Waktu

Clock foto

Detik demi detik terus berdetak
Manusia bodoh terus diam dan memutar otak
Manusia bodoh hanya diam ditempat
Sambil menyebar konspirasi kau kafir, anjing, PKI di setiap sudut-sudu warung
Ucapan-ucapan itu bagi manusia produktif hanya sekedar angin berlalu

Tapi…

Manusia-manusia produktif sibuk bekerja dan berkarya
Manusia bodoh hanya bisa iri, dengki melihat mereka yang bekerja
Manusia bodoh tidak bisa menjual apa-apa
Selain jadi jongos kaum kapitalis
Kaum kapitalis yang butuh jasa mereka.

Manusia bodoh terus bodoh
Waktu terus berputar
Tapi kau manusia bodoh tetap menjadi babu kaum kapitalis
Manusia bodoh, kamu hanya menjadi virus di tengah masyarakat

 

Pukul : 1.30 wib

Gunungsitoli, 26 Mei 2017.

Advertisements

Taman Ya’ahowu, Sebuah Taman Favorit bagi Masyarakat Kota Gunungsitoli

IMG_0153

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat mengelilingi pusat Kota Gunungsitoli dengan sepeda tua saya. Ketika sampai di depan Lapangan Merdeka, saya belok kanan dan lurus terus kearah pelabuhan lama. Setelah sampai area pelabuhan lama, saya merasa takjub melihat deretan lampu yang mirip dengan deretan lampu yang ada di Jalan Kartini, Salatiga atau Jalan Malioboro, Yogyakarta. Pelan-pelan saya mendayung sepeda saya sambil memandang ke arah taman. Saat itu saya tertarik dengan bentuk taman yang sangat luas dan berada di dekat pantai. Saya masih ingat sekitar 10 tahun yang lalu bagaimana bentuk taman yang sekarang ini. Dulu disebelah kiri taman sangat banyak ditumbuhi berbagai rumput, dan pada sore hari terkadang berjejeran kambing yang sedang memakan rumput atau ibu-ibu yang menjemur pakaian. Tapi, apa yang saya lihat sekarang ini sangat berbeda 180 derajat. Di bagian kiri dan kanan jalan tidak lagi ditumbuhi dengan berbagai rumput yang sangat lebat atau kambing-kambing yang sedang berjejeran. Malah yang ada di sebelah kanan taman terdapat jongging treck, kantin, dan jalur bagi para pengguna kursi roda.

Taman Ya’ahowu merupakan sebuah taman yang menjadi tempat favorit. Setiap sore menjelang malam Taman Ya’ahowu selalu dikunjungi oleh masyarakat Nias atau mereka yang hanya berlibur atau urusan dinas di Pulau Nias.

Beberapa bulan terakhir, saya beberapa kali berkunjung ke Taman Ya’ahowu bersama dengan beberapa teman atau terkadang ketika capek mendayung sepeda mengelilingi Kota Gunungsitoli pada sore hari. Saya beristirahat di taman ini. Setelah beberapa kali berkunjung ke taman ini, Ada beberapa keunikan dan keunggulan taman ini dibandingkan taman-taman yang lain yang ada di Kota Yogyakarta, Semarang, atau Salatiga, yaitu:

Letak Taman Ya’ahowu yang sangat bagus
Jika di kota-kota yang pernah saya kunjungi sebelumnya, sebuah taman terletak di tengah kota dan dikelilingi oleh berbagai bangunan-bangunan. Tetapi, letak Taman Ya’ahowu sangatlah berbeda, taman ini terletak dekat pantai dan langsung berhadapan dengan lautan. Karena letaknya berada di dekat pantai, pemerintah Kota Gunungsitoli membangun sebuah tempat tempat pemancingan. Biasanya setiap sore menjelang malam tempat ini sudah banyak dipenuhi oleh masyarakat yang hobi memancing ikan.

