Travelling at the Cave of Indonesia’ Figures are meditated

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

No have plan to go in the cave of place of Indonesia’ figures often meditate in the past. But, our planning appears when we have got up on gliding place, Gantole. In early morning, we are being confuse where we go after it. A minute later, one of our friends suggests to us, perhaps we can go to Langse Cave, then we agree her planning. However, all of us do not know where its location. Then, one of us is searching on Google map, where the cave’s location. A few minutes later, we get it.

Using motorcycle, we leave from gliding place to Langse cave about 2 hours by motorcycle. We arrive in a house where we park our motorcycles, and there we pay Rp. 5.000 as parking cost. Later, we go to Langse Cave with walking through a biggest garden for one hour. Then, we arrive on the street which is its wide only half meter. Besides, on the right the street is ravine which under are biggest stones, and on the left the street is mountain side.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

When two my friends are passing small street carefully. You can look at under street right is sea

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

One of our friends thinks we might back, because she is afraid look at around the street. Because, many of us agree continue our travelling to the cave, so she agree too. We still go to the cave. Few meters at the straight street, we arrive at the dangerous street, must hold some roots which is bunched using old string, and walk carefully.

About 50 meter hold the string, we must use ladder to go down to the dangerous street. The ladder is highest, and some part of ladder are old. To restrain accident, we go down one by one carefully and hold in part of ladder. About half hour, finally we are able to pass it without among of us are accident.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 My friends expression when are being successful pass the ladder

After one half hour past the dangerous street, finally we arrive at Langse cave. Arriving in front of cave gate, we are welcomed by an old woman who has about 65-70 years old. Based on her information, Langse cave is ever used meditation by Some Indonesia’ figures, such as Sunan Kalijaga, Soekarno President (the first of Indonesia President), Soeharto President ( the second of Indonesia President), Diponegoro Price, and Sudirman General (the first general of Indonesia), even some legislative candidates often visit this place before general election.

Arriving into the cave, there are many kinds of flowers that are around the main room, and one of side cave is found small coconut, besides the room cave consist of main two room. Generally, the senior hermit meditate in its room, however, the junior hermit meditate outside the main room which is bright.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Addition, the cave looks mystic and dangerous are the wave are strongest, even according some fishermen said they are not brave to take their boats on side beach, because those will broke by waves.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

This is my experience that unforgettable memory with six my friends for travelling the place of meditation of Indonesia’s figures. I get a point of this travelling that is brave to pass small street which make my adrenalin to be higher.

Advertisements

Menjelajahi Gua Tempat Pertapaan Sunan Kalijaga, Jenderal Sudirman, Presiden Soekarno, dan Presiden Soeharto

Sebelumnya kami tidak ada rencana ke gua tempat para pertapaan para tokoh-tokoh besar Indonesia. Setelah menginap di tempat paralayang, Gantole selama satu malam. Pagi harinya, kami sempat bingung hendak kemana. Sampai salah seorang mengusulkan kita hari ini ke Gua Langse saja. Kamipun setuju ke Gua Langse. Masalahnya tak ada satupun diantara kami yang tahu gua tersebut. Kemudian, dengan bermodalkan Google Map. Kami mencari petunjuk jalan dari Gantole ke Gua Langse. Setelah mencari beberapa menit. Akhirnya kami menemukan petunjuk jalan dari Gantole ke Gua Langse.

Dengan menggunakan motor, kami berangkat dari tempat paralayang, Gantole ke Gua Langse. Sekitar satu jam setengah mengendarai motor. Akhirnya kami sampai di ujung jalan yang beralas semen. Setelah kami memarkir motor di salah satu rumah penduduk, dan membayar uang parkir Rp. 5.000.

