Menelusuri Kehidupan Seorang Pemberontak

Saya tidak ingin jadi pohon bambu, tetapi menjadi pohok oak yang berani menentang angin.    Soe Hoe Gie.

Selama ini PKI selalu dianggap sebagai korban dari kebijakan Presiden Soeharto. Dalam setiap tulisan dan pendapat-pendapat Soe Hoe Gie. Kita bisa melihat PKI dalam versi lain.

Sampai sekarang ini. Saya belum pernah membaca opini dan biografi seorang mahasiswa seperti Soe Hoe Gie. Seorang yang berprofesi sebagai penulis dan dosen di Universitas Indonesia yang berani mengkritik orde lama dan orde baru. Dalam setiap tulisannya ia selalu berani, tegas, dan lugas menyampaikan pemikirannya dan kritiknya.

soe_hok_gie

Sumber foto: fitri2701.blogspot.com 

Kisah hidup sang pemberontak di angkat dilayar lebar dengan judul Gie. Dalam film diceritakan tentang tumbuhnya rasa pemberontakan dalam diri Gie sejak SMP. Saat itu, Gie tidak menerima nilai yang diberikan oleh guru sastranya. Ia mengangap guru sastra berlaku diskiriminasi kepadanya. Keponaan guru yang bodoh mendapatkan nilai yang lebih bagus dibandingkan nilai Gie.

Sejak kejadian di bangku SMP. Pemberontakan terus muncul didalam dirinya. Puncaknya saat Gie (Nicloas Saputra) kuliah di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia. Ia sering mengkritik sistem pemerintahan Demokrasi Pimpinan, dan Nasakom yang diciptakan oleh Soekarno.  Salah satunya kritiknya kepada Presiden Soekarno. Ia berpendapat sistem pemerintahan Soekarno tidak lebih dengan sistem kerajaan-kerajaan di Jawi pada masa lalu yang mempunyai tiga gelar yaitu: 1. Gelar Politik, kawula in tanah Jawi. 2. Militer, senahpati jala jawa. 3. Gelar agama, Syeh Sahdin ngabdul Rahman. Dalam bertindak, Presiden Soekarno mempunyai isteri banyak dan mendirikan kraton-kraton.

Kisah Asmara Seorang Pemberontak

Soe Hoe Gie tidak seeksterim Tan Malaka dalam pemerjuangkan nasib rakyat. Gie seperti mahasiswa pada umumnya. Pernah suka dan dicintai oleh 2 orang perempuan. Yang pertama yang ia cintai dan sampai akhir hayatnya pun ia tetap cinta adalah Ira (Sita Nursanti) seorang mahasiswi teman se-fakultas Gie.  Sayang Ira tidak pernah jujur dengan perasaanya kepada Gie.

Setelah lengsernya Soekarno. Kemudian digantikan oleh Soeharto. Sita (Wulan Guritno) yang merupakan adik fakultas Gie sangat mencinta Gie. Beberapa bulan pendekatan. Gie dan Sita menjalin cinta selama beberapa bulan. Sampai suatu saat Sita sadar bahwa Gie tidak benar-benar mencintainya.

Pada akhir cerita. Sebelum Gie mendangki Gunung Semeru. Ia mengirim surat kepada Ira. Di dalam suratnya. Ia mencurahkan segala perasaanya kepada Ira, dan ia sangat mencintai Ira dibandingkan Sita.

Jejak Politik Gie

Gie mempunyai filosofi dalam memperjuangkan rakyat “mahasiswa mempunyai keputusan walaupun sekecil-kecilnya. Di dasarkan pada keputusan-keputusan yang dewasa. Mereka harus menyatakan benar diatas kebenaran dan salah sebagai kesalahan. Dan tidak menerapkan kebenaran atas nama ormas, atau golongan apapun”.

Prinsip itulah yang saya lihat dalam film ini terapkan. Meskipun Gie bergabung dengan GMS (Gerakan Mahasiswa Sosialis) yang didukung oleh Partai Sosialis Indonesia (PSI) pimpinan Soemitro. Ia tetap pada prinsipnya. Jika pemerintah salah. Ia akan mengkritisinya. Salah satu contohnya. Pada saat PSI sudah masuk kedalam pemerintahan. Ia mengkritisinya.

