Wisata Candi Sambisari

Beberapa hari yang lalu saya dan mas Dwiki mengunjungi beberapa candi yang ada di sekitar daerah Kalasan, Yogyakarta. Sebelum mengunjungi candi-candi ini, kami terlebih dahulu janjian sehari sebelumnya menggunakan sepeda nantinya dan bertemu depan mabes angkatan udara Yogyakarta.

Harinya pun tiba, saya terlebih dahulu sampai depan mabes angkatan udara. Setelah saya menunggu sekitar 10 menit, mas Dwikinya akhirnya datang. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami menuju daerah Kalasan. Tapi di tengah perjalanan mas Dwiki sempat mengeluh “ kok kita tidak berangkat agak pagi eh Wan, ini sudah sangat panas”, saya cuma bisa berkata, untung kita janjian jam 6 Mas, kalau sempat yang mas Dwiki kemarin bilang jam 7 lebih panas lagi hehehe.Setelah mendayung sepeda sekitar 30 menit kami akhirnya tiba di sebuah candi. Sebuah candi peninggalan agama Hindu, namanya candi ini adalah candi Sambisari.

Setelah saya dan Mas Dwiki mermarkir sepeda dan menulis buku daftar kunjugan di pos satpam. Kami turun ke bawah untuk melihat bangunan utama candi. Candi Sambisari berbeda dengan candi pada umumnya. Candi ini tidak berada di atas permukaan, tapi sekitar 7 meter berada di bawah permukaan tanah. Dari cerita Mas Dwiki, candi Sambisari dulunya tertibun larva gunung merapi. Buktinya di sekitar candi masih banyak banyak terlihat jenis bebatuan gunung berapi . Motif candi ini banyak di pengaruhi agama hindu misalnya saja patung yang berkepala gajah dan ular. Dan juga di candi ini masih banyak di temui tulisan-tulisan Jawa kuno yang mirip bahasa sansekerta.

IMG_20151103_065804

IMG_20151103_072105

Setelah kami berkeliling melihat bangunan utama candi Sambisari. Kami pun melanjutkan perjalan ke ketempat penyimpanan bagian-bagian candi. Di sana kami bertemu dengan seorang arkeologi yang merawat bagian-bagian candi yang sudah ditemukan. Darinya saya banyak mendapatkan informasi. Kalau candi Sambisari sudah mulai di gali sejak awal tahun 1990an, dan sampai sekarangpun proses penggaliannya belum selesai. Selesai dari itu saya mendapatkan satu info yang sangat baru pertama saya dengar. Rupanya dalam peninggalan benda bersejarah seperti candi, ada yang namanya bisnis dan korupsi. Misalnya dalam penjualan bagian-bagian pantung ke luar negeri. Ketika seseorang atau masyarakat menemukan sebuah candi, Masyarakat hanya melaporkannya setengahnya ke dinas kebudayaan. Setengahnya tidak di beritahukan. Bagian candi yang tidak diberitahukan ini lah yang biasanya di jadikan bisnis untuk masyarakat setempat.

Setelah kami puas melihat-lihat sekitar candi dan tempat penyimpanan bagian candi. Kemudian kami memutuskan memutuskan melanjutkan mendayung sepeda kami ke candi selanjutnya yaitu candi Plasosan Lord an Plaosan Kidul

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s