Untuk menuju ke Gua Langse, kami harus berjalan kaki melewati hutan yang dipenuhi oleh tanaman pohon jati yang masih muda. Sekitar 1 jam melalui hutan. Kami sampai di sebuah jalan yang bebatuan yang lebarnya sekitar setengah meter. Sementara, bagian kanan jalan adalah jurang, yang dibawahnya adalah bebatuan karang yang sangat tajam. Sedangkan bagian kiri jalan adalah tebing batu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Salah seorang dari kami berpikir untuk kembali saja. Tetapi karena banyak yang setuju untuk tetap menuju ke Gua Langse. Kami putuskan untuk tetap ke gua. Beberapa meter melalui jalan tersebut, kami harus berpegangan pada akar-akar kayu yang sudah diikat dengan tali tambang dan rafia. Tapi, beberapa bagian tali sudah mulai kelihatan putus di beberapa bagian. Begitu juga beberapa bagian akar sudah mulai kelihatan lapuk. 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kira-kira 50 meter memegang rotan. Kami harus menggunakan tangga untuk menuruni jalan yang sedikit terjal. Tangga yang harus dilalui memiliki ketinggian sangat tinggi, dan beberapa bagian anak tangga ada yang sudah rapuh. Untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Satu persatu dari kami menuruni tangga secara perlahan-lahan, dan berpegang pada bagian tangga. Sekitar setengah jam, kami akhirnya semua bisa melewati tangga. Tanpa diantara kami ada yang terluka.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah satu setengah jam melewati jalan yang sangat terjal. Akhirnya tiba di Gua Langse. Sesampai di depan mulut Gua, kami disambut oleh seorang mbah yang usianya berkisar 65-70 tahun menyambut kami. Menurut penuturan si mbah Gua Langse pernah digunakan tirakat oleh Sunan Kalijaga, Pangeran Diponegoro, Soekarno, dan Jenderal Sudirman. Bahkan, jika pada saat pemilihan legislatif. Para calon anggota legislatif banyak bertapa di Gua ini.

Setelah masuk ke dalam gua. Kami banyak melihat berserakan bunga kembang tujuh rupa, kembang seungit, dan di salah saju ujung ruang gua terdapat beberapa kelapa muda. Kedalaman Gua langse sekitar 100-200 meter dengan 2 ruangan utama, di dalam gua terdapat tempat ritual. Biasanya tempat persemedian di dalam gua sangat gelap. Sedangkan, untuk para pertapa pemula bertapa di bagian luar ruang gua.

OLYMPUS DIGITAL CAMERAOLYMPUS DIGITAL CAMERA

Yang membuat gua ini bertambah mistis dan menakutkan adalah hempasan ombak-ombak yang sangat kuat. Bahkan menurut nelayan yang sempat berpasasan dengan kami mengatakan tidak berani meletakkan perahunya di bibir pantai. Pasti akan pecah karena hempasan ombak. Atau, terkadang perahunya terbawa arus.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Secara geografis Gua Langse berada di sebelah tenggara Pantai Parantritis dan Pantai Parangndok. Sekarang ini Gua Langse dikelolah oleh kelompok Penghayat Kepercayaan Purnomo Sidi dari Kedunglumbu Surakarta.

Itulah pengalaman saya dan 6 orang teman menjelajahi tempat para pertapaan para tokoh besar Indonesia. Yang saya dapatkan dari perjalaan ini adalah keberanian melewati jalan setapak yang membuat nyawa menjadi taruhannya. Meskipun capek dan dipenuhi rasa takut. Secara keseluruhan menjelajahi Gua Langse sangat mengasikan.

 

 

 

 

Wisata Candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul

Setelah saya dan mas Dwiki selesai dari candi Sambisari. Kami melanjutkan mendayung sepeda kami kearah candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul. Selama perjalanan kami disuguhi pemandangan bukit-bukit gunung yang sangat indah. Dikiri kanan-jalan yang kami lalui, terdapat hamparan tanaman tembakau dan sawah-swah yang siap di panen. Terkadang juga kami berpapasan dengan para petani yang baru selesai memanen hasil padinya. Saat berpasasan dengan mereka, kami saling bertegur sapa.