Bukan hanya itu bisa menilai kosistenya. Jaka (Doni Alamsyah), salah seorang mahasiswa UI, orator, dan anggota Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) mengajaknya untuk gabung di dalam PMKRI dengan tegas ia menolaknnya. Begitu juga pada saat Han (Thomas Nawilis). Sahabatnya sejak kecil. Mengajaknya untuk gabung ke dalam Partai Komunis. Dengan tegas ia menolaknnya juga. Karena Gie berpendapat untuk memperkuat posisinya sebagai Presiden. Soekarno harus bergabung ke Partai Komunis.

Detik-Detik Kematian Sang Pemberontak

Sebelum sang pemberontak sejati ini mengakhiri perjuangannya. Ia sempat menulis sebuah opini di sebuah koran. Dalam opini yang berjudul “Di Sekitar Pembunuhan Besar-besaran di Pulau Bali”. Gie menulis tentang para anggota PKI banyak dibunuh di Bali. Di Pulau Dewata ini sekitar 80 ribu orang jiwa mati. Kaum yang nasakom dulunya setelah masa orba menjadi masa yang sangat kontra, membangkaran, pemerkosaan mereka yang dituduh gerwani.

Si pemilik filosofi Pohon Oek itu sudah tiada lagi. Ia meninggal pada bulan Desember 1960 karena menghirup zat beracun di Gunung Semeru. Indahnya kematiannya. Ia menghebuskan nafas terakhirnya dipangkuan sahabat karibnya, teman seperjuangannya masa kuliah dulu, Herman Lantang.

Secara keseluruhan film ini menurut saya sangat bagus. Karena menceritakan sisi lain dari sejarah Indonesia, tentang karakter Soekarno yang orang banyak belum tahu, tentang Soemitro, dan tentunya keadaan orde baru pada masa itu. Menurut saya isi yang disodorkan dalam film ini sangatlah kompleks. Mulai dari zaman orde lama dan sampai zaman orde baru. Secara tidak langsung pemahaman saya tentang surat perintah sebelas maret (supersemar) kepada Soeharto berubah.

3 Contoh yang Patut Ditiru dari Film 3 Idiot

Banyak mahasiswa Indonesia tidak tahu mengapa harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Beberapa mahasiswa melanjut ke perguruan tinggi karena suruhan orangtua. Ada juga karena gensi dengan teman-temanya. Tapi terkadang setelah beberapa semester kuliah. Merasa tidak betah dan akhirnya drop-out dari kampus.

Hampir sama dengan keadaan mahasiswa Indonesia. Mahasiswa di India mengalami permasalahan yang sama. Melalui film 3 idiot. Penulis skenario dan sutradara berusaha menjelaskan permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa/i India. Melalui 3 karakter utama dalam film ini. Ketiga pemeran utama dalam film ini adalah 3 orang mahasiswa yang dijuluki sebagai mahasiswa idiot. Mereka dikatakan idiot karena sering berbuat yang aneh-aneh. Walaupun selalu bertingkah aneh. Ketiga mahasiswa ini sukses dalam karirnya.

Ketiga mahasiswa idiot ini adalah Phunshukh Wangdu (Amir Khan) seorang mahasiswa yang orangtuanya bekerja sebagai tukang kebun di rumah pengusaha kaya, Ranchoddas Syamaldas Chanchad. Sewaktu Wangdu kecil Rachoddas mengetahui bakat dan kepintaraan Wangdu. Lalu dia membiayai Wangdu sekolah sampai penguruaan tinggi. Tapi dengan persyaratan Wangdu harus menganti namanya menjadi Rachoddas. Selain syarat itu, Wungdu setelah tamat kuliah. Dia harus menyerahkan ijasahnya kepada Ranchoddas Syamaldas Chanchad. Kedua idiot yang lain adalah Farhan Qureshi (R. Madhavan), dan Raju Rastogi ( Sharman Joshi). Keduanya mempunyai latar belakang yang berbeda. Raju Rastogi berasal dari keluarga yang kurang mampu. Ayahnya hanya seorang tukang pos. Sedangkan Farhan berasal dari keluarga menengah. Orangtua Farhan ingin sekali jika anaknya menjadi seorang sarjana teknik. Sementara Farhan sendiri tidak ingin menjadi sarjana teknik. Dia ingin menjadi seorang fotografer alam.