Selain itu juga, banyak masyarakat mengunjungi taman ini karena letaknya berada dekat pantai. Pada malam hari angin sepoi-sepoi yang datang dari laut adalah salah satu yang bisa dirasakan oleh setiap pengunjung. Malah terkadang beberapa kali, ketika saya sedang duduk di taman ini. Saya melihat satu atau dua buah kapal penumpang atau kapal barang yang ke Sibolga melintas.

Tersedia berbagai fasilitas yang memadai
Beberapa kali saya mengunjungi Taman Ya’ahowu saya tidak kesulitan menemukan tempat duduk. Di taman ini menurut saya fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah Kota Gunungsi hampir sama dengan taman-taman yang ada di Lapangan Pancasila, Salatiga atau Tunggu Muda, Semarang. Di setiap jarak 1-2 meter terdapat kursi panjang yang saling berhadapan. Semua kursi-kursi yang ada di taman ini terbuat dari semen. Menurut saya mungkin pemerintah kota membuat semua kursi di taman in berbahan semen, supanya tahan lama alias awet hehehe…

Bukan hanya kursi-kursi fasilitas yang ada di taman ini, tetapi terdapat juga sebuah panggung utama yang terletak ditengah taman. Kalau saya pikir-pikir, bentuk panggung ini tradisional sekali karena bentuk atap panggung hampir sama dengan bentuk atap rumah adat tradisional Nias bagian utara yaitu berbentuk bulat. Begitu juga dengan bahan atap panggung terbuat dari daun rumbia (mulai sulit ditemukan). Biasanya panggung yang berada ditengah lapangan dipergunakan pada saat acara-acara, seperti Pesta Ya’ahowu, Peringatan hari kemerdekaan, dll

Bagi lansia yang menggunakan tongkat atau kursi roda tidak usah kwatir jika ingin berkunjung ke Taman Ya’ahowu, karena di sebelah kiri taman terdapat jalur jalan yang permukaanya sedikit miring supanya kursi roda bisa naik. Sedangkan bagi yang menggunakan tongkat tidak usah kwatir juga, karena di sebelah kiri dan kanan jalur jalan yang sedikit miring terdapat besi tempat para pengguna tongkat dapat berpegangang.

Jika merasa capek berjalan kaki dari ujung ke ujung, di Taman Ya’ahowu juga terdapat sebuah kantin di sebelah sudut kiri taman. Biasanya terdapat berbagai jenis minuman soft drink, kopi, the dan aneka makanan ringan. Atau jika merasa tidak cocok dengan makanan di kantin yang ada di Taman Ya’ahowu. Persis di depan taman berjejer warung makan yang menyediakan berbagai makanan atau bagi yang hanya sekedar minum. Bisa memesan air kelapa muda segar yang terdapat di sebelah ujung kanan taman.

Tempat yang luas dan asri
Selama saya tinggal di Pulau Nias beberapa bulan ini. Saya tidak pernah mendapatkan informasi taman yang lebih luas dari Taman Ya’ahowu yang ada di Pulau Nias. Jika saya perkirakan dari ujung ke ujung kira-kira panjang taman sekitar 500 meter dan lebar sekitar 40-50 meter. Saya melihat hampir keseluruhan taman sudah di tata dengan baik. Di bagian tengah taman, sebagian sebelah kiri, dan jalur pejalan kaki sudah disusun dengan batu-batu susun berwarna merah.
Menurut saya selain luas, kedepannya Taman Ya’ahowu akan sangat asri karena sudah ditanami berbagai pepohonan yang kira-kira ukurannya 10-15 meter dan juga terdapat berbagai rumput hijau. Tetapi sayang disebelah kanan taman belum diurus dengan baik. Belum terdapat rumput-rumput hijau.

