Agama di mata masyarakat Jepang

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat berbincang-bincang dengan seorang warga Jepang, namanya Mr. George. Ia adalah salah seorang peserta peace camp yang dilaksanakan di Yogyakarta. Acara Peace camp terlaksana atas kerjasama Young Men Christian’s Association (YMCA) Setouchi Jepang dengan Young Men Christian’s Association (YMCA) Yogyakarta. Kebetulan pada saat itu saya salah satu volunteer dalam acara acara ini. Sehingga saya bisa banyak berbincang-bincang dengan Mr. George. Selama camp berlangsung saya dan Mr. George banyak berbincang-bincang tentang banyak hal, tentang kebiasaan anak muda, budaya, dan juga tentang agama.

Menyangkut agama, saya jadi ingat obrolan saya dengan Mr. George pada saat adek-adek karang taruna Padukuhan mengadakan acara bakar-bakar jagung. Sambil menunggu jagungnya masaknya, saya dan Mr. George saling berbagi cerita tentang agama. Saya sempat menanyakan beberapa hal tentang masalah agama ke Mr. George.

10616107_10202412342532747_4898051615906758961_n

Mr. George dulu waktu Sekolah Dasar (SD), saya sempat mempelajari di mata pelajaran Ilmu Pendidikan Sosial (IPS). Kalau kebanyakan masyarakat Jepang banyak menganut kepercayaan agama Shinto yaitu sebuah agama kuno. Sebuah agama yang masyarakatnya menyembah dewa matahari. Apakah itu benar Mr. George?

Ia benar, di Jepang masyarakatnya banyak menganut agama Shito. Selain Shito, banyak juga orang Jepang yang menganut kepercayaan agama Buddha.

Bagaimana di Jepang Mr. George, apakah sama dengan di Indonesia semua masyarakatnya mempunyai agama?

Tidak semua mempunyai agama. Ada beberapa orang Jepang yang tidak mempunyai agama, dan mereka sangat nyaman dengan itu.

Tapi, apakah pemerintah tidak menghukum orang-orang yang tidak mempunyai agama. Biasanya di Indonesia orang-orang seperti itu akan dihukum atau bahkan mereka di anak tirikan dalam pelayanan, baik itu kesehatan maupun dalam admistrasi pemerintahan Mr. George?

Ha? Di Jepang sama sekali tidak, karena pemerintah kami sama sekali tidak mengatur tentang agama. Seseorang ingin memeluk agama atau tidak memeluk agama itu hak mereka.

Wah, beda dengan di sini yang Mr. George setiap masyarakat harus mempunyai agama. Jika tidak mempunyai agama sama saja dengan anteheis (tidak berTuhan) dan pastinya orang seperti itu di beberapa kelompok masyarakat akan dikucillkan.

Biasanya di Jepang ada juga beberapa masyarakat beribadah di dua tempat ibadah agama yang berbeda. Terkadang mereka ke kuil budha dan juga ke gereja. Tergantung dari nyamannya seseorang ingin beribadah kemana. Sama sekali masyarakat tidak mempermasalkan hal itu karena buat kami itu udah hal biasa.

Wah berbeda sekali dengan disini Mr. George, kalau seseorang menganut satu kepercayaan misalnya agama Islam sudah tentu ia harus pergi beribadah ke mesjid. Dan orang penganut kepercayaan Islam tersebut tidak boleh beribadah ke gereja.

Kami juga tidak terlampau mempermasalahkan mengenai seseorang yang beribadah di dua tempat yang berbeda.

Inilah obrolan saya dengan Mr. George yang berprofesi sebagai salah seorang staf di YMCA Sitouchi, Jepang. Dari obrolan singkat ini saya sedikit bisa mengambil kesimpulan rupanya antara Negara maju seperti Jepang mempunyai perbedaan pola pikir tentang agama dengan negara maju seperti Indonesia. Setelah saya pikir-pikir keduannya ada benar dan tidaknya juga. Tinggal setiap dari kita mengambil kesimpulannya apakah kita nyaman dengan aturan yang ada di negara Jepang atau kita nyaman dengan aturan negara negara kita sendiri Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s