Tintin kepada saya.

Bagi anak-anak yang lahir dan besar di Pulau Jawa mendapatkan ilmu pengetahuan melalui buku-buku, komik-komik sangatlah muda. Bagi anak-anak yang memiliki orangtua yang mampu secara financial dapat memperoleh buku-buku yang mereka inginkan di toko-toko buku seperti Gramedia, Togamas, dll.

Sementara bagi anak-anak yang orangtuanya tidak mampu dapat meminjam buku-buku di Perpustakaan daerah, Perpustakaan kota, dan Perpustakaan yang dikelolah secara pribadi. Dengan akses mendapatkan buku-buku yang sangat muda inilah. Tidak menutup kemungkinan anak-anak yang besar di Pulau Jawa dengan mudah meraih cita-cita yang mereka impikan.

Akses mendapatkan ilmu pengetahuan melalui buku-buku yang diperoleh anak-anak di Pulau Jawa sangatlah berbeda 360 derajat dengan yang dialami oleh anak-anak Pulau Nias, Sumatera Utara. Sejak puluhan tahun sampai pada saat ini. Anak-anak Pulau Nias sangat susah mendapatkan buku-buku. Salah satu dampak anak-anak Pulau Nias jarang mendapatkan buku. Mereka tidak mengenal berbagai jenis model transportasi udara, laut, dll. Contoh kecilnya seperti yang dialami oleh anak-anak yang tinggal di Desa Hilina’a, (Desa yang hanya berjarak sekitar 20 kilometer, dari pusat kota yang paling maju di Pulau Nias)/ Kecamatan Gunungsitoli Mereka masih sulit membedakan pesawat penumpang, helikopter, kapal selam, dan transportasi udara lainnya.

Ketidakmampuan anak-anak Pulau Nias mendapatkan buku-buku bukan bukan tanpa sebab. Tapi ini disebabkan karena beberapa faktor, yaitu: di Pulau Nias yang terdiri dari 4 kabupaten dan 1 kota masih belum ada perpustakaan yang layak disebut sebagai perpustakaan. Mobil perpustakaan juga jarang berkeliling diseluruh pelosok Pulau Nias untuk memberi pinjaman buku-buku ke anak-anak.

Selain itu juga faktor perekonomian keluarga. Kebanyakan masyarakat di Pulau Nias berkerja sebagai penyadap karet. Penghasilan perbulannya yang didapat dari menderes karet tidak menentu. Jika musim hujan, keluarga yang berprofesi sebagai penyadap karet hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp. 500.000,- sampai Rp. 700.000,-. Sementara saat musim kemarau, penghasilan bisa mencapai Rp. 1.000.000,. Dengan penghasilan yang kecil ini. Orangtua di Pulau Nias harus memberi nafkah 4-5 orang anak-anak. Karena faktor penghasilan yang kecil inilah orangtua tidak dapat membeli buku-buku kepada anak-anaknya. Bagi kebanyakan orangtua di Pulau Nias dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai tingkat SMA merupakan sebuah keajaiban.

Masa Kecil Saya

Masa kecil saya 15 tahun yang lalu, tidak jauh seperti yang anak-anak Nias alami pada saat ini. Setiap hari sepulang sekolah, saya hanya bermain kelereng, menangkap ikan di parit, atau terkadang bermain pistolan-pistolan yang terbuat dari kayu di ladang tempat orangtua saya berkerja.

Saya bermain setiap hari bukan karena saya tidak suka membaca. Tetapi karena saat itu, saya sama sekali tidak mempunyai buku-buku yang bisa dibaca. Terkadang saya hanya membaca komik cerita rakyat yang saya pinjam dari teman saya. Kebetulan teman saya ini suka membeli susu dancow setiap bulannya. Biasanya dalam kotak susu dancow tersebut terdapat gratis buku cerita rakyat.

Tekat Untuk Mencerdaskan Anak-Anak Nias Melalui Buku

Singkat cerita, setelah saya tamat dari bangku SMA tahun 2010. Saya melanjut kuliah ke salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Yogyakarta. Dari Kota Pendidikan inilah saya mulai mengetahui mengapa anak-anak yang ada di Yogyakarta lebih pintar, kritis, dan kreatif. Dibandingkan anak-anak yang tinggal di kampung saya. Salah satu alasan yang saya ketahui faktornya adalah anak-anak yang mempunyai orangtua yang kaya dapat mendapatkan buku-buku yang mereka inginkan. Sementara, untuk anak-anak yang mempunyai orangtua yang kurang secara financial dapat meminjam buku-buku yang ia inginkan di Perpustakaan Kota Yogyakarta, Perpustakaan Daerah, dan Perpustakaan yang dikelolah secara mandiri.