Secara keseluruhan Taman Ya’ahowu sudah bagus dan tertata dengan rapi. Tapi sayang masih banyak saya melihat tangan-tangan jahil yang membuat graffiti di beberapa bagian tembok di dalam Taman, dan beberapa masyarakat yang berkunjung ke taman belum sadar tentang pentingnya kebersihan. Di beberapa tempat masih ada bekas botol gelas aqua yang berserakan, kantong plastik, dan bungkus makananan. Semoga kedepannya masyarakat sadar dan memelihara Taman Ya’ahowu dengan baik.

Time

Time is not back in the past,

It will go in the future

If you do not appreciate your  time every second,

Yourself will broke,

Although, decision and choice are in your hand guys…

If you want to be happy for you are being young..

It is ok….

However, your old age will be damage…

Travelling at the Cave of Indonesia’ Figures are meditated

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

No have plan to go in the cave of place of Indonesia’ figures often meditate in the past. But, our planning appears when we have got up on gliding place, Gantole. In early morning, we are being confuse where we go after it. A minute later, one of our friends suggests to us, perhaps we can go to Langse Cave, then we agree her planning. However, all of us do not know where its location. Then, one of us is searching on Google map, where the cave’s location. A few minutes later, we get it.

Using motorcycle, we leave from gliding place to Langse cave about 2 hours by motorcycle. We arrive in a house where we park our motorcycles, and there we pay Rp. 5.000 as parking cost. Later, we go to Langse Cave with walking through a biggest garden for one hour. Then, we arrive on the street which is its wide only half meter. Besides, on the right the street is ravine which under are biggest stones, and on the left the street is mountain side.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

When two my friends are passing small street carefully. You can look at under street right is sea

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
OLYMPUS DIGITAL CAMERA

One of our friends thinks we might back, because she is afraid look at around the street. Because, many of us agree continue our travelling to the cave, so she agree too. We still go to the cave. Few meters at the straight street, we arrive at the dangerous street, must hold some roots which is bunched using old string, and walk carefully.

About 50 meter hold the string, we must use ladder to go down to the dangerous street. The ladder is highest, and some part of ladder are old. To restrain accident, we go down one by one carefully and hold in part of ladder. About half hour, finally we are able to pass it without among of us are accident.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 My friends expression when are being successful pass the ladder

After one half hour past the dangerous street, finally we arrive at Langse cave. Arriving in front of cave gate, we are welcomed by an old woman who has about 65-70 years old. Based on her information, Langse cave is ever used meditation by Some Indonesia’ figures, such as Sunan Kalijaga, Soekarno President (the first of Indonesia President), Soeharto President ( the second of Indonesia President), Diponegoro Price, and Sudirman General (the first general of Indonesia), even some legislative candidates often visit this place before general election.

Arriving into the cave, there are many kinds of flowers that are around the main room, and one of side cave is found small coconut, besides the room cave consist of main two room. Generally, the senior hermit meditate in its room, however, the junior hermit meditate outside the main room which is bright.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Addition, the cave looks mystic and dangerous are the wave are strongest, even according some fishermen said they are not brave to take their boats on side beach, because those will broke by waves.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

This is my experience that unforgettable memory with six my friends for travelling the place of meditation of Indonesia’s figures. I get a point of this travelling that is brave to pass small street which make my adrenalin to be higher.

3 Kriteria Guru yang Disukai Anak Zaman Sekarang

iwanfoto

Bagi para blogger, reader masih ingat ngak bagaimana cara guru menghukum kamu ketika kamu tidak mengerjakan tugas atau ribut di kelas pada saat guru sedang mengajar di depan kelas. Ketika kamu masih SMA atau SMP. Pasti guru akan akan memukulmu dengan pengaris, di jemur di bawah sinar matahari.

Saya ingat beberapa tahun lalu, ketika saya masih menggunakan baju putih abu-abu. Kami satu kelas dihukum keliling lapangan sekolah sebanyak 5 kali sekitar pukul 12.00 oleh guru Bahasa Indonesia. Karena ribut di dalam kelas sambil menyanyikan lagu Bento. Bukan hanya itu saja, saya masih ingat sampai sekarang. Ketika SD kelas 4, saya dipukul dengan menggunakan penggaris kayu panjang oleh seorang guru Matematika karena tidak mengerjakan tugas.