Tak terasa jarak dari candi Sambisari ke candi Plaosan Lor dan Plaosan Kidul sekitar 1 jam. Tapi perjalanan itu tidak terasa. Dengan keindahan alam yang sangat indah sepanjang perjalanan. Meskipun matahari sangat panas pada saat itu. Tapi angin sepoi-sepoi membuat kami tidak terasa capek sepanjang perjalanan. Oh ya, jika kita mengambil titik pertama perjalanan ke candi ini dari candi Prambanan. Maka jarak tempuh tidak sangat lama kira-kira jika menggunakan motor sekitar 10 menit atau dengan sepeda sekitar 20 menit sampai 30 menit. Saya menyarankan untuk menggunakan sepeda. Supanya bisa menikmati keindahan lereng merapi, hamparan pemandangan tembakau, dan kawanan burung-burung di sawah.

Setelah kami memarkir sepeda di depan candi. Kami terlebih dahulu menulis identitas kami di pintu masuk, sambil membayar uang masuk Rp. 3.000,00. Setelah itu kami masuk ke lingkungan candi. Candi pertama yang kami kunjungi adalah candi Plaosan Lor. Candi-candi ini terbuat dari batu gamping yang berasal dari letusan gunung berapi. Tapi sayang akibat gempa 2006 dan letusan gunung berapi tahun 2010. Banyak batu gamping yang rusak. Kemudian batu ini diganti dengan batu bata yang didesain sedemikian rupa sama dengan bentuk aslinya.

Pas pertama kami masuk kedalam candi. Kami disuguhi dengan bentuk pintu candi yang sangat indah. Semua pintu masuk ke dalam bagian candi terbuat dari batu gamping. Sehingga jika di lihat dari luar candi, candi ini seperti goa. Kemudian kami masuk kedalam bagian tengah candi yang pada saat itu agak gelap. Terdapat pendopo yang menurut saya berukuran sekitar 21 m x 19 m. Setelah itu pada bagian tengah candi terdapat 3 altar. Pertama altar utara yaitu stupa Samantabadhara dan figur Ksitigarbha, altar barat terdapat gambar Manjusri, dan yang terakhir altar timur yang terdapat gambar Amitbha, Ratnasambhava, Vairochana, dan Aksobya.

IMG_20151103_110932

Setelah kami berkeliling melihat setiap ornament yang ada dalam candi sekitar 40 menit. Kami berpindah ke candi kesebelahnnya. Candi ini disebut candi Plaosan Kidul. Candi ini memiliki pendopo yang di bagian tengah yang dikelilingi 8 candi. Dari delapan candi ini terbagi menjadi 2 tingkat. Tiap-tiap tingkat candi terdiri dari 4 candi. Dalam candi ini terdapat gambar Tathagata Amitbha, Vajrapani dengan atribut vajra pada utpala serta Prajnaparamita yang dianggap sebagai “ibu dari semua Budha”. Beberapa gambar lain masih bisa dijumpai namun tidak pada tempat yang asli.

IMG_20151103_191831

Selain dari 2 candi utama, candi Plaosan Lord dan candi Plaosan Kidul. Komplek candi terdapat stupa perwara yang terlihat di semua sisi candi utama dan juga candi perwara yang lebih kecil. Secara keseluruhan dilingkungan candi terdapat 116 stupa perwara dan 50 candi. Selain candi-candi. Dilingkungan candi terdapat tempat penyimpanan stupa-stupa dan beberapa bagian candi yang sudah dibongkor. Disini saya bisa menemukan informasi kalau candi Plaosan di bangun oleh Wangsa Sailendra yang menganut agama Budha. Saya bisa menembak candi ini merupakan pengaruh dari agama budha, karena bentuk ornament-ornamen yang berbentuk khas bunga, dan patung-patung Budha yang berada dalam ruang penyimpanan.

IMG_20151103_090134

Tak terasa kami berkeliling candi sekitar 2 jam lebih lamanya. Karena pada hari itu matahari sudah sangat terik. Kami memutuskan untuk pulang. Setelah membanyar uang parkiran Rp 2.000,00. Kami pun mengakhiri wisata candi untuk hari ini.