Saya mempunyai pengalaman yang saya tidak bisa lupakan sampai pada saat ini. Pada saat berdiskusi di dalam satu kelompok pada semester satu. Teman-teman satu kelompok banyak memberikan masukan, ide, dan pendapat berdasarkan buku-buku yang mereka sudah banyak. Sementara saat itu saya hanya bisa diam sendiri. Karena saya sama sekali belum pernah membaca buku-buku yang mereka sebutkan. Saat saya tanyakan ke salah seorang teman yang berasal dari Semarang. “Kapan kamu baca buku ini?”. “Ia mengatakan waktu SMA kelas 1”. Saat itu saya terkejut dan merasa malu. Selama ini buku-buku yang saya baca selama saya sekolah di Nias. Tidak ada apa-apanya di bandingkan yang mereka sudah baca.

Tekad Untuk Mencerdaskan Anak-Anak Nias Melalui Buku

Dari rasa keprihatinan akan nasib anak-anak di kampung halaman saya alami terhadap minimnya ilmu pengetahuan yang mereka dapat melalui buku-buku. Dan juga pengalaman saya pada saat kerja kelompok pertama kali membuat hati saya sangat tersentuh. Maka saya berjanji dan bertekad dalam hati saya. Saya tidak ingin generasi anak-anak Pulau Nias sekarang ini dan masa depan buta akan berbagai ilmu pengetahuan.

Untuk mewujudkan impian saya. Sekitar pertengahan tahun 2013, saya membulatkan tekad untuk membagikan berbagai informasi dan ilmu pengetahuan kepada anak-anak Pulau Nias. Berhubung saat itu saya masih status mahasiswa dan tidak mempunyai penghasilan untuk membeli buku-buku bacaan untuk dikirim ke anak-anak di Pulau Nias. Saya berpikir untuk membuat fanpage yang bernama Gudang Ilmu (https://www.facebook.com/Gudang-Ilmu-295616043981676/.

Alasan saya sangat sederhana memilih membuat fanpage. Di seluruh Pulau Nias sampai ke pelosokpun ada jaringan internet telkomsel dan beberapa anak-anak SMP-SMA yang tinggal di Pelosok Pulau Nias seperti Alasa, Botomuzoi, dll mempunyai akun facebook. Difanpage inilah saya membagikan berbagai kutipan tokoh-tokoh dunia, beberapa informasi, dan tentu berbagai ilmu pengetahuan dari berbagai aspek ilmu.

Secara perlan-lahan misi saya untuk membagikan ilmu pengetahuan kepada anak-anak Nias mulai terbuka jalan. Secara tidak sengaja saya bertemu dengan Mas Prim. Seorang penulis dan pemilik perpustakaan anak Bledug Mrapi (http://bledugmrapi.blogspot.co.id/2012/05/koleksi-dongeng-bergambar.html) di Yogyakarta.

Kemudian seiring kami berkomunikasi satu sama lain. Saya menceritakan impian yang saya sedang usahakan untuk membuat anak-anak Nias bisa mendapatkan ilmu pengetahuan melalui buku-buku ke Mas Prim. Dengan tidak banyak berkomentar dan menanyakan panjang lebar tentang impian saya ini. Mas Prim langsung setuju membantu saya. Untuk pertama. Mas Prim membantu saya mengirim 200 buku-buku anak ke SD ke SD Tetehosi Foa, Pulau Nias.

10372326-807707275905959-6164733700291466856-n-5743a42023b0bde50460a69b

Beberapa sample buku yang dikirim ke SD Tetehosi Foa

Kemudian pada saat saya liburan ke kampung halaman saya Pulau Nias pada tahun 13 Juli 2014. Saya merelakan uang tabungan saya Rp. 1.500.000 untuk membawa buku-buku anak yang disumbangkan oleh Mas Prim ke anak-anak Pulau Nias.

Berhubung pada saat itu kuliah saya belum selesai. Saya menyalurkan buku-buku yang saya bawakan ke Komunitas Kandangbokoe Nias. Sebuah komunitas yang sudah 5 tahun ini konsisten menyalurkan dan meminjamkan buku-buku ke PAUD yang ada di seluruh pelosok Pulau Nias.

10402531-10201976490368677-312284022271548133-n-5743a01cd27a61a3084996e7

Beberapa buku yang disumbangkan untuk Komunitas Kandangbokoe

Selain menyumbangkan buku-buku yang saya bawakan dari Yogyakarta ke komunitas Kandangbokoe. Saya juga menyalurkan buku-buku tersebut ke perpustakaan Kursus Bahasa Inggris Gea. Sebuah kursus bahasa Inggris yang mempunyai misi mencerdaskan anak-anak Nias melalui Bahasa Inggris dan buku-buku bacaan. Selain itu Kursus ini juga memberikan beasiswa full kepada anak yatim atau piatu untuk belajar Bahasa Inggris.

10400044-10204761367021133-1873385199806368763-n-5743ae35d57e618304f8380c

Penyerahan buku-buku bacaan ke Direktur kursus B. Inggris Gea/java/facebook.com

Impian Saya Kedepan Untuk Kampung Halaman Saya.