MV5BODQyNjY1MDg2M15BMl5BanBnXkFtZTcwMTg2MzkwMw@@._V1__SX1303_SY571_ (2)

Dari kiri-kanan : Farhan, Ranchoddas, dan Raju

Dalam film yang berdurasi kurang lebih 1 jam 20 menit ini. Penonton diajarkan tentang kepeduliaan terhadap sesama, kesetiakawanan, dan tentang bagaimana seharusnya sistem pengajaran yang baik. Rasa kepedulian dan kesetiakawanan Ranchoddas dan Farhan terhadap Raju. Terbukti pada saat Rachoddas membawa ayah Raju kerumah sakit dengan menggunakan scooter metic Priya. Beruntung nyawa ayah Raju terselamatkan. Dokter sempat mengatakan, jika seadainya Ayah Raju tidak dibawa dengan cepat ke Rumah Sakit. Maka nyawanya akan tidak bisa terselamatkan.

MV5BMjIxNTE4NzM1MV5BMl5BanBnXkFtZTcwMDk2MzkwMw@@._V1__SX1303_SY571_ (2)

Film yang disutradarai oleh Vidhu Vinod Chopra. Sedikit mengulas tentang sistem pendidikan. Menurut saya sistem pendidikan yang disinggung di film ini hampir sama keadaa dengan di Indonesia saat ini. Dimana seorang mahasiswa jurusan pertanian. Setelah tamat akan masuk ke bank. Begitu juga dalam film ini. Ranchoddas selalu kritis dan berkomentar tentang sistem pengajaran di ICE (Imperial College of Engineering).  Dia mengatakan bahwa sistem pendidikan di kampus ICE terlampau banyak mengahafal teori di bandingkan praktek. Pernah suatu waktu ia adu argumentasi dengan rektor ICE (Boman Irani). Ranchoddas mengkritisi tentang sistem pengajaran di kampus tersebut. Di depan rektor Ranchoddas mengatakan untuk apa belajar banyak teori. Tapi pada akhirnya setelah lulus bukanya menjadi ahli teknik. Malah menjadi pegawai bank di Amerika. Akibat kritikan inilah Raju di pindahkan ke kamar Chatur.

MV5BMjE1ODMzMjMwOF5BMl5BanBnXkFtZTcwMjg2MzkwMw@@._V1__SX1303_SY571_ (2)

Rektor ICE, Viru Sahastrebuddhe

Salah seorang mahasiswa yang pintar di ICE adalah Chatur. Dalam cara belajar Chatur menggunaka metode menghafal. Segala sesuatu dia hafal sampai titik komapun dia hafal. Rachoddas tidak suka metode pembelajaran seperti itu, dan juga dia tidak suka karakter Chatur yang sombong. Pernah suatu kali Rachoddas memberikan pembelajaran berharga kepada temannya Raju. Bahwa pembelajaran Chatur selama ini salah. Pada saat itu Chatur mewakili seluruh mahasiswa ICE menyampaikan pidato di depan menteri pendidikan India. Dia tidak tahu jika banyak kata-kata dalam pidatonya sudah diubah oleh Rachoddas. Saat Chatur menyampaikan pidatonya semua hadir ketawak dan rektor ICE sangat marah. Tujuan Rachoddas melakukan itu kepada Chatur. Untuk memberitahukan kepada Raju kalau metode pembelajaran Chatur salah.

Film ini sangat bagus menurut saya dan patut untuk di tonton oleh mahasiswa Indonesia. Malah jika memungkin film ini menjadi bahan tontonan wajib mahasiswa. Agar mereka termotivasi dan berani merencanakan kehidupannya yang lebih baik ke depannya.

 

Sumber foto: http://www.imdb.com