Wisata Candi Sambisari

Beberapa hari yang lalu saya dan mas Dwiki mengunjungi beberapa candi yang ada di sekitar daerah Kalasan, Yogyakarta. Sebelum mengunjungi candi-candi ini, kami terlebih dahulu janjian sehari sebelumnya menggunakan sepeda nantinya dan bertemu depan mabes angkatan udara Yogyakarta.

Harinya pun tiba, saya terlebih dahulu sampai depan mabes angkatan udara. Setelah saya menunggu sekitar 10 menit, mas Dwikinya akhirnya datang. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami menuju daerah Kalasan. Tapi di tengah perjalanan mas Dwiki sempat mengeluh “ kok kita tidak berangkat agak pagi eh Wan, ini sudah sangat panas”, saya cuma bisa berkata, untung kita janjian jam 6 Mas, kalau sempat yang mas Dwiki kemarin bilang jam 7 lebih panas lagi hehehe.Setelah mendayung sepeda sekitar 30 menit kami akhirnya tiba di sebuah candi. Sebuah candi peninggalan agama Hindu, namanya candi ini adalah candi Sambisari.

Setelah saya dan Mas Dwiki mermarkir sepeda dan menulis buku daftar kunjugan di pos satpam. Kami turun ke bawah untuk melihat bangunan utama candi. Candi Sambisari berbeda dengan candi pada umumnya. Candi ini tidak berada di atas permukaan, tapi sekitar 7 meter berada di bawah permukaan tanah. Dari cerita Mas Dwiki, candi Sambisari dulunya tertibun larva gunung merapi. Buktinya di sekitar candi masih banyak banyak terlihat jenis bebatuan gunung berapi . Motif candi ini banyak di pengaruhi agama hindu misalnya saja patung yang berkepala gajah dan ular. Dan juga di candi ini masih banyak di temui tulisan-tulisan Jawa kuno yang mirip bahasa sansekerta.

IMG_20151103_065804

IMG_20151103_072105

Setelah kami berkeliling melihat bangunan utama candi Sambisari. Kami pun melanjutkan perjalan ke ketempat penyimpanan bagian-bagian candi. Di sana kami bertemu dengan seorang arkeologi yang merawat bagian-bagian candi yang sudah ditemukan. Darinya saya banyak mendapatkan informasi. Kalau candi Sambisari sudah mulai di gali sejak awal tahun 1990an, dan sampai sekarangpun proses penggaliannya belum selesai. Selesai dari itu saya mendapatkan satu info yang sangat baru pertama saya dengar. Rupanya dalam peninggalan benda bersejarah seperti candi, ada yang namanya bisnis dan korupsi. Misalnya dalam penjualan bagian-bagian pantung ke luar negeri. Ketika seseorang atau masyarakat menemukan sebuah candi, Masyarakat hanya melaporkannya setengahnya ke dinas kebudayaan. Setengahnya tidak di beritahukan. Bagian candi yang tidak diberitahukan ini lah yang biasanya di jadikan bisnis untuk masyarakat setempat.

Setelah kami puas melihat-lihat sekitar candi dan tempat penyimpanan bagian candi. Kemudian kami memutuskan memutuskan melanjutkan mendayung sepeda kami ke candi selanjutnya yaitu candi Plasosan Lord an Plaosan Kidul

Agama di mata masyarakat Jepang

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat berbincang-bincang dengan seorang warga Jepang, namanya Mr. George. Ia adalah salah seorang peserta peace camp yang dilaksanakan di Yogyakarta. Acara Peace camp terlaksana atas kerjasama Young Men Christian’s Association (YMCA) Setouchi Jepang dengan Young Men Christian’s Association (YMCA) Yogyakarta. Kebetulan pada saat itu saya salah satu volunteer dalam acara acara ini. Sehingga saya bisa banyak berbincang-bincang dengan Mr. George. Selama camp berlangsung saya dan Mr. George banyak berbincang-bincang tentang banyak hal, tentang kebiasaan anak muda, budaya, dan juga tentang agama. Continue reading “Agama di mata masyarakat Jepang”