Bulan depan saya akan menetap di Gunungsitoli, Pulau Nias. Meskipun demikian, saya tidak lupa dengan misi yang sudah saya mulai 3 tahun lalu. Saya terus lakukan dengan satu tujuan ingin membuat anak-anak Nias tidak buta akan ilmu pengetahuan. Untuk terus mencapai misi saya untuk pulau saya tercinta. Bulan lalu saya kembali mengirim buku-buku anak berbahasa Inggris dan bahasa Indonesia ke Gunungsitoli, Pulau Nias.

IMG_0234

Buku-buku yang saya kirim ke Pulau Nias bulan lalu

Memang impian saya ini tidak seberapa dibandingkan dengan teman-teman relawan yang lahir dan besar di Jawa. Mereka mempunyai teman-teman yang siap membantu. Jika teman-teman relawannya mengharapkan bantuannya. Sementara saya mulai dari nol segala usaha saya. Mulai dari mencari kenalan yang terkadang hanya mendengarkan curhatan-curhatan saya tentang nasib anak-anak Nias. Kemudian tidak ada tidak lanjutnya. Tetapi saya percaya itu semua proses untuk mencapai misi terbesar saya kedepannya.

Untuk mencapai misi saya untuk membuat anak-anak Nias tidak buta akan ilmu pengetahuan. Saya telah menyusun rencana jangka pendek dan rencana jangka panjang, yaitu:

Rencana Jangka Pendek

Selama kuliah, saya mempunyai beberapa puluh buku dengan berbagai topik. Di tambah saya rencana akan membeli beberapa puluh buku lagi dengan uang tabungan saya. Semua buku-buku tersebut, saya akan bawa ke Pulau Nias. Sampai di Gunungsitoli, Pulau Nias nantinya. Saya akan membuka perpustakaan kecil-kecilan di depan rumah saya.

Perpustakaan ini nantinya saya tunjukan untuk anak-anak di sekitar lingkungan rumah saya. Selain mereka membaca, 1 kali dalam seminggu saya akan membacakan mereka sebuah buku atau memutarkan sebuah film tentang anak-anak. Saya akan lakukan ini selama 6 bulan-1 tahun. Selain itu, pengalaman saya mengajar anak-anak di Yogyakarta. Saya gunakan untuk story telling di  beberapa TK di sekitar Gunungsitoli dan Nias, seperti TK Hope, TK Pembina dan beberapa paud yang ada di Pulau Nias.

Rencana Jangka Panjang

Setelah saya menetap 6-8 bulan di Pulau Nias. Saya akan membeli sebuah motor bekas dan membuat sebuah perpustakaan keliling. Setiap 2 kali dalam seminggu, saya akan mengunjungi dan meminjamkan buku-buku ke anak-anak Nias yang tinggal di beberapa desa di kota Gunungsitoli dan sebagian desa-desa di Kabupaten Nias. Sementara untuk ketiga kabupaten di Pulau Nias (Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Barat, dan Kabupaten Nias Utara). Saya berencana untuk bekerjasama dengan sekolah-sekolah. Setiap satu bulan sekali. Saya akan meminjamkan ke mereka buku-buku bacaan baru.

Untuk membiayai biaya operasional dari perpustakaan yang saya rencanakan ini. Saya rencana ambil dari 15 % dari gaji saya mengajar les bahasa Inggris dan menerjemahkan teks bahasa Inggris, yang merupakan pekerjaan saya jalani selama ini. Sementara untuk menambah koleksi buku. Saya menyisihkan sebagian tabungan. Selain itu juga, kedepan saya akan mengajukan beberapa proposal ke beberapa penerbit seperti Gunung Mulia, Gramedia, dll, yang selama ini saya tahu penerbit ini sering menyumbangkan buku ke perpustakaan-perpustakaan.

Itulah impian saya untuk memanjukan tanah kelahiran saya, Pulau Nias. Target saya untuk tanah kelahiran saya tidak ingin muluk-muluk. Saya hanya ingin 10 tahun kedepan. 4 Kabupaten yang ada di Pulau Nias bisa terhapus dari status sebagai daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Melalui prestasi-prestasi yang didapatkan oleh anak-anak Pulau Nias. Saya sadar untuk mencapai target itu tidak gampang. Tetapi dengan usaha, konsisten dengan misi yang sudah dilakukan selama ini, dan mengiklaskan sebagian materi, pikiran, dan tenaga. Saya yakin target untuk membuka mata anak-anak Pulau Nias akan ilmu pengetahuan dan menghapus 4 kabupaten dari kategori daerah 3T akan berhasil.

Untuk menutup artikel ini. Setiap pembaca yang membaca artikel ini. Terima salam hangat saya. Dari Pulau terluar paling barat Indonesia, Ya’ahowu.