Rupanya kekerasan yang dilakukan oleh para guru waktu sekolah dulu bukan hanya saya saja pernah mengalaminya. Sekitar 3 minggu lalu ketika saya dan beberapa teman nongkrong di sebuah burjo di daerah Gejayan, Sleman. Salah seorang dari teman sempat curhat tentang karakter anak zaman sekarang, hanya dikit dihukum guru sudah melapor ke orangtua. Kemudian, tanpa klarifikasi orangtua murid ke guru bersangkutan langsung melapor ke Polisi.

Satu persatu dari kami mulai cerita pengalamannya masa dulu. Ada teman yang dihukum hormat bendera selama 1,5 jam sambil kaki satu diangkat karena terlambat masuk sekolah. Ada juga teman ditampar guru karena ribut di kelas. Tapi, ia takut melapor ke orangtuanya, karena orangtuanya malah akan menamparnya lebih lagi.

Pendekatan melalui hukuman mungkin pantas diberlakukan pada zaman itu. Tapi, untuk zaman sekarang pendekatan dengan cara-cara hukuman tidak pantas diberlakukan. Salah satu alasannya adalah anak-anak zaman sekarang mempunyai mental yang lemah dibandingkan anak-anak zaman dulu. Dan juga zaman sekarang anak-anak dilindungi dengan undang-undang perlindungan anak.

Selama 3 tahun mengajar di sebuah komunitas yang mengajar anak-anak yang berusia 11-12 tahun. Saya mempunyai beberapa tips agar anak didik saya selalu mendengar saya, seperti:

Menjadi Pendengar yang Baik

Ketika anak-anak curhat kepada saya tentang cowok yang mereka taksir, film kesukaan mereka, game yang sedang mereka mainkan, dll, saya selalu mendengarkan mereka. Sampai cerita mereka berakhir, saya tidak akan komentar. Intinya saya menjadi pendengar yang baik buat mereka.

Beberapa bulan saya menjadi pendengar yang baik buat mereka. Mereka menghargai saya. Contoh kecilnya saja, ketika saya mengajar mereka mendengar dengan serius materi yang saya sampaikan.

Jangan Gunakan Cara Kekerasan

Saya masih ingat dulu ketika SMP kelas 2. Saya pernah dilempar dengan kapur oleh seorang guru mata pelajaran Fisika. Sebenarnya kesalahan saya sendiri, karena ketika guru fisika tersebut mengajar depan kelas. Malah, saya asik ngobrol dengan teman di samping saya.

Cara melempar kapur, menampar, mencubit, dan cara kekerasan lainnya tidak pantas diberlakukan untuk anak zaman sekarang. Karena dengan cara kekerasan anak-anak bisa menjadi pendendam, minder, dll.

Biasanya ketika seorang anak ribut ketika saya mengajar di depan kelas. Saya berhenti mengajar untuk sementara, terkadang meninggikan intonasi suara atau tidak saya datang kepada anak yang ribut, kemudian mengelus bahunya. Biasanya setelah itu anak yang sedang ribut akan berhenti dengan sendirinya.

Sebagai Guru Jadilah Teman Bagi Para Siswa

Menjadi guru bagi anak-anak sekarang. Seharusnya menjadi teman bagi mereka bukan menjadi seorang orang dewasa yang suka menengur, dan kelihatan seperti guru yang kelihatan gila hormat. Para siswa lebih suka guru yang menjadi teman buat mereka. Baik itu di dalam kelas. Maupun di media sosial, seperti Facebook, Instagram, dll.

Itulah 3 kriteria guru yang disukai oleh anak siswa zaman sekarang. Setiap zaman berbeda cara guru memperlakukan siswa-siswanya. Seorang guru yang berkualitas bisa beradaptasi dengan berbagai siswa yang berbeda